21 Juni 2010

CINTA BERBALUT DUKA GADIS BERJILBAB

Engkaulah yang awal memetik dawai cintamu, kau janjikan harapan yang tidak aku mampu tolak. Katamu, engkau mencintaiku hanya karena Allah. Sesuatu yang dalam iman ku, adalah puncak kesucian segala cinta. Sungguh aku percaya, engkau akan mengajakku merendah mahligai rumah tangga di bawah naungan hidayah Allah. Tapi kini…..engkau sendiri yang menghempaskan harapan itu ”. Zahra memperlihatkan outbox SMS nya yang panjang kepadaku. Pesan itu Ia kirimkan kepada dokter Abdillah, kekasih yang kini membuatnya memendam kecewa yang begitu dalam.

Zahrah adalah seorang gadis berjilbab besar yang bekerja sebagai Apoteker, di Apotik Atirah yang kini menjadi tempat usaha sederhana milikku. Sosok gadis sederhana, santun dan hanya bicara seperlunya ini, dalam penilaianku adalah sosok pribadi muslimah yang ideal. Dia adalah pendatang di kotaku, karena mengikuti Kakak nya yang juga adalah seorang dokter di RS. Zahrah sesuai namanya, begitu mengagumi Fatimah As Zahrah Putri tercinta Rasulullah. Perkenalannya dengan Abdillah yang bekerja sebagai Dokter Umum di sebuah Puskesmas Kecamatan, seminggu yang lalu terjadi kebetulan. Ketika itu dokter Abdi, datang ke apotik untuk memesan obat dan dilayani oleh Zahrah. Romansa percintaan singkat ini pun dimulai dari sini.

Dokter Abdi demikian aku memanggilnya, dalam persepsiku adalah pria yang terlihat begitu tawaddhu. Ia khas dengan celana panjang melewati tumit dan memelihara jenggot. Saya mengenal dokter Abdi dengan baik, karena Ibunya adalah teman kerjaku di kantor. Melihat gelagatnya yang saat itu gugup berhadapan dengan Zahrah, akupun iseng mengerjainya.

Dok, dari tadi saya liat dokter banyak bertanya kepada Zahrah. Sampai menanyakan umur segala. Maksudnya apa sih ? he he he tanyaku agak mengerjai.

“Akh, saya hanya ingin tahu,apakah saya harus memanggil Kakak atau Adik dokter Abdi diplomatis menjawab, tapi tingkah gugupnya semakin terlihat sambil senyum-senyum tak jelas.

Saya yang dari tadi menyaksikan dialog diantara mereka, juga merasa unik. Kok, ada dua orang yang lagi berbincang tetapi tanpa melihat muka apalagi bertatap mata. Mungkin inilah cara perkenalan yang dalam batasan syariat dialog antar sesama yang bukan muhrim. Tidak seperti saya dulu, semasa berpacaran dengan Ari yang kini sudah menjadi suamiku. Menatap mimik mukanya, memperhatikan gerak rayuan bibirnya walau itu bohong, ketulusan yang terpancar di matanya adalah ritme indah yang menggetarkan jiwaku yang lagi jatuh cinta. Gaya perkenalan antara dokter Abdi dan Zahrah bagiku hambar. Dapatkah mereka merasakan getaran-getaran itu ?

Zahrah menjawab pertanyaan-pertanyaan dokter Abdi sambil menunduk melihat buku yang dipegangnya, sementara Abdi bertanya sambil melihat ke samping kanan. Tak ada kalimat satupun dalam ukuranku adalah sesuatu yang romantis. Percakapan diantara mereka seolah wawancara seorang dokter terhadap pasiennya. Mulai dari umur, tempat tinggal, kelompok kajian, alumni kampus mana sampai buku yang dipegang oleh Zahrah ditanyakan judulnya dokter Abdi.

Dok, kenapa tidak menanyakan nomor teleponnya Zahrah. Itu yang lebih penting biar dialog ini berlanjut dengan sms kataku sambil terus menggoda. Dokter Abdi, hanya cengar – cengir dan Zahrah semakin tertunduk. Mawar cinta diantara mereka, kelihatanya mulai mekar. Cinta yang aneh menurutku. Aku yang pernah terkulai kasmaran karena pandangan pertama, merasakan gelagat yang tersirat diantara mereka. Aku bahagia saja, kalau ternyata jodoh diantara mereka bertaut dan berlajut menjadi ikatan pernikahan, dambaan semua insan yang ingin mengabadikan cintanya. Bukan apa, saya juga merasa berjasa jikalau di apotik milikku itu, menjadi tempat dimana benih cinta diantara mereka disemai. Aku ingin menjadi penghubung tujuan mulia itu.

Dokter Abdi pulang, setelah sebelumnya meminta aku mengirim sms nomor handphone Zahrah kepadanya. Akupun kembali ke rumah tanpa menanyakan bagaimana pendapat Zahrah tentang dokter Abdi. Sebagai sesame perempuan, aku tahu apa yang bergelayut dibenak Zahrah. Pasti dia ingin diberi kesempatan untuk memaknai getaran-getaran itu. aku tak ingin menanyakan. Sekembali ke rumah malam itu, saya mendapat serangan sms yang bertubi-tubi dari dokter Abdi yang masih jauh lebih muda umurnya dari saya. Ia mengutarakan perasaannya kepada Zahrah melalui saya, yang ia anggap sosok perempuan yang ideal baginya. Tanpa canggung ia mengutarakan semuanya, mungkin karena aku dianggapnya sebagai Kakak, sehingga semua diungkapkannya. Aku kini resmi menjadi agen asmara diantara mereka. Terakhir Ia mengatakan, bahwa dalam keyakinannya tidak Ia kenal tentang pacaran. Ia ingin langsung menikah saja, biar terbebas dari fitnah dan jerat nafsu syaitan.

Kak, Lina. Aku merasa cocok. Ta’aruf awalku sudah sempurna. Tinggal kini aku harus istikhara demi memantapkan niatku kepada Zahrah. Tolong Kak Lina menyampaikan kepadanya bagaiman responnya terhadapku. Saya tidak mampu menunggu lama jawabanya Waktu itu, sudah menunjukkan pukul 00.03 tengah malam, ketika sms terakhirnya aku terima. Semua sms dr. Abdi aku forward ke Zahrah, dan aku minta ia tidak membalasnya karena besok aku akan bertemu langsung dengannya. Zahrah menurutinya dan tak merespon apapun. Saya tahu malam itu, baik Zahrah maumpun dokter Abdi sulit terlelap. Indahnya sesuatu yang terbayang, harapan yang masih tersisa cemas dan rancangan untaian kata yang akan mereka utarakan kepada masing-masing esok, adalah mungkin penyebab mengapa malam terasa begitu panjang.

Tak aku duga, kisah ini berlangsung begitu cepat. Esoknya, usai apel pagi di kantor. Ibu dari dokter Abdi mendatangiku. Ia menanyakan sosok gadis impian putranya. Bahkan ia memintaku untuk berbicara dengan Zahrah perkiraan uang belanja pesta walimah dan mahar yang dia inginkan. Wah, baru sehari perkenalan, tapi seolah minggu depan pesta akan berlangsung. Sepulang dari kantor aku menceritakannya kepada Ari suamiku.

Cinta itu memang aneh sayang…, dokter Abdi dan Zahrah itu pasangan yang tepat, jikalau dilihat dari ketekunan mereka ber ibadah. Pasti mereka telah menemukan petunjuk dalam sujud istikhara nya kata suamiku ketika itu. Ia pun mendorongku untuk terus melakukan langkah mediasi. Baginya, mempertemukan jodoh itu adalah mulia, karena pernikahan itu adalah ibadah jalan menyempurnakan separuh agama yang masih tersisa di masa lajang. Akupun semakin bersemangat. Aku bertemu dengan Zahrah dan menceritakan semuanya. Zahrah yang masih terlihat kebingungan itu, berusaha sembunyikan perasaannya kepadaku.

Tidakah dokter Abdi salah memilihku Kak ? baru sekali ia bertemu denganku. Saya yakin, ia belum melihat rupaku yang jelek ini. Tapi kalau demikian adanya, berarti dokter Abdi adalah orang yang tidak mengukur perempuan karena tampak fisiknya demikian ungkap Zahrah, merendah.

Za, kau terlalu merendah. Lelaki siapa di dunia ini yang tak membanding calon pasangannya dari wajah. Itu manusiawi. Penilaian dokter Abdi terhadapmu, sama denganku. Selain karena Zahrah, muslimah yang tawaddhu, juga karena kamu memiliki wajah yang manis, begitu katanya. Sebenarnya aku sedikit melebih-lebihkan, walau harus diakui Zahrah cukup ideal lah dari wajahnya yang begitu bersahaja. Tak apalah membuat orang bahagia. Zahrah nampak berbinar dan begitu berbunga-bunga. Zahrah hanya menerima perkataanku dengan senyum malu. Ia pun berjanji akan menyampaikan maksud dokter Abdi itu kepada keluarganya.

Singkat cerita, tiga hari telah berlalu. Sebagai penghubung saya tidak dilibatkan lagi. Mereka asyik saling mengagumi lewat short massage, sesekali dokter Abdi juga ke apotik dengan alas an membeli obat padahal aku tahu alas an itu klise. Dua apotik dia lalui dari tempat prakteknya. Dia sebenarnya hanya ingin bertemu dengan pujaan hatinya. Tapi, saya sih asyik-asyik saja. Sekali meng’gayus’ sampan dua buah pulau terlampaui. Mereka bahagia, akupun dapat omset. He he he.

Malam itu, tiba-tiba Zahrah memintaku untuk bertemu. Aku sebenarnya malas, mendengar cerita jatuh cinta nya yang berbunga-bunga itu, tetapi dia agak memaksa. Akupun menuju apotik, aku penasaran juga, apa gerangan isu hot terbaru yang dia ingin utarakan. Di ruang dokter praktek dokter apotik ku, kudapati dia tertunduk lesuh. Zahrah menangis, semakin kedekati dan kutanyakan masalah apa yang menimpanya. Semakin ia terseduh, dia hanya memberikan hanphone nya dan memperlihatkan sms dokter Abdi kepadanya.

Zah, mungkin ta’arufku salah. Keluargaku tak berkenan aku bersanding denganmu. Demi Allah maafkan aku…. Aku terperanjat membaca sms dari dokter Abdi tersebut. Aku marah ! semudah itukah dia menghempaskan gadis baik-baik seperti Zahrah ini. Tidakkah dia yang memulai semua ini. Lantas ada apa dokter Abdi mengatakan bahwa cintanya kepada Zahrah hanya karena Allah. Pernahkah keluarganya beremu dengan Zahrah. Tidak, mereka belum pernah bertemu. Lantas mengapa mereka tidak sepakat, ketika Zahrah sudah menyampaikan maksud dokter Abdi ke keluarganya. Hatiku berkecamuk. Sebagai sesama perempuan, aku merasa terhina oleh sosok dokter berperawakan Ustadz, tapi mempermainkan perasaan perempuan itu. bukankah dosa, memberi seseorang harapan, kemudian secara tiba-tiba dia sendiri menghempaskannya. Ini tidak bisa diterima.

Kak, saya tidak tahu apa yang harus aku sampaikan ke Ibu ku. Sekedar Kak Lina Tahu, seorang pria baik-baik juga datang melamarku dua hari yang lalu. Orang tuaku menolaknya, karena dokter Abdi. Aku mencintainya, tapi kini….” Air mata Zahrah, semakin deras. Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Akupun berinisiatif menghamburkan sumpah serapahku ke dokter Abdi. Kuambil HP dan mulai mengetik sms. Agu geram, tapi berusaha sesantun mungkin berkomunikasi dengannya. Aku katakana semua kecewaku, walau diujung kalimatku aku masih meminta perubahan sikapnya, agar ia mau meralat kata-katanya. Aku ingin dan Zahra pun ingin, ini berlanjut.

Maaf kan saya Kak Lina, saya telah shalat Istikharah dan memutuskan ini dengan bulat jawab sms dokter Abdi, yang kini membuatku semakin geram. Cih, mengapa tidak sebelum kau menyatakan cintamu istikharah kau laksanakan. Mengapa setelah harapan itu terpahat, kau memutuskan hengkang dari apa yang telah aku mulai. Inilah yang membucah kecewa dalam diriku. aku tidak ingin membalas sms nya, karena tak ingin aku membuat dosa kepada lelaki brengsek itu. lelaki yang memang betul melaksanakan syariat dengan rutin, tetapi tidak membumikannya sebagai Rahmatan lil Alamin. Tidakkah Rasulullah, Sang pencinta sejati sangat menghargai perempuan. Mengapa dia tidak. Akh,

Za, kau harus sabar adik. Saya tahu kau haqqul yaqin percaya jodoh adalah rahasia yang hanya Allah mengetahuinya. Kau telah berusaha dan berdoa, tapi Allah pasti tahu apa yang terbaik buat hamba Nya. Ini ujian buatmu, sabarlah. Tak mampu rasa ini untuk tidak turut bersedih, aku menangis.

Betul Kak, aku sadar bahwa kehormatanku sebagai perempuan, pantang kembali mengemis kepada nya. Biarkan cintaku ini, kuserahkan kepada Allah, yang karena hanya Allah SWT alas an penerimaan cintaku kuberikan kepada nya. Semoga dokter Abdi mendapatkan jodoh yang lebih baik dari aku, yang ternyata aku buta mencintai nya kata Zahrah sambil menghapus air matanya. Ia berusaha tegar, tapi nampak betul terlihat guratan kesedihan di wajahnya. Wajah yang hatinya terluka.

Ya Allah, saya tahu Engkau adalah sumber segala cinta. Engkau Maha Pengasih. Maha Adil, Maha Segala Maha dari semua kebaikan. Berilah keadilan kepada Zahrah, perempuan yang hanya menyambut cinta dengan tulus tanpa bertanya, tapi dihempaskan oleh lelaki tanpa diberi kesempatan untuk menjawab doakau mnyusup disanubariku yang dalam. Doa empati buat Zahrah, gadis yang membungkus kehormatannya dengan jilbab yang mulia, yang karena cinta, air matanya berderai penuh duka yang mengiris bak sembilu. Tuhan dengarlah Aku, kumemohon kepada Mu.


Andi Harianto

Sebuah kisah nyata, dari nama-nama rekaan yang aku buat. Diceritakan oleh Istriku, kekasihku, yang dari awal aku mencintanya juga karena Allah SWT, tetapi tidak semunafik seperti cinta yang diberikan dokter Abdillah terhadap Zahrah. Kisah ini, masih sehari berlalu…..mungkin ada episode berikutnya yang lebih menarik dan layak aku kabarkan ke sahabat-sahabat kompasianerku. Entah, apakah Abdillah, meralat kata-kata nya. Kita tunggu……..

Tulisan Ini juga Pernah di terbitkan di Kompasiana

Tags: cinta, gadis berjilbab, jilbab, Andi harianto

Mengapa Tak Sempat Terucap


( Tersulam di renda abadi )

Kemarin, diajari aku menggenggam rembulan.

memetik hikmah, dicahaya purnama dan temaram gulitanya…….

Ada yang ingin meniup matahari

Ada yang ingin cintanya tak mendua

Ada yang ingin tersampaikan hasratnya

Aku sayang kepadamu

Siapakah gerangan penciptamu

Duh, Aku takut kekasihku.

Maafkan aku !

Cintaku hanya kepada Allah yang tak pernah mendua

Laa Ilaha Illallah………….

Cinta sang Pencipta, segalah apapun yang saling mencintai.

Maafkan aku kekasihku

Aku telah gila dengan semua cintamu

Sedih aku memandang iba-mu

Rindumu

dan semua kata yang tak sempat terucap

**************

Ini dulu, ketika cinta berbunga merona

ketika kekasih, ingin merengkuh semua cinta yang bukan miliknya

Kutulis, di kumuh kamar kostku, 26 mei 2007………….

Andi Harianto


Tags: Andi Harianto, cinta, puisi

05 April 2010

MARK E. ZUCKERBERG PENCIPTA FACEBOOK DI KEJAR ANJING

Mark E. Zuckerberg Pencipta Facebook, seorang anak muda berumur 25 tahun, jenius dan sangat kaya. Kekayaannya saat ini bahkan mengalahkan bintang infotaiment dunia Oprah Winfred. Kini kita semua telah memanfaatkannya untuk berbagi cerita, gagasan dan perasaan. Saat ini saya ingin berterima kasih buat anak muda luar biasa itu karena telah membuat dunia ini tidak selebar daun kelor.

Memberi manfaat kepada sesama tak hanya berbuah amalan jaria’h, tetapi pula menggali sumber potensi kekayaan yang melimpah ruah. Hobbi. Yah, Mark hanya menjadikan kesenangannya mengutak-atik computer menjadi mata pencaharian. Demikian halnya para pelukis, sastrawan, Penulis, pembicara, pemain bola, sutradara, actor, aktris, dan semua pekerja kreatif lainnya bekerja karena hanya menjalani hobbinya. Duh, betapa kesenangan, dikerjakan dengan rasa bahagia, menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. Aku tersudut, terjewer oleh khayalku sendiri. Betapa kemarin, beberapa tahun yang lalu, aku terjerambab dalam diam menghina duniaku, yang aku tuduh biang kerok kemiskinan.

Aku menyalahkan pemerintah, musim yang tak mendukung, orang-orang sekitarku dan bahkan lingkungan dalam diriku aku vonis sebagai biang kegagalan. Sebuah vonis yang hanya mengeruk sisa-sisa kepercayaan dalam diri, dan menyisahkan pengasingan yang sepi menyakitkan. KESENANGAN yang jikalau kemudian diparipurnakan menjadi KEBAHAGIAAN, sesungguhnya sesuatu yang muda. Melakukannya saja sudah menghasilkan kelapangan. Belum lagi, jikalau sesuatu yang potensial itu di gerakkan menjadi sesuatu yang kinetik dengan olahan-olahan manajerial yang apik. Maka yakin, energinya akan mendorong jiwa kreatif kita untuk terus berkarya, hanya karena alasan ingin menyenangkan orang lain, sebagai bahagian dari kesenangan diri sendiri.

Kesenangan Mark E. Zuckerberg dengan hobbinya mengutak-atik program komputer berbuah kebahagiaan yang sempurna, karena tujuan awalnya untuk berbagi cerita secara online dengan para mahasiswa dan dosen di kampusnya. Facebook kemudian tercipta luar biasa ini, berangkat dari keinginan seorang Mark yang ingin membagi bahagianya dengan orang lain. Kesenangan sesungguhnya bagi dirinya adalah ketika orang lain senang dengan karyanya. Itulah kebahagiaan karena berbagi. Sama halnya memberi uang dengan ikhlas dan diberi uang yang memang sangat dibutuhkannya. Dimana letak kebahagiaan yang sesungguhnya ? apakah pemberinya yang diucap terima kasih dari penerima ataukah yang menerima uang itu ? bagi saya kebahagiaan akan lebih besar sang dermawan. Bedanya, Mark E. Zuckerberg menerima tambahan penghasilan yang sangat besar, sementara si Dermawan harus kekurangan uangnya. Persamaannya, semua memulai bahagianya karena ingin menyenangkan orang lain.

Kini kita sampai pada sebuah pertanyaan, seperti apakah sesungguhnya kesuksesan yang berbuah BAHAGIA itu ? apakah bahagia hanya bisa diraih, justru dengan membagikannya ? Teringat aku dengan sebuah cerita tentang perbedaan DIKEJAR ANJING dan MENGEJAR AJING. Dikejar dan mengejar, sama membutuhkan energy yang besar. Dikejar seiring dengan ketakutan akan gigitan anjing dan mengejar seiring dengan kemarahan ingin menimpuk anjing itu dengan batu tepat di kepalanya.

Saya membayangkan seorang gadis gemulai, jalannya melenggak lenggok, pinggulnya naik turun aduhai, harus melejit kencang bak rudal yang tak sengaja ditembakkan, ketika si Boy Anjing tetangga mengejarnya dengan gonggongan yang sangat bernafsu. Rambutnya yang tergerai, harus meruncing ke belakang, mata manisnya membelalak mirip ikan Mas Koki, nafasnya tersenggal dan gerakan larinya beberapa kali lebih kencang dari biasanya. Hilanglah sudah lenggak-lenggoknya. Singkatnya, Si Gadis hanya berfokus pada ketinggian yang bisa dipanjat ataupun ruang yang bisa ditutup rapat. Ia terfokus pada sesuatu, dan hanya berharap keberhasilan – keberhasilan terbebas dari gigitan si Boy, yang mungkin belum tentu menggigitnya jikalau harus terjatuh. Iya, jikalau terjantuh, mungkin saja anjing mengira jatuhnya si gadis adalah sebuah manuver untuk mengambil bongkahan batu dan melempar balik kepadanya. Aikh…..

Nah, bagaimana jikalau justru Anjing yang terkejar karena melibas ayam jantan kesayangan anda ?, sekuat apapun Anda mengejar, disertai sumpah serapah dan lemparan batu yang bertubi-tubi, Anda akan masih lebih terfokus dengan Ayam malang yang sudah wafat itu. Fokus akan terpecah, anjing tetap berlalu seolah menang, dan ayam tetap terkulai tewas, karena kepalanya sudah ada di perut anjing sialan itu. Fokus, adalah konsistensi akan sesuatu yang akan dituju. Begitulah, kira-kira.

Energi yang dibutuhkan jikalau dikejar anjing tentu lebih banyak jikalau mengejar anjing, tetapi kepuasannya berbeda. Walau ancaman gigitan anjing menghantui ketakutan kita dan memcu adrenalin yang demikian besar, tetapi selamat dari kejaran itu akan membuat rasa bahagia yang tak terkira, walaupun peluh belum kering dan nafas nafas masih ngos-ngos-an. Mengejar anjing, sebenarnya hanya karena dorongan melampiaskan dendam. Selain keberhasilannya tidak nyata, juga walaupun anjing terkejar dan terbunuh, tak berbuah kehidupan kembali pada Ayam itu. belum lagi jikalau ternyata anjing itu adalah salah satu binatang kesayangan kita. Dua pembunuhan yang pasti menyisahkan penyesalan setelahnya.

Kesuksesan yang berbuah kebahagiaan dalam analogi dikejar dan mengejar anjing ini, adalah kebahagian jenis yang lain. KEBAHAGIAAN hadir karena perjuangan terbebas dari ketakutan, ancaman, tekanan dan waktu yang memburu. Semua potensi dimanfaatkan, bukan karena ingin, tapi karena keharusan untuk tidak mengatakan keterpaksaan melakukannya. Saya tidak ingin mengatakan, bahwa kita harus menunggu dikejar anjing agar bisa sukses, tetapi kita harus menciptakan sesuatu yang ‘harus’ dan sesuatu yang ‘terpaksa’ pada benak ini untuk mencapainya.

Pilihannya ada pada diri kita masing-masing. Apakah kita memiliki potensi kreatif yang bisa dikembangkan dan memberi manfaat kepada orang lain untuk dikembangkan dalam mencapai sukses, ataukah benak dan hati kita harus dipicu bahwa keadaan kita saat ini belum tepat dan sesuatu harus dikejar karena sesuatu keharusan, yang jikalau tidak tercapai keadaannya akan lebih buruk dari saat ini kita berada.

Bantaeng, 5 April 2010

08 Maret 2010

MUSRENBANG; MENIMBANG APAKAH SELARAS DENGAN APBD *)

Oleh: Andi Irwandi Natsir

Kuingat betul hari itu, kabut masih terasa begitu membuai rasa malas ini untuk segera berbenah. Hawa dingin yang sangat, setelah sebelumnya gerimis membasahi lembut lembah desaku membawaku ingin terus berkhayal sambil tiduran dengan selimut hangat itu. Tidak, aku harus segera mempersiapkan acara. Sejuta usul telah aku siapkan untuk dipertimbangkan dalam musyawarah para tokoh masyarakat kantor desa. Hari itu jadwal MUSRENBANG Desa MattirowaliE, Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone.

Musyawarah Perencanaan Pembangunan, yang kemudian disingkat dengan Musrenbang sebagai kewajiban tahunan mengawali proses pembangunan sangatlah penting menurutku. Sebagai kepala desa ketika itu, saya sudah membekali diri dengan beberapa bacaan, hasil rapat tingkat Kecamatan dan diskusi-diskusi kecil tentang apa dan bagaimana pembangunan itu berproses secara partisipatif melalui Musrenbang. Sungguh ini hadiah terbaik bagi warga desa karena reformasi telah mengamanahkan pembangunan yang responsive, akuntabilitatif dan tentunya partisipatif. Musrenbang adalah sarana untuk menggali kebutuhan aspiratif masyarakat untuk mengentaskan diri dan desanya menuju kesejahteraan. Intinya Musrenbang, telah membangkitkan adrenalin saya untuk menghamburkan segala ide yang terpendam selama ini.

Singkatnya, proses musyawarah waktu itu telah berlangsung alot. Walau usul lebih banyak didominasi oleh diri saya sendiri, setidaknya usulku sudah merupakan telaah realitas dari sesuatu yang aku lihat, rasakan dan konsultasikan dengan tokoh masyarakat selama ini. Wajar, Desa terpencil, dengan tingkat pendidikan yang rendah di desaku telah membuat keluh lidah warganya untuk berbahasa, tetapi tidak berarti menumpulkan tajamnya nurani mereka untuk merasakan sesuatu yang mereka butuhkan. Bahasa mereka singkat, menohok, khas dan lugu. Bagiku itulah yang dibutuhkan. Sebuah bahasa yang jujur, tanpa sedikitpun kepentingan bernuansa elite.

Musrenbang yang dalam perspektif perencanaan merupakan forum lintas sektoral untuk merancang apa yang akan dijalankan pada pembangunan tahun berikutnya, yang tentunya searah dengan visi Kabuputen Bone. Visi kabupaten Bone agar “TERWUJUDNYA MASYARAKAT KABUPATEN BONE YANG MAJU, MANDIRI, DEMOKRATIS DAN BERADAB”, diharapkan tercapai dalam proses musyawarah ini, yang senada dengan salah satu misinya yakni Mendorong dan mengembangkan kehidupan dan mekanisme politik daerah yang sehat didukung partisipasi aktif seluruh masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat.

Kekhawatiran mulai muncul, betulkah kewajiban tahunan berupa Musrenban ini tidak akan sia-sia karena pelaksanaan nya dalam realisasi APBD bias dari pelaksanaan Musrenbang. Pengalaman selama ini, dalam APBD hanya memuat maksimal 30% anggaran Pembangunan sisahnya adalah anggaran rutin. Dapatkah sejumlah 333 desa dan 39 Kelurahan di Kabupaten Bone, dengan jumlah penduduk sebesar 963.524 jiwa mampu dipenuhi harapannya dalam APBD 2010 nanti ? tidakkah semua ini akan menjadi hanya sekedar bagian ‘pemanis’ dari Musrenbang tersebut untuk sekedar membuktikan ke publik bahwa semua proses ini sudah semaksimal mungkin dilakukan secara demokratis

Musrenbang, di desaku sekitar 4 (empat) tahun yang lalu kemudian membuktikannya. Terasa usulan yang berjubel dengan skala prioritas yang telah ditentukan pada akhirnya bias. Prioritas pembangunan infrastruktur jalan, sarana kesehatan dan air bersih sebagai sebuah prioritas belum sepenuhnya terpenuhi. Saya yakin di desa lain pun malahan lebih parah, karena adapun fasilitas jalan, panel surya untuk listrik, sarana pipanisasasi air bersih secara swadaya yang akhirnya terpenuhi, tidak karena hasil dari Musrembang, tetapi merupakan langkah perjuangan personal kepala desa untuk mendesakkan agar hal ini terwujud, itupun tidak kesemuanya karena hasil APBD kabupaten Bone. Bagaimana dengan kepala desa lainnya yang tidak mampu dan memiliki jaringan untuk berjuang sendiri untuk desanya ? tentu akan kesulitan dan hanya terus menyimpan harapan, yang entah kapan itu akan mewujud.

Marah dan kecewa pada satu hal yang sama dan berulang-ulang, bagiku adalah sesuatu yang bodoh, tetapi perjuangan paling kecil untuk itu dengan hanya sekedar memahami tidak harus membuat kita memaknai kesabaran menanti dengan diam tak melakukan apa-apa. Setidaknya, saya mulai memahaminya sesuatu yang bernama Musrenbang itu sesungguhnya sangat penting karena para pemangku kepentingan (stakeholders) telah dilibatkan dalam prosesnya. Bahkan hal ini sudah diatur dengan sangat mendetail dalam UU Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Masalahnya adalah, saat setelah dirumskan menjadi APBD yang disahkan oleh DPRD usulan-usulan itu kerap tidak lagi sesuai dengan apa yang diperdebatkan dilapangan. Mungkin hal ini disebabkan karena elite pengambil kebijakan berkolabarasi dengan berbagai kepentingan yang muncul sehingga mengalahkan aspirasi yang jauh jauh hari telah disampaikan.

Maulana Mukhlis, Mahasiswa Pasca Sarjana MIP Unila dalam satu artikelnya yang saya research di google memberikan jawaban atas segalah pertanyaan ini, tentang mengapa tidak semua aspirasi masyarakat dalam proses pra maupun pasca musremban banyak yang tidak diakomodir setelah menjadi dokumen APBD. Hal ini kemudian dijawab dengan keterbatasan anggaran, maka zero, yakni terjadi perencanaan versus penganggaran. Dalam konteks ini, diskursus tentang makna Musrenbang pele diketengahkan yakni bagaimana membangun singkronisasi politik perencanaan dengan politik penganggaran.

Lemahnya fungsi BAPPEDA dalam hal ini, lanjut Maulana Mukhlis ada pada konteks penyelarasan program dan ketersediaan anggaran, sehingga penetapan prioritas dan alokasi menjadi sesuatu yang tidak bisa disepakati dan dihasilkan dalam Musrenbang. Karena kepastian prioritas dan penyepakatan anggaran itu tidak selesai di Musrenbang, maka agenda pasca Musrenbang yang nota bene tidak bisa dipantau oleh banyak orang menjadi forum yang lebih menentukan, dan sarat dengan kepentingan. Selain itu, fungsi penganggaran sekarang ini sesuai UU Nomor 25/2004, bukan lagi kewenangan BAPPEDA, melainkan kewenangan bagian/biro/dinas pengelolaan keuangan sehingga sinergisitas antara perencanaan dan penganggaran tidak bisa dijamin.

Nah, masalahnya kini berlahan mulai terkuak. Solusinya sebenarnya sederhana, yakni ada pada kemauan politik untuk betul-betul menjadikan forum Musrenbang itu sebagai landasan, tidak kemudian terkaburkan bahkan hilang karena kepentingan ‘proyek’ elit. Selain itu penting, bagaimana membuat proses partisipatif dalam Musrenbang di tingkat masyarakat sesuai alur kebutuhan tidak sekedar keinginan-keinginan. Penting juga untuk memfasilitasi masyarakat bagaimana seharusnya membangun prioritas sesuai indikator-indikator tertentu. Adapun berkenaan dengan regulasi tentang peran BAPPEDA akan menjadi solutif jikalau bagian/biro dan dinas sebagai pengelola keuangan disinergikan dalam kerangka perencanaan besar hasil Musrenbang.

Kurangnya infrastruktur pedesaan sesuai standar pelayanan minimum memerlukan program-program terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat, pertumbuhan ekonomi daerah dan pembangunan infrastruktur dasar guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah dalam penyusunan APBD sesuai dengan Permen Nomor 32 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah Tahun anggaran 2009. Walau hal ini adalah pedoman APBD untuk tahun 2009, setidaknya terharap masih relevan dengan program penyusunan APBD tahun 2010 di Kabupaten Bone.

Tulisan ini hanyalah sekedar oleh-oleh seorang mantan Kepala Desa berupa ‘segelas madu’ dari pegunungan Bontocani untuk dirinya, pemerintah dan kawan-kawan nya para legislator Kabupaten Bone. Bontocani adalah penghasil madu alami terbaik di Kabupaten Bone yang belum disentuh pengelolaan professional dari pemerintah maupun swasta. Hal ini juga, belum pernah sedikitpun di bahas dalam APBD untuk pengembangannya, mungkin hal ini bukanlah prioritas, tetapi dalam misi kabupaten bone point (2) Nampak jelas kata: “Penguatan daya saing dan peningkatan kualitas produk unggulan daerah untuk mengurangi ketergantungan dalam upaya pembangunan daerah”. Semogalah, mudah-mudahan catatan ini adalah madu sebagai obat, dan sengatan lebah nya dianggap sebagai kritik yang membangun. Kerjasama terstruktur para lebah penghasil madu sungguh keajaiban yang luar biasa yang dicontohkan Allah, bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.

MattirowaliE, 1 Desember 2009

*) Tulisan ini adalah sebuah catatan mengawali proses pembahasan APBD di DPRD kabupaten Bone, satu yang penting. Kritik ini 90% adalah kritik buat saya

**) Penulis adalah mantan Kepala Desa MattirowaliE Kecamatan Bontocani.

.