08 Februari 2011

Jejak Tiga Kekaisaran Cina Penanda Kelahiran Butta Toa

Tiga Dinasty kekaisaran China telah menjadi penanda sejarah lahirnya Bantaeng. Kabupaten yang berada 120 KM dari Makassar ini, menetapkan hari lahirnya pada tanggal 7 Bulan 12 Tahun 1254.Tahun dimana Wayne A. Bougas, seorang arkeolog Amerika membuktikannya dengan temuan keramik yang berasal dari dinasti Sung yang berkuasa di daratan Cina tahun 960-1279. Selain Dinasti Sung, juga ditemukan keramik yang berasal dari Dinasti Yuan (1279-1368)

Adapun dinasti Ming, menandai kehadirannya dengan sebuah guci yang didalamnya terdapat bongkahan emas murni. Guci itu, kini masih terlihat di kubah Masjid Tua Tompong yang dibangun 1887 oleh Raja Bantaeng, Karaeng Panawang. Guci dari dinasti Ming yang telah mengukuhkan penyatuan Cina ini, dibawah sendiri oleh para pedagang Cina. Pedagang Cina di Bantaeng, telah bermukim pertama kali, di sebuah kampung yang bernama Lembang Cina.

Ambae.exe, seorang putra Bantaeng, dalam komentarnya terkait tulisan ini di kompasiana mengungkap versi lain tentang awal kedatangan etnis China. Menurutnya, berdasarkan sejarah, Bangsa China pertama kali berlabuh di Cidondong Parring-Parring yang terletak di Utara Bantaeng. Di tempat itu ditemukan berbagai artefak seperti guci.

Selain keterkaitan dengan Cina ini, Bantaeng juga tercatat dalam ekspedisi Mahapatih Gaja Mada.Tahun 1254 dalam atlas sejarah Dr. Muhammad Yamin, telah dinyatakan wilayah Bantaeng sudah ada, ketika kerajaan Singosari dibawah pemerintahan Raja Kertanegara memperluas wilayahnya ke daerah timur Nusantara untuk menjalin hubungan niaga pada tahun 1254-1292. Bantaeng tercatat dalam kitab negarakertagama dengan sebutan “buttayya ri bantayang”.

Bantaeng dulu, memang adalah pelabuhan tempat singgahnya kapal-kapal niaga. Penentuan autentik Peta Singosari ini jelas membuktikan Bantaeng sudah ada dan eksis ketika itu. Bahkan menurut Prof. Nurudin Syahadat, Bantaeng sudah ada sejak tahun 500 masehi, sehingga dijuluki Butta Toa atau Tanah Tua (Tanah bersejarah).

Temuan artefak sejarah dari Dinasti Sung, Yuan dan Ming, adalah jejak kehadiran bangsa Cina. Tidak hanya itu, Bantaeng yang juga disebut Bantayang oleh Majapahit dan Bonthaink oleh Belanda, di awal mula kerajaannya pada tahun 1254, disebutkan bahwa kerjaan ini mulanya dipimpin oleh mula tau yang digelar To Toa, kemudian digantikan oleh Raja Massaniaga. Raja ini memiliki seorang putri yang kembali menceritakan ke generasi saat ini, bahwa Bantaeng juga, bisa jadi bertalian kerabat dengan kaisar China. Apa betul?

Versi lain dari sejarah mengatakan bahwa yang menikahi Dala, putri RajaMassniaga adalah seorang pangeran dari Cina (Salam 1997: 24). Pernikahan ini dikaruniai kelahiran anak bernama Karaeng Loe. Kelahiran Karaeng Loe yang menjadi cikal bakal raja-raja Bantaeng, diperingati setiap pada 10 Sya’ban di tiap tahunnya dan disebut upacaraPa’jukukang. Hal ini memungkinkan, karena Karaeng Loe sendiri memerintah pada tahun 1293 – 1332, dimana dinasti Sung ketika itu sudah berkuasa di daratan cina mulai tahun 960M.

Versi lainnya lagi, adalah ketika Sawerigading, salah satu tokoh utama dalam epos terpanjang di dunia, La Galigo. Pangeran kerajaan Luwu ini, mengunjungi Bantaeng dan berlabuh di Nipa-Nipa, pantai Pa’jukukang, saat ini berada di jalan poros Bantaeng-Bulukumba. Di hari keempat, Sawerigading kemudian naik menuju Gantarang Keke, sebuah perbukitan di Kecamatan Gantarang Keke saat ini. Di sini, Sawerigading menikahi Dala, putri Bantaeng. Kerjaan Luwu sendiri adalah kerajaan tertua yang ada di Sulawesi Selatan.

Saweregading sebagai leluhur suku Bugis, sebagaimana dituliskan ditulis Cristian Pelras dalam ‘Manusia Bugis’, juga lekat dikisahkan perantauannya ke negeri Cina untuk meminang We Cudai yang dalam cerita itu sesungguhnya adalah saudara kandung dari Saweregading sendiri. Jikalau ini benar adanya, maka keterhubungan silsilah antara kekaisaran Cina dan Raja-Raja Bantaeng, menarik untuk dikaji kembali.

Berangkat dari kebenaran sejarah ini, eksistensi etnis Tionghoa telah menandakan bahwa pembauran Cina dan etnis pribumi baik melalui berdagangan dan berkawinan sudah ada sejak dahulu. Entah mengapa, saat sekarang ini apalagi di jaman Soeharto Etnis Cina terkesan ekslusif dan terasa sulit berbaur dengan pribumi. Kesenjangan sosial berkenaan dengan etnis ke tiga terbesar di Indonesia ini, telah berbuah kerusuhan di Makassar. Ketika itu, yang saya saksikan sendiri dengan tatapan ngeri pada tahun 1997.

Di Bantaeng, kerusuhan antar etnis tidak pernah terjadi. Bahkan keluarga Karaeng (keturunan Raja) menikah dengan Etnis ini. Bantaeng jaga adalah Kabupaten terbanyak (selain Makassar) yang dihuni Etnis Tionghoa. Setidaknya di daerah Selatan-Selatan, Propinsi Sulawesi Selatan. Menurut Ambae, Kota Kecil ini juga sering dijuluki kota Tionghoa.

Di Bantaeng, terdapat pekuburan Cina, kampung cina dan pasar yang didominasi oleh etnis yang memang ahli dalam hal perdagangan. Berbaur dengan penduduk lokal sangat jarang terlihat, walau demikian etnis Tionghoa ini berjasa menggerakkan perekonomian Bantaeng. Keramahan etnis Tionghoa, itu sudah pasti. Mana ada pedagang yang tidak ramah kepada pembelinya.

Sebagai orang yang bermukim di Bantaeng sekitar 5 (lima) tahun yang lalu, saya mengenal Bantaeng sangat kaya budaya, negeri elok dengan banyak lokasi wisata, mungil tetapi cantik berhiaskan pantai, pegunungan dan daratan. Sayur, Ikan, beras serta buah-buahan sangat mudah dan murah ditemui dan dibeli di tempat ini. Satu lagi, di sini ada perkebunan strawberry.

Gong Xi Fa Chae…..

Tulisan ini telah diedit, setelah sebelumnya dimuat di kompasiana.

Bantaeng, 5 Februari 2011

Bersama Pallu Kaloa, Serasa Pulang Kampung


Semua tersentak, kemudian riuh tepuk tangan membahana saat Barrack Obama spontan berucap “Pulang kampung, nih….” Kurang lebih 6000 undangan di Balairung UI saat itu, tehipnotis pesona Obama.

Saya sedikit menebak, bahwa lidah Obama saat itu, terbawa suasana makan malamnya dengan Pak Beye. Makan malam dengan kuliner khas Indonesia. Nasi goreng, bakso dan emping, adalah kesukaan Presiden Amerika ini, sewaktu masih bocah di Menteng Dalam.

Tak hendak saya mengupas tentang Obama, hanya ingin berbual tentang kesan ‘pulang kampung,’ saat beberapa hari lalu (16/12), bersama keluarga menikmati kuliner khas Bugis-Makassar, Nasu Pangi. Di bilangan Jl. Sultan Alauddin, tepatnya di depan, sebelah kanan Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, terdapat sebuah warung yang ramai pengunjung. Warung Pangkep, namanya. Pallu (masakan), Kaloa/pangi (Kluwak). Masakan Kluwak.

Pallu Kaloa, sama saja dengan Nasu Pangi. Satu dalam bahasa Makassar dan satunya lagi sebutan bahasa Bugis. Dua suku yang kini ‘menyatu’ dalam sebutan Bugis-Makassar. Sebagai orang Bugis, yang kini bermukim di wilayah Makassar (Bantaeng), Pallu Kaloa adalah masakan favorit nenek saya di kampung. Menyantapnya ketika itu, serasa ikan kakap sebagai bahan utama kuliner khas ini, membawa saya seolah mengintip dapur almarhum nenek saya, yang dulu memasak dengan kayu, dari ranting pohon jati.

Pallu kaloa, memang harus dimasak dengan kadar panas yang tinggi. Kayu jati atau puhon asam adalah penghasil bara api yang baik. Itu di kampung, sekarang gas elpiji 3 kg sudah bisa menyainginya. Sayang mudah meledak. Bisa berubah, mendadak jadi bom hijau. Pallu Kaloa yang berbahan ikan kakap, kelapa ½ butir, daun salam, biji pala, sereh, biji cengkeh dan bawang goreng ini, berbumbu khusus yang mebedakan rasanya dengan masakan ikan khas lainnya di Makassar. Semisal Pallu Mara, Pallu Kacci atau Pallu Basa.

Rahasia bumbunya, ada pada buah kluwak. Sama halnya dengan masakan Pindang Tetel, yang ada di kecamatan Kedungwuni, daerah Pekalongan. Makanan khas tersebut semacam rawon namun menggunakan ‘kluwak’ dengan tetelan daging (bukan tetelan pindang ikan) ditambah dengan sambal manis dan disajikan dengan krupuk ‘usek’ yang diremas. Lain di Pekalongan lain di Makassar. Pindang Tetel hanya saya rasakan nikmatnya melalui info Wikipedia, sementara Pallu Kaloa telah membuat rasaku mengawan kembali ke kampung, dimana pohon kluwak banyak tumbuh disana.

Pohon kluwak, dalam bahasa Bugis kami sebut sebagai aju pangi. Buahnya memiliki kulit yang keras membatu, ketika buah menjadi tua. Dulu, saya sering diminta nenek menanamnya di bawah tangga kayu rumah panggung kami. Setelah menunggu waktu 40 hari, baru digali kembali. Buahnya di bakar, kemudian dipecah, di campur dengan daun bawang, cabe, lalu di tumis. Jadilah sambel yang enak, mirip terasi. Sangat nikmat disepadankan dengan nasi santan.

Kluwak yang menjadi bumbu Pallu Kaloa bukanlah, buah yang tua, tetapi irisan buah yang muda. Buah kluwak ini kemudian ditumbuk halus sebagai bumbu utama. Satu porsi pallu kaloa, yang berisi belahan kepala ikan kakap, hanya seharga Rp. 20.000. Tumisan bawang, taburan gorengan kelapa, berpadu nikmat dengan aroma pala, lengkuas dan biji cengkeh.

Sedikit rahasia, walau masakan di warung ini enaknya bukan kepalang, tetapi tetap lebih nikmat masakan nenek saya di kampung. Mungkin karena psikologi Human Touch. Sentuhan manusiawi nenek saya ketika menghidangkan masakan ini telah memanjakan kami, para cucunya. Ikan di kampung sangat jarang, sehingga masakan ini hanya dapat kami nikmati saat kakek menerima gajian pesiunannya, dan singgah di pasar membeli ikan atau daging sapi. Pallu kaloa juga bisa berbahan utama daging sapi.

Ludes saya menghabiskannya. Sisa kepala ikan yang tak mampu dihabiskan istri dan putri bungsuku pun, saya embat. Ehe, semakin mengabsahkan saja diriku ini balala (sedikit rakus). Tak apalah. Kata kakek, jangan sisahkan makanan walau itu hanya sebiji nasi. Makanan adalah kehidupan, menyia-nyiakannya sama saja kita tak menghargai hidup ini. Sombong.

Tamasya kecilku bersama keluarga, minus putri sulungku karena lagi semesteran, telah menjadi kesan pulang kampung, walau tanah kelahiranku di Kabupaten Bone, masih sejauh 190 kilometer dari kota Makassar. Sebenarnya, tamasya itu hanya saya manfaatkan untuk menyenangkan keluarga. Tujuan utamaku sebenarnya, adalah menghadiri pertemuan kantor dan sekaligus mengikuti acara pembukaan Musyawarah Provinsi, di salah satu organisasi pemuda, dimana saya menjadi presidiumnya.

Semua adalah ‘sekaligus’, aji mumpung positif. Mumpung kendaraan lagi lowong, mumpung saya ke Makassar, mumpung ada pallu kaloa yang sudah sangat jarang saya nikmati. Tamasya mendadak bersama keluarga di sela kesibukan pekerjaan adalah nikmat tersendiri. Anak-anak merasa diperhatikan. Romantisme ‘berpacaran’ dengan mantan kekasihku, yang kini menjadi ibu dua putriku, terasa begitu lengket kayak perangko, harga 5000.

Bantaeng, 19 Desember 2010

Tulisan ini juga dimuat di kompasiana, meraih tulisan tervaforit untuk lomba My Holiday

05 Desember 2010

Bantaeng Memancing Menteri; Menatap Bali

Aco datang tergesa. Tanpa salam, Ia menghambur masuk rumah . Saya yang lagi bobo siang usai Jumatan, terperanjat. Ada apa?. “Kak, ada lokasi baru. Semua sudah berangkat, mereka menunggu disana. Cepat ki!”. Seolah Tak bersalah, Aco sobatku itu malah mendesak. Sialan!

Aha, Hayoo!. Dua minggu ini, memang saya tidak memancing. Joran pancing yang menggantung di pundak Aco, membuat hilang gusar ini. Joran itu seolah genit menggoyangkan alis, mengajakku berbenah, meminta digandeng mesra, pantai adalah tujuan kerinduanku. Tak perlu cuci muka. Sigap, saya bergerak menuju arah Barat Daya, kota mungilku. Lokasinya berada dekat perbatasan Kabupaten Banteng-Jeneponto.

Mattoanging, nama perkampungan nelayan itu. Seperti namanya, sesejuk angin, semilirnya.Mattoanging, bisa diartikan daerah terbuka, dimana angin bebas berhembus. DaengJama’adalah nelayan yang akan kami sewa perahunya. Kami menuju rumahnya yang beratap seng berkarat dan berdinding gamacca (jalinan bambu). Terlihat bolong sana-sini. Tentang rumah para nelayan yang kumuh, biasalah kita temukan di seluruh nusantara. Saya jadi heran, kalau Anda heran.

Kini lagi musim, menteri beriklan di tivi. Fadel Muhammad Menteri Kelautan itu, jadi bintang iklan. Bersolek tampan menganjurkan makan ikan. Pak Menteri benar, Ikan memang mengandung omega 3, suplemen penting kecerdasan. Tapi tolong dong, pencari ikan itu juga diperhatikan Pak Menteri. Sedari lahir, Daeng Jama’ sudah hidup dari ayahnya yang nelayan. Kok rumahnya masih seperti itu? Setahu saya, ikan-ikan bergizi itu banyak diekspor ke Jepang. Harganya mahal. Apalagi ikan kerapu, yang hidup dibebatuan karang. Di sini, nama local kerapu, disebut jawa-jawa.

Loh, Kok saya merajut ke Menteri!?. Merajutpun, saya sangsi tulisan ini dibaca olehnya. Beliau sudah sangat sibuk mengurus laut dan perusahaan bonafidnya. Akh, Kelaut aje…., berlima saya menaiki perahu yang lumayan layak. Mesinnya sih sudah jadul, tetapi Daeng Jama’, terlihat cukup ahli menguasai mesin bututnya. Ribet juga, starter mesinnya, harus putar. Dua kali putaran bertenaga, mesinpun menderu. Druuuukhmmmmm……kami melijit. Topi caping militer kawan tentaraku, hampir saja berenang. Pak Bur, namanya. Tegap badannya. Hitam legam.

Peduli setan dengan menteri dan topi tentara. Saya hanya sibuk jepret kiri kanan. Kamera telepon genggam, adalah alat jepretku. Hasilnya liat sendiri,pasti kualitasnya jeblok. Maklum 2.0 megapixel, harganya pun cuman Rp. 315.000. Duh, saya sangat kepingin punya kameracanon(kapan yah?). Dengan kamera HP Sony Ericson S312, saya mengabadikan suasana laut, darat, langit, pelabuhan, perahu, ikan, pancing, juga para bocah yang riang mandi telanjang.

Kamera tidak keren inipun mengabadikan gunung Lompo Battang di ketinggian sana, terlihat tertutup kabut. Untung saja gunung ini bukan termasuk gunung api aktif. Seandainya iya, mungkin saya ada bakat jadi kuncen. Saya kagum dengan almarhum Mbah Marijan yang pemberani itu. Gugur dalam kesetiaan, dipeluk lahar merapi, kekasihnya. Menurut peneliti, Bantaeng bukan jalur patahan gempa. Bebas tsunami, setidaknya 50 tahun ke depan. Komplitlah kotaku ini, layak dikembangkan menjadi wisata baru yang minim resiko alam. Semoga Tuhan tetap melindunginya.

Laut Bantaeng, adalah jalur pelayaran internasional. Kapal kargo banyak terlihat di lepas pantai saat badai datang. Bersandar berlindung dari hantaman gelombang Selat Makassar. Dulu, Belanda membangun Pelabuhan Kayu di Mattoanging ini. Sekarang, Pemkab sementara membangun pelabuhan permanen untuk menghubungkan Bantaeng dengan Pulau Selayar, juga penghubung pelayaran wisata Bantaeng-Bali. Nah, ini yang luar biasa. Bali memang lebih dekat dari Bantaeng, daripada harus ke Pelabuhan Makassar.

Pariwisata Bali akan dipadukan dengan pariwisata maritime dan wisata agro Bantaeng. Itulah visi hebat bupati kami. Namanya DR. Nurdin Abdullah. Meraih gelar master di Jepang. Yakin deh, jikalau visi Pak Bupati baik ini tercapai. Kotaku akan jadi destinasi wisata baru di kawasan selatan Makassar. Semoga bukan janji.

Kita ingin jadikan Bantaeng sebagai salah satu pusat pertumbuhan di Sulsel. Mengurangi beban Makassar karena beberapa tahun ke depan, Makassar semakin tak bisa bergerak,” jelas Pak Bupati. Jangan melongo. Bukanlah saya yang mewawancarai beliau, saya hanya membacanya diberita upeks online.

Karena keasyikan celoteh ngelantur. Mancingnya jadi lupa dikisahkan. Singkat saja yah, biar bualannya tidak panjang. Hanya sekitar 15 menit, saya sudah sampai ke lokasi pemancingan. Sangat dekat dari pantai. Hanya sekitar 500 meter. Pelabuhan Mattoanging tampak jelas. Raungan motor balapan liar anak muda di tepi pantai pun terdengar riuh. Anak muda itu, lagingetes jalan aspal yang baru dibangun untuk akses ke pelabuhan. Bantaeng lagi menggenjot infrastruktur, menyangga fasilitas pelabuhan.

Joran beraksi. Hanya sepersekian menit, ikan kanera pun tertipu. Kanera, nama ikan pastinya. Hidup diantara terumbu karang yang masih perawan. Bahasa Indonesianya tidak tahu saya. Apalagi latinnya. Malas saya mencari tahu.

Strike demi strike terjadi. Bermacam-macam ikan bebatuan karang sudah menggelepar di perahu. Ada sekecil daun mangga, tetapi pula ada selebar sandal jepit. Bermacam-macam, beraneka jenis, bercampur aduk rasa riang ini. Adrenalin pun terpicu, saatjuku (ikan) sunu merampas buas udang segar umpan saya. Ikan lapar itu tidak berhasil mencuri, dia tersangkut kail. Tertipulah kau ikan!.

Memancing di bebatuan karang, perlu keahlian khusus. Orang baru hanya akan sibuk memasang mata kail. Seperti Ippang kawanku, kailnya tersangkut melulu. Karang itu tajam. Mudah memutus picura (senar). Sebagai orang yang berpengalaman (sombong nih…), saya hanya dua kali putus senar. Mau strateginya? Datang saja ke kotaku. Pamali menjelaskannya di sini. Boro-boro menjelaskan. Ikan Bakar sudah menunggu untuk disantap, setelah semalaman ngumpet di kulkas.

Jagalah laut, lestarikan terumbu karang. Pedulilah pada nelayan, jangan hanya menikmati gizi ikan untuk kecerdasan Pak Menteri. Boleh diekspor untuk devisa, tetapi nelayan juga perlu dimakmurkan. Pukat harimau dilarang, apalagi pake racun, ngebom terumbu karang itu perbuatan penjahat. Camkan itu!

Tolong jangan beri rating ‘aktual’ karena saya memancingnya hari Jum’at, dua hari yang lalu.Ceritanya basi, tetapi ikannya masih segar.


Bantaeng, 5 Desember 2010

Tulisan ini telah dipublikasikan di SINI (kompasiana.com)

Sungguh! Saya Bingung tentukan judul dan kategori tulisan. Mohon Koreksinya.

Salam Pemancing

Gambar di atas, dikolaborasi dengan foto milik Anila Bonthaink. Biar gambarnya keren.

Berikut bincang pemancing. Kutiliskan kukabarkan kekayaan laut Nusantara:

Berburu Escolar di Lepas Pantai Bira // Nama Jawa Bertabur Indah di Makassar // Pemancing Muara Mengabarkan Cuaca // Potret Nelayan dari Sosok Daeng Gassing // Fugu Fish; Mewah di Jepang //memancing di Ujung Katinting ada Boaz di sana//

24 November 2010

Bank dalam citra “Rentenir Resmi”; Berbagi Kesan Traumatik

Kenapa saya tidak menabung di Bank Syariah hingga kini. Pertanyaan yang aneh untuk diriku yang seorang muslim, dan juga sementara membangun usaha kecil. Saya jelas membenci riba, tetapi tetap saja menabung di bank konvensional. Sekedar bocoran, sebenarnya saya tidaklah “menabung”. Saya hanya sekedar menyimpan uang dengan aman untuk sementara waktu, sebelum saya cepat-cepat akan menariknya kembali. Di Bank tentu lebih aman daripada di rumah. Hanya itu alasanku menyimpan uang di bank. Bukan menabung dalam arti yang sebenarnya.

Kenapa sementara ? karena paling lama sebulan kemudian uang itu ludes, untuk kebutuhan rumah tangga. Kalau berlebih, kaena kebetulan dapat rejeki noplok, saya lebih memilih investasi dengan membeli emas, tanah atau menambah modal usaha apotik kecil saya. dari awal, memang saya sudah apriori dengan Bank. Kira-kira semenjak saya diajari menabung di bank waktu SMP.

Sebelum saya mengagumi system perbankan syariah, Perlu rasanya saya menghamburkan rasa jengah ini terhadap bank konvensional. ‘makan bunga’ atau riba itulah yang tersimpan dibenakku terhadap bank. Karena saya tidak pernah menabung (menyimpan) lebih dari 10 juta rupiah, paling banter 5 jutaan, maka saya justru merasa jikalau uang sedikit disimpan di bank, malahan semakin berkurang. Ini pengalaman dan tentang pengetahuan minim saya tentang system perbankan.

Bunga tetap ada, tetapi biaya administrasi akan memotongnya ketika uang tabungan tidak bertambah. Apalagi kalau hanya penabung berjumlah kecil seperti saya ini. Nasabah akan dibebani biaya administrasi bulanan, pemindah bukuan, penutupan rekening, transaksi pengambilan, penyetoran di atas jumlah tertentu, kalau buku tabungan atau kartu ATM hilang, juga akan dikenakan pergantian. Ada juga pajak. Ini yang tercantum dalam buku tabunganku di tahun 2007 lalu. Segalah biaya yang dibebankan ke nasabah itu, tidak dicantumkan besaran jumlahnya dalam ketentuan umum buku tabungan.

Nah, apalagi yang membuat saya tertarik ‘menyimpan’ uang di Bank?. Iya, karena saya mengambil kredit usaha darinya. Tentu bukan bank yang memberi bunga kepada saya. tetapi justru saya yang memberinya bunga. Saya berbagi hasil dengan bank,dari keuntungan usaha. Bukan bank yang berbagi hasil dengan saya. Kenapa saya melakukan hal yang merugikan ini?,

Yah, karena hanya Bank yang bisa menjamin perkembangan modal saya. Lebih baik saya meminjam di bank dari pada rentenir, walau sebenarnya bank konvensional juga rentenir ‘resmi’ jikalau dilihat dari defenisi rentenir secara awam. Riba atau membungakan uang. Jadi alasan lain saya menyimpan uang di bank agar penagih bank tidak datang ke rumah menagih kredit. Langsung potong saja. Tiap pertengahan bulan, uang persiapan penagihan berikutnya, kembali saya tambahkan. Dengan cara ini, saya tidak perlu malu sama tetangga, kalau datang penagih yang tentu muka para penagih, Anda sudah paham semua. He he he


Lantas, bagaimana persepsi saya tentang Bak Syariah. Persepsi, sebelum saya memahami betul prinsip pengelolaan bagi hasil system syariah. Cerita traumanya seperti ini, ditahun 2005 lalu, saya membantu seorang sahabat mengurus kredit di koperasi yang mengklaim dirinya syariah. Patut dicatat, Koperasi, bukan bank. Pinjamannya hanya berkisar lima Jutaan. Apa yang terjadi?, peminjam tersebut harus dipotong berbagai pembiayaan. Dan juga disyaratkan menabung di koperasi itu (tidak boleh diambil). Jadilah uang kredit yang diterima hanya sekitar tiga jutaan.

Berselang berapa lama, Iapun tersiksa dengan pengembalian kredit karena usahanya macet. Terus diburu-buru penagih dan uang tabungannya tidak bisa lagi dia ambil. Entah bagaimana aturan sebenarnya. Saya tidak tahu, tetapi yang pasti saya melihat kawan saya itu kelabakan. Waktu itu saya ambil kesimpulan, semua pemberi kredit itu sama. Baik syariah ataupun konvensional.

Sampai saat tulisan ini dibuat, saya belum menabung di Bank Syariah. Tetapi keinginan itu sudah saya pendam sejak setahun yang lalu. Kini, setelah saya membaca beberapa tulisan tentang keunggulan Bank Syariah, saya semakin tertarik. Untuk mengetahui lebih dalam tentang perbankan syariah ini perlu diketahui dulu sejarah dan perkembangannya, agar seperti saya ini tidak salah mengambil kesimpulan, karena hanya berdasar pada apriori dan kesan traumatik pada koperasi (yang sebenarnya) hanya berkedok syariah untuk menarik nasabah.

Kini saya sudah dapat membedakan antara bank konvensional dengan bank syariah. Dimana letak perbedaannya ada pada pembagian hasil. Satu berbagi untung berdasarkan bunga dan satunya lagi berdasarkan imbalan bagi hasil (mudharabah). Tentu banyak lagi keuntungan lainnya, tetapi saya hanya ingin meretas pengetahuanku berdasarkan pengalaman salah kaprah tentang bank syariah dan konvensional.

Sangat jelas, bahwa bank syariah mengadopsi hukum ekonomi Islam dalam penerapannya. Kini bertebaran perbankan syaraiah di Indonesia, yang pada awalnya dipelopori oleh Bank Muamalat atas prakarsa MUI dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia pada tahun 1991. Eksistensi keberadaan bank syariah semakin bertambah kuat dengan hadirnya paying hukum berupa UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang memberi ruang luas bagi perkembangan bagi perbankan syariah.

Luar biasa, hingga tahun 2007 terdapat 3 institusi bank syariah di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah. Sementara itu bank umum yang telah memiliki unit usaha syariah adalah 19 bank diantaranya merupakan bank besar seperti Bank Negara Indonesia (Persero), Bank Rakyat Indonesia (Persero)dan Bank swasta nasional: Bank Tabungan Pensiunan Nasional (Tbk). Sistem syariah juga telah digunakan oleh Bank Perkreditan Rakyat, setidaknya saat ini telah berkembang kurang lebih 104 BPR Syariah.

Nah, berdasarkan pengalaman traumatik saya di masa lalu, yang kemudian menyebarkan trauma itu disekeliling saya, maka telah menjadi iklan yang sesat bagi siapapun yang ingin berniaga sesuai prinsip muamalah. Menjadi penebar citra manfaat bank syariah harus dimulai dari kini. Dari diri sendiri. termasuk saya, yang telah salah kaprah dan ogah setelah itu, mengetahui informasinya lebih lanjut. Itulah trauma informasi, dan perlu kini terus disosialisasikan manfaat bank syariah untuk menegakkan prinsip Islam dalam bermuamalah. Prinsip Rahmatan Lil alamin.


Banteng, 25 Nopember 2010

Sumber Gambar: Di SINI dan Di SINI


22 November 2010

Dicekik Tugas Sekolah

Ini tentang cerewet, yang biasanya dituduhkan dikalangan para mamak. Cerewet tentang anaknya yang pintar, nakal, lucu, jahil, imut, mimisan, ingusan, cacingan dan banyak lagi jenis cerita cerewet tentang anak yang selalu tiada habisnya di ceritrakan. Karena anak adalah buah hati, permata jiwa, jagoan kecil, bocah usil, maka selalu saja para mamak seolah tak berkoma ketika mengulasnya dengan penuh kebanggaan. Kini saya, Si Ayah yang mau berperan cerewet. Bagaimana rasanya yah?

Seperti datang bulan. Bawaannya ngomel melulu, banyak protes. Saya, Si Ayah hanya ingin mengambil satu bawaan datang bulan ini. banyak protes. Protes cerewetnya tidak tanggung-tanggung. Mulai dari masalah buku pelajaran, Pekerjaaan Rumah yang berjubel pelik, waktu bermain sampai pada hal kebodohan si Ayah sendiri waktu bersekolah dulu. Nah, siap-siaplah membaca tulisan protes cerewet nan panjang ini.

Suatu malam, saya jadi o’ot kelimpungan. Tugas rumah Tira putri kecilku yang baru kelas IV Sekolah Dasar, tak mampu saya jawab. Wajar, Matematika adalah pelajaran ‘mematikan’ bagiku waktu bersekolah dulu. Mistar kayu Pak Guru selalu saja mencecar (maaf) pantatku ketika saya kesulitan menjawab soal perkalian. Ketika itu, saya berada di tingkat kelas yang sama dengan putriku kini. Setelah kucermati soalnya. Ternyata, pelajaran seperti itu seolah pernah saya pelajari sewaktu SMP dulu. Wah, zaman telah berubah pelajaran pun semakin sulit. Setidaknya bagi saya.

Untuk membuang rasa malu, sayapun menanyakan dimana buku cetaknya Ia simpan, mungkin ada contoh di sana yang bisa dicontek.

Tidak ada Ayah, Kata Ibu guruku, bukunya belum datang

Kenapa Nak ?. Kan, bukunya sudah di bayar…!?.

Keadaan bertambah pelik. Saya heran, kenapa bukunya belum ada. Konfirmasi ibunya, buku itu sudah dibayar sejak awal semester. Ternyata pengadaan buku di sekolah nya seperti ditender. Mungkin biar seragam. Sebenarnya bagus, tetapi jangan dong beri PR sulit kalau bukunya belum ada. Memang ada catatan sekolah dari Tira, tetapi tetap saja tidak cukup membuat ayah o’ot ini paham. Tulisannya kecil, demikian alasanku sama si kecil. Alasan dibuat-buat.

Sebelum tulisan ini di buat, buku itu sudah ada. Saya sudah membelikannya minggu lalu, biar saja uang itu ‘mati’ dan biar saja bukunya dobel, satu untuk saya. Ternyata bukunya yang sudah dibayar itu belum ada sampai saat PR itu menyulitkanku. Mungkin penerima proyek buku itu ngacir, saya yang jadi korban. Sebenarnya sudah ada sebagian teman Tira yang mendapatkannya.

Sebelumnya, memang Ibunya yang biasa membantu menjawab soal-soal PR matematika. Ibu anakku, yang juga kekasihku itu memang jago matematika. Tentang matematika, Saya hanya pemeran pengganti. PR favoritku, sebenarnya IPS dan Bahasa. Tetapi bukan Bahasa Inggris. Bahasa itu, sedikit saya benci. Membuat lidah jadi berpilin saja.

Eits tunggu dulu, jangan berhenti membaca. Tulisan selanjutnya adalah inti pesannya.

*****

Kini, biaya pendidikan memang sudah murah. Iklan kampanyenya berkalimat, Pendidikan Gratis. Program ini ditelorkan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo saat kampanye Pilkada Gubernur tahun 2007 lalu. Satu tekad Pak Syahrul, bahwa tak ada lagi anak tidak bersekolah hanya karena alasan biaya. Program yang luar biasa. Wajar saja, Beliau memenangkan Pilkada waktu itu, walau dengan selisih yang sangat tipis.

Gratis yang dimaksud, tidak semuanya. Buku, pakaian dan uang komite sekolah adalah pengecualian. Buku sebenarnya tidak mahal. Bukan itu yang membuatku protes. Muasal protesku cuma satu, kenapa saya tidak tahu menjawab PR matematika anak SD itu. Sebenarnya saya masih mau protes tentang kenapa buku diganti tiap semester, dan kenapa tidak pinjam saja ke kakak kelasnya seperti saya dulu. Saya berhenti protes karena khawatir saja, gurunya membaca tulisan cerewet ini. he-he-he

Selain buku, memang beban belajar anak sekarang berat. Tira, kebanyakan bertemu dengan saya menjelang magrib. Tira pulang sekolah pukul 13.00, Saya ‘tutup toko’ pukul 16.00, ibunya balik kantor pukul 14.00. Tira harus mengaji, les bahasa Inggris, latihan pramuka, atau kerja kelompok pukul 15.00. dan balik pukul 17.00. Saya dan ibunya terpaksa meminta tante nya untuk antar jemput, termasuk menjemput Tari si Bungsu yang masih TK. Praktis hanya sejam waktunya bermain, dan kadang putri kesayangan kami itu tidak menggunakannya bermain, karena tertidur kecapaian. Tidur sore sebenarnya tidak sehat, tetapi kami tidak tega melarangnya.

Setelah magrib, adalagi PR yang harus dikerjakan. Biasanya tidak hanya satu. Pernah saya mendapatkan ada tiga mata pelajaran yang harus dikerjakan bersamaan di rumah. Bahkan kadang ada tugas rumah atau kelompok berupa pekerjaan keterampilan yang PRnya di tugaskan hari Sabtu dan dikumpul hari senin. Hari minggunya pun tercerabut dari bermain bebas. Kenapa yah? apakah seabrek Les sore dan PR yang berjubel itu, mampu mendidik anak bangsa menjadi cerdas? Bagaimana dengan kurangnya waktu bermain, besosialisasi dan bersenda gurau dengan orang tuanya?. Mohon bantuannya. Mungkin saya salah.

Pernah saya menghasutnya untuk membangkang. Menolak mengerjakan PR dan tidak ikut les. Tetapi Tira membantah Ayahnya yang provokator ini. Tira sangat hormat (mungkin) takut pada gurunya. Sekolah tempatnya belajar memang favorit di kabupatenku. Anakku itu rangking 16 semester lalu. Saya sempat meledek protes. Karena waktu kelas IV dulu saya rangking II. Setelah melihat rapornya, saya malu sendiri, ternyata tidak ada angkanya yang bernilai 7. Hanya tiga angka 8, dan lainnya angka 9 atau 10. Sementara saya dulu, rangking II karena mendapat nilai rata-rata 8. Pasti yang rangking I di sekolahnya, rata-rata 10. Jadi malu deh.

Oke, sampai di sini, Anda boleh berhenti membaca.

Judul di atas, dicomot dari profil kompasianer bertalenta hebat Azalleaislin

Salam dari Ayah Cerewet: Daeng Andi

Bantaeng, 22 November 2010