02 Mei 2011

Ramuan Judul Pemikat Tulisan

Tidak perlu membaca seabrek teori agar pembaca terpikat dengan karya tulis Anda. Anda hanya butuh keahlian meramu judul. Bahan ramuan tak harus dicari di rimba belantara atau pada kedalaman samudera, tidak juga pada dukun pelaris. Judul ada pada diri kita, pada benak yang menyimpan sejuta inspirasi. Pada ide yang kadang melintas begitu saja.

Aha! Betapa anggun mahkota Kate Middleton, saat Pangeran William menggandengnya menuju altar pernikahan, berjuta mata tertuju padanya. Iya, Judul adalah mahkota pemikat. Judul adalah kulit pembungkus isi, cadar putih transparan seperti yang dikenakan Kate di gaun pengantinnya. Semua ini hanya ibarat, karena judul bisa dipersepsikan apa saja. Judul pada intinya adalah sesuatu yang mudah diingat, dikenal, juga dikenang pada sesuatu yang pernah dilihat dan baca.

Semua dari kita menyukai sesuatu yang menarik, mengemuka, sederhana, padat dan singkat. Jikalau ingin tulisan Anda dibaca keseluruhan isinya, tentu tidak cukup dengan rangkaian kata yang memikat saja, tetapi juga judul yang menggabarkan isi dan tentu tidak menipu.

Sayang, jikalau pembaca Anda lari, karena judul yang Anda hidangkan sulit dicerna – tak dipahami. Sebaik-baiknya isi tulisan, tak akan dilirik banyak orang jikalau dari judulnya saja sudah membuat kening pembaca berkerut. Ingat, kita sementara tidak membahas judul penelitian ilmiah. Judul yang sementara ingin kita pelajari, adalah judul dari karya tulis bebas.

Anda ingin tahu? Berikut berapa trik yang bukan dari buku teori menulis, tetapi dari pengalaman saya sebagai pewarta warga (citizen journalism). Apa itu pewarta warga? Saya juga belum tahu persis. Citizen journalism adalah istilah yang disematkan pada seseorang yang bukan penulis atau wartawan professional. Saya hanya penulis, yang menulis karena hobby dan ingin berbagi manfaat.

Anda jangan heran, jikalau trik menulis saya kampungan, karena memang saya adalah penulis kampungan. Penulis yang senang menulis tentang kesehajaan kampung. Sesuatu yang alami dan tidak banyak neko-neko.

Eits,….Jangan berhenti membaca, nikmatilah tips ramuan pemikat di bawah ini, jikalau Anda ingin terperosok sebagai penulis kampungan seperti saya.

Menarik dan Aktual

Judul adalah mahkota tulisan. Perlu dibuat semenarik mungkin untuk memancing minat pembaca. Judul yang menarik bagi semua orang adalah barisan kata yang bisa mewakili keingin tahuannya terhadap apa yang disenangi. Anda tahu apa yang disenangi semua orang? sex dan uang.

Sex pasti akan menarik, karena semua manusia membutuhkannya, demikian pula dengan uang atau harta secara umum. Sanrego; Khasiat Perkasa Kuda Jantan , demikian judul yang pernah saya tuliskan. Tulisan ini di kunjungi banyak pembaca saat terposting di kompasiana. Kompasiana adalah salah satu portal kompas.com. Bukan lelaki normal yang tak menginginkan keperkasaan, juga bukan perempuan yang justru bermanja dengan keloyoan. Bukankah demikian?

Ingin Kaya!? Jangan Jadi PNS, adalah judul yang berangkat dari keheranan saya akan berjubelnya pendaftar PNS setiap tahun. Tulisan ini saya posting, saat masa pendaftaran PNS. Selain bernilai aktual, judul ini, juga disenangi karena berkait dengan harta. Semua dari kita menginginkan kekayaan, karena harta inheren dengan kehidupan.

Jujur, sebenarnya saya pernah sedikit menipu dengan judul bombastis; “Citra Mesum, Berganti Geliat Cakar Impor”. Page view tulisan ini melonjak di kompasiana.com, tetapi yang berkomentar sedikit. Kenapa?

Postingan saya di kompasiana itu bergaya reportase. Saya ingin mengabarkan bahwa di Pantai Seruni Bantaeng, ada yang namanya ‘cakar’. Cakar atau Cap Karung tentu tidak akrab di daerah lain, karena hanya diistilahkan di Sulsel. Setiap malam minggu di sepanjang tanggul di Pantai Seruni, hanya dijadikan muda-mudi memadu kasih. Setelah adanya pedagangan pakaian bekas impor ini, citra mesum itu berubah menjadi hiruk tawar-menawar.

Citra Mesum, hanya sedikit saya singgung, karena memang bukan itu poinnya. Walau demikian, tetap saya berusaha memberi kabar, bahwa program pemerintah Bantaeng ini cukup jitu menghindari keremangan Pantai Seruni, menggerakkan ekonomi rakyat, dan yang lebih penting meredam gejolak nafsu dua insan yang dibuai asmara tak bermuhrim.

Mewakili dan Tak Menipu

Jangan terpaku pada keindahan judul, karena bisa jadi itu menipu. Sangat banyak judul-judul di internet yang bombastis tetapi isinya kosong. Setiap kali kita membuka internet, pasti ada pancingan judul bertema sex. Saya menyebutnya judul ‘berlendir’. Judul tentang bagaimana mendapatkan uang dengan mudah juga sangat banyak.

Judul bombastis ini dimaksudkan penulisnya agar blognya banyak pengunjung. Rating pengunjung yang meningkat akan mendatang iklan di sana. Iklan itulah yang akan menjadi sumber penghasilan pemilik blog dengan menjual postingan bertema sex. Ada juga yang sengaja menulis tema sex dengan maksud untuk menggiring pembaca pada tawaran bisnis yang bisa jadi juga menipu. Hati-hati, jika di klik terkadang judul seperti demikian mengandung virus komputer. Judul berlendir, biasa pula sekadar iseng dari penulisnya.

Anda tahu, apa isi dari judul Sanrego Berkhasiat Perkasa Kuda Jantan? Saya hanya ingin mengabarkan bahwa di Sulawesi Selatan ada juga tumbuhan herbal keperkasaan, yang tentu tak kalah hebat dengan pasak bumi atau batu jahannam. Ramuan Sanrego ini hanyalah jamu yang dicipta dan di patenkan oleh Ilmuwan Unhas. Mempromosikan Sanrego, adalah untuk mengenalkan Sulsel, member manfaat penggunanya. Lebih penting lagi saya ingin memberitahu, bahwa saya besar di perkampungan yang bernama Sanrego, yang terletak di Kabupaten Bone.

Judul saya tidak menipu, hanya memancing. Isinya pun bermanfaat, menarik dan unik. Penilaian itu bukan dari saya, tetapi menurut pembaca yang berkomentar di tulisan itu. Judul yang tak mewakili isi, mungkin saja tidak bakal dibaca tuntas oleh pembaca. Reputasi kita sebagai penulis juga akan turun. Maksud penulis adalah untuk tulisannya dibaca. Membuat judul tak berkait isi, hanya akan mengurangi pembaca setia pada tulisan berikutnya.

Singkat Tak Menyiksa

Anda tidak sementara membuat karya Ilmiah, walau isi tulisan anda Ilmiah. Judulnya pun perlu dibuat agar tak menyiksa pembaca. Terkadang baru judul yang dibaca, kepala sudah dibuat pening. Saya ingin mencontohkan satu judul: “Esensi dari Hakikat Fungsi Mahasiswa dalam Ekspektasi Publik

Belum isinya, judulnya saja sulit dicerna. Lalu apa maksud kita menulis. Apakah kita ingin dikatakan hebat dan ilmiah dengan banyaknya serapan bahasa asing? Tentu, maksud menulis adalah untuk menyenangkan pembaca, tidak justru meribetkan pikirannya. Menulis tidak sekadar aktualisasi, tetapi juga buat berbagi manfaat. Kemampuan menyederhanakan dan menjinakkan bahasa adalah penting, agar maksud tersampaikan.

“Kesederhanaan adalah kekuatan”, demikian kata Jack Trout. The Power of Cimplicity, adalah judul bukunya yang sampai hari ini masih saya ingat. judul itu singkat, padat dan menarik. Isi buku itu sebenarnya ‘berat,’ tetapi penulisnya merangkai kalimat dengan lugas. Membaca judulnya saja, kita sudah terpancing menyelami isinya.

Trout, banyak membahas tentang rangkaian kata dalam visi perusahaan atau Negara. Ia banyak menemukan kata-kata rumit dengan arti yang berulang. Kesannya memang ilmiah, tetapi hanya dipahami oleh beberapa kalangan. Gaya jurnalis adalah gaya bahasa awam, informative dan memikat. Ingat, maksud menulis untuk dibaca. Agar terbaca, jinakkanlah bahasa. Buatlah kalimat itu membumi dan dipahami umum.

Judul; Dimana Bermula?

Judul pastilah bermula dari ide yang kita ingin tuliskan. Pertanyaannya, apakah harus membuat judul dulu baru mulai menulis atau nanti setelah tulisan kelar. Bebas! Anda bebas menentukan kapan Anda mulai meramu rangkaian kata untuk judul. Boleh di awal, tengah dan di akhir. Andalah tuan dari tulisan Anda.

Jikalau tulisan adalah patung dan pena alat ukir, maka kata-kata adalah bahannya. Judul adalah Mahkota yang memiliki kekuatan magis untuk memikat pembaca melirik isinya. Mahkota bisa dibuat sebelum keseluruhan patung selesai dipahat. Bisa pula saat kita jedah di pertengahan dan tiba-tiba inspirasi melintas. Pula bisa Anda selesaikan setelah semua tulisan rampung.

Sekali lagi, Anda bebas menentukan judul. Bagaimana dengan saya? Saya terbiasa membuat judul lengkap setelah tulisan saya rampung. Judul awal hanyalah penanda ide untuk memancing saya menagalirkan kata demi kata. Judul yang saya buat di awal, kadang malah membuatku terkungkung. Terbatasi dengan judul yang telah saya buat.

Jikalau di pertengahan – saat saya sementara menulis ispirasi judul itu muncul. Saya berhenti dan menuliskannya, biar tidak terlupa. Inspirasi yang melintas begitu saja, sebenarnya memiliki kekuatan kata karena terbersit dari imajinasi alami kita. Tapi jangan terjebak dan menunggu, biarkan ia muncul begitu saja. Kalaupun tidak muncul, bacalah ulang tulisan Anda yang tak berjudul itu, pasti akan ditemukan judul yang mewakili isi.

Anda ingin membuktikan keampuhan daya pikat judul Anda? Mulailah menulis. Menulis apa? Tentang apa saja. Anda bebas dengan tulisan Anda, bebas yang diikuti tanggung jawab tentunya, ketika tulisan itu diperuntukkan ke public. Bukan judul tanpa isi, karena itu jangan terjebak dengan judul. Judul tidak lebih sebagai pemanis, tetapi kopi pasti akan terasa sangat pahit tanpa gula.

Tulisan saya hanyalah pengalaman, tiada maksud untuk menggurui. Menulis bagi saya hanyalah hobby, sekaligus terapi untuk melepaskan, mencurahkan, sekaligus kadang menghempaskan ide yang menumpuk di benak. Karena hanyalah sebagai hobby, menulis bagi saya tidak jauh dari keinginan untuk memuaskan diri dan pembaca dengan berbagi manfaat bersamanya.

Bantaeng, 2 Mei 2011

Tulisan Terkait

Kearifan Tangga Morowa, Secantik pramugari Makassar Tidak Kasar, Rahasia Perjalanan Dinas legislator , Tulisan kompasianer dikutip Media Lokal, Eremerasa Bersumber Mata Air Pegunungan,Wisata Mistis di Gua Batu Ejayya, Pedas Barobbo Berpadu Hijau Alam Dapoko, Bersama pallu Kaloa Serasa pulang kampung (juara), Berbagi kesan Traumatik, Bank dalam Citra Rentenir Resmi(nominator), Iklan Pemerintah Terbang terbawa Angin, Dengusan Jantan Kuda Prabowo, Janji Lucu Pak Beye, Bantaeng Memancing menteri Menatap Bali, Nama Jawa Bertabur Indah di Makassar, Membuang Penat di Pantai Lambocca, Sensasi Berburu Escolar Di Lepas Pantai Bira, Aku Tak Malu Ibuku Penjual Madu

01 Mei 2011

Diskusi Jurnalistik Menyambut Hardiknas di Baling-Baling

Menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Warkop Baling-Baling menggelar Diklat Jurnalistik Pemuda mulai dari tanggal 1-2 Mei 2011. Inisiator acara, Ir. Arfan Doktrin, menjadikan kegiatan yang rencananya berlangsung selama dua malam ini, sebagai media bagi anak muda Bantaeng untuk berkreasi lewat tulisan.

Kegiatan ini, bagian dari sumbangsih kita terhadap Bantaeng. Saya berharap diklat ini bisa menghasilkan penulis atau wartawan yang dapat mencitrakan Bantaeng. Jikalau bisa, setelah acara ini kita buat buletin khusus yang wartawannya adalah peserta diklat,” kata Arfan dalam sambutan pembukanya.

Andi Harianto yang bertindak sebagai moderator, menjelaskan keterkaitan antara Hardiknas, jurnalistik dan Pemuda. Menurutnya, Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan adalah penulis dan wartawan yang hebat. Ki Hajar telah menulis di berbagai media saat Ia masih berusia sangat muda.

Tulisan-tulisan Ki Hajar, telah terbit pada enam media dizaman Hindia Belanda. Umur beliau ketika itu 24 tahun. Lewat tulisan, Ia berjuang memajukan pendidikan pribumi. Hardiknas, jurnalistik dan Pemuda adalah sesuatu yang berkait,” ungkap Harianto, menjelaskan momentum acara ini.

Diklat yang dirancang dalam bentuk diskusi ringan ini, dihadiri 23 peserta yang diundang secara terbuka melalui facebook. Eka Nugraha, adalah salah satu fasilitator yang pada malam itu (1/5) memaparkan kaidah dasar jurnalistik. Eka yang juga wartawan Harian Fajar, Biro Bantaeng, banyak mengulas tentang pengalamannya sebagai reporter.

Dalam paparannya, Eka menjelaskan pentingnya 1 S (savety), selain 5W + 1 H yang menjadi prinsip penulisan berita. Menurutnya, syarat savety atau amannya berita bergantung pada terhindarnya opini wartawan dalam liputannya, juga pada sumber berita yang berimbang Opini dalam penulisan berita harus dihindari, karena wartawan hanya menuliskan apa yang dilihatnya berdasarkan sumber yang terkait dengan berita. Konfirmasi ke sumber sangat perlu dilakukan,” jelas eka.

Selain berkenaan dengan prinsip dasar menulis berita, Eka juga menjelaskan bagaimana membuat kepala berita, membuat judul yang menarik, aktual dan bernilai berita. Eka banyak memberi contoh berita yang pernah Ia tulis, salah satu di antaranya tentang kasus penculikan dan pemerkosaan anak yang lagi marak di Bantaeng. Pelaku Diduga Memakai Ilmu Hitam, adalah judul yang pernah ditulisnya di Harian Fajar.

Menurut Eka, berita itu mengambil sudut pandang pada pelaku yang diduga memakai Ilmu hitam. Tulisan itu membuat opini masyarakat berubah dan tidak hanya terpaku pada kinerja polisi yang belum mampu mengungkap pelakunya. “Wartawan adalah penentu opini masyarakat, makanya wartawan harus membuat berita yang benar,” ungkap Eka menyinggung sisi lain penculikan anak di Bantaeng.

Peserta diklat cukup antusias. Acara yang berlangsung mulai pukul 20.00 s.d 23.00 WITA ini, melahirkan banyak pertanyaan dan diskusi. Muhammad Anwar, salah satu peserta menyinggung prilaku wartawan yang citranya buruk. “Wartawan itu ditakuti, buktinya banyak pejabat yang bersembunyi ketika ada wartawan”, singgung Anwar melihat maraknya fenomena wartawan “bodreks” yang ditengarai biasa hanya memeras sumbernya.

Peserta lainnya, mempertanyakan bagaimana tips menulis yang baik. “Saya terkadang hanya mampu menulis satu paragraph, tetapi setelah itu buntu, bagaimana cara agar kita bisa menulis dengan lancar,” Tanya Asri, yang dalam perkenalannya ingin menjadikan menulis sebagai hobbi baru.

Pertanyaan ini dijawab Eka dengan menceritakan pengalaman menulisnya. Eka yang tidak pernah mengecap pendidikanilmu komunikasi ini mampu menulis berlembar-lembar setiap hari. Selain Eka, Harianto sebagai moderator dan Syahrul Bayan, Mantan Kabag Humas Bantaeng sebagai salah satu inisiator kegiatan, juga berbagi pengalaman menulis dalam diskusi itu. Harianto sebagai moderator menginformasikan, bahwa trik menulis, akan dibahas medalam pada materi malam berikutnya (2/5).

Di akhir acara, Arfan Doktrin sebagai inisiator dan juga pemilik Warkop Baling-Baling ini, mengusulkan agar setiap peserta membuat berita tentang acara diklat itu sebagai bahan latihan. Peserta juga menyepakati di buatnya Group Facebook “Bantaeng Menulis” sebagai wadah memposting tulisan, juga media saling berbagi informasi tentang tips-tips menulis.

08 Februari 2011

Jejak Tiga Kekaisaran Cina Penanda Kelahiran Butta Toa

Tiga Dinasty kekaisaran China telah menjadi penanda sejarah lahirnya Bantaeng. Kabupaten yang berada 120 KM dari Makassar ini, menetapkan hari lahirnya pada tanggal 7 Bulan 12 Tahun 1254.Tahun dimana Wayne A. Bougas, seorang arkeolog Amerika membuktikannya dengan temuan keramik yang berasal dari dinasti Sung yang berkuasa di daratan Cina tahun 960-1279. Selain Dinasti Sung, juga ditemukan keramik yang berasal dari Dinasti Yuan (1279-1368)

Adapun dinasti Ming, menandai kehadirannya dengan sebuah guci yang didalamnya terdapat bongkahan emas murni. Guci itu, kini masih terlihat di kubah Masjid Tua Tompong yang dibangun 1887 oleh Raja Bantaeng, Karaeng Panawang. Guci dari dinasti Ming yang telah mengukuhkan penyatuan Cina ini, dibawah sendiri oleh para pedagang Cina. Pedagang Cina di Bantaeng, telah bermukim pertama kali, di sebuah kampung yang bernama Lembang Cina.

Ambae.exe, seorang putra Bantaeng, dalam komentarnya terkait tulisan ini di kompasiana mengungkap versi lain tentang awal kedatangan etnis China. Menurutnya, berdasarkan sejarah, Bangsa China pertama kali berlabuh di Cidondong Parring-Parring yang terletak di Utara Bantaeng. Di tempat itu ditemukan berbagai artefak seperti guci.

Selain keterkaitan dengan Cina ini, Bantaeng juga tercatat dalam ekspedisi Mahapatih Gaja Mada.Tahun 1254 dalam atlas sejarah Dr. Muhammad Yamin, telah dinyatakan wilayah Bantaeng sudah ada, ketika kerajaan Singosari dibawah pemerintahan Raja Kertanegara memperluas wilayahnya ke daerah timur Nusantara untuk menjalin hubungan niaga pada tahun 1254-1292. Bantaeng tercatat dalam kitab negarakertagama dengan sebutan “buttayya ri bantayang”.

Bantaeng dulu, memang adalah pelabuhan tempat singgahnya kapal-kapal niaga. Penentuan autentik Peta Singosari ini jelas membuktikan Bantaeng sudah ada dan eksis ketika itu. Bahkan menurut Prof. Nurudin Syahadat, Bantaeng sudah ada sejak tahun 500 masehi, sehingga dijuluki Butta Toa atau Tanah Tua (Tanah bersejarah).

Temuan artefak sejarah dari Dinasti Sung, Yuan dan Ming, adalah jejak kehadiran bangsa Cina. Tidak hanya itu, Bantaeng yang juga disebut Bantayang oleh Majapahit dan Bonthaink oleh Belanda, di awal mula kerajaannya pada tahun 1254, disebutkan bahwa kerjaan ini mulanya dipimpin oleh mula tau yang digelar To Toa, kemudian digantikan oleh Raja Massaniaga. Raja ini memiliki seorang putri yang kembali menceritakan ke generasi saat ini, bahwa Bantaeng juga, bisa jadi bertalian kerabat dengan kaisar China. Apa betul?

Versi lain dari sejarah mengatakan bahwa yang menikahi Dala, putri RajaMassniaga adalah seorang pangeran dari Cina (Salam 1997: 24). Pernikahan ini dikaruniai kelahiran anak bernama Karaeng Loe. Kelahiran Karaeng Loe yang menjadi cikal bakal raja-raja Bantaeng, diperingati setiap pada 10 Sya’ban di tiap tahunnya dan disebut upacaraPa’jukukang. Hal ini memungkinkan, karena Karaeng Loe sendiri memerintah pada tahun 1293 – 1332, dimana dinasti Sung ketika itu sudah berkuasa di daratan cina mulai tahun 960M.

Versi lainnya lagi, adalah ketika Sawerigading, salah satu tokoh utama dalam epos terpanjang di dunia, La Galigo. Pangeran kerajaan Luwu ini, mengunjungi Bantaeng dan berlabuh di Nipa-Nipa, pantai Pa’jukukang, saat ini berada di jalan poros Bantaeng-Bulukumba. Di hari keempat, Sawerigading kemudian naik menuju Gantarang Keke, sebuah perbukitan di Kecamatan Gantarang Keke saat ini. Di sini, Sawerigading menikahi Dala, putri Bantaeng. Kerjaan Luwu sendiri adalah kerajaan tertua yang ada di Sulawesi Selatan.

Saweregading sebagai leluhur suku Bugis, sebagaimana dituliskan ditulis Cristian Pelras dalam ‘Manusia Bugis’, juga lekat dikisahkan perantauannya ke negeri Cina untuk meminang We Cudai yang dalam cerita itu sesungguhnya adalah saudara kandung dari Saweregading sendiri. Jikalau ini benar adanya, maka keterhubungan silsilah antara kekaisaran Cina dan Raja-Raja Bantaeng, menarik untuk dikaji kembali.

Berangkat dari kebenaran sejarah ini, eksistensi etnis Tionghoa telah menandakan bahwa pembauran Cina dan etnis pribumi baik melalui berdagangan dan berkawinan sudah ada sejak dahulu. Entah mengapa, saat sekarang ini apalagi di jaman Soeharto Etnis Cina terkesan ekslusif dan terasa sulit berbaur dengan pribumi. Kesenjangan sosial berkenaan dengan etnis ke tiga terbesar di Indonesia ini, telah berbuah kerusuhan di Makassar. Ketika itu, yang saya saksikan sendiri dengan tatapan ngeri pada tahun 1997.

Di Bantaeng, kerusuhan antar etnis tidak pernah terjadi. Bahkan keluarga Karaeng (keturunan Raja) menikah dengan Etnis ini. Bantaeng jaga adalah Kabupaten terbanyak (selain Makassar) yang dihuni Etnis Tionghoa. Setidaknya di daerah Selatan-Selatan, Propinsi Sulawesi Selatan. Menurut Ambae, Kota Kecil ini juga sering dijuluki kota Tionghoa.

Di Bantaeng, terdapat pekuburan Cina, kampung cina dan pasar yang didominasi oleh etnis yang memang ahli dalam hal perdagangan. Berbaur dengan penduduk lokal sangat jarang terlihat, walau demikian etnis Tionghoa ini berjasa menggerakkan perekonomian Bantaeng. Keramahan etnis Tionghoa, itu sudah pasti. Mana ada pedagang yang tidak ramah kepada pembelinya.

Sebagai orang yang bermukim di Bantaeng sekitar 5 (lima) tahun yang lalu, saya mengenal Bantaeng sangat kaya budaya, negeri elok dengan banyak lokasi wisata, mungil tetapi cantik berhiaskan pantai, pegunungan dan daratan. Sayur, Ikan, beras serta buah-buahan sangat mudah dan murah ditemui dan dibeli di tempat ini. Satu lagi, di sini ada perkebunan strawberry.

Gong Xi Fa Chae…..

Tulisan ini telah diedit, setelah sebelumnya dimuat di kompasiana.

Bantaeng, 5 Februari 2011

Bersama Pallu Kaloa, Serasa Pulang Kampung


Semua tersentak, kemudian riuh tepuk tangan membahana saat Barrack Obama spontan berucap “Pulang kampung, nih….” Kurang lebih 6000 undangan di Balairung UI saat itu, tehipnotis pesona Obama.

Saya sedikit menebak, bahwa lidah Obama saat itu, terbawa suasana makan malamnya dengan Pak Beye. Makan malam dengan kuliner khas Indonesia. Nasi goreng, bakso dan emping, adalah kesukaan Presiden Amerika ini, sewaktu masih bocah di Menteng Dalam.

Tak hendak saya mengupas tentang Obama, hanya ingin berbual tentang kesan ‘pulang kampung,’ saat beberapa hari lalu (16/12), bersama keluarga menikmati kuliner khas Bugis-Makassar, Nasu Pangi. Di bilangan Jl. Sultan Alauddin, tepatnya di depan, sebelah kanan Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, terdapat sebuah warung yang ramai pengunjung. Warung Pangkep, namanya. Pallu (masakan), Kaloa/pangi (Kluwak). Masakan Kluwak.

Pallu Kaloa, sama saja dengan Nasu Pangi. Satu dalam bahasa Makassar dan satunya lagi sebutan bahasa Bugis. Dua suku yang kini ‘menyatu’ dalam sebutan Bugis-Makassar. Sebagai orang Bugis, yang kini bermukim di wilayah Makassar (Bantaeng), Pallu Kaloa adalah masakan favorit nenek saya di kampung. Menyantapnya ketika itu, serasa ikan kakap sebagai bahan utama kuliner khas ini, membawa saya seolah mengintip dapur almarhum nenek saya, yang dulu memasak dengan kayu, dari ranting pohon jati.

Pallu kaloa, memang harus dimasak dengan kadar panas yang tinggi. Kayu jati atau puhon asam adalah penghasil bara api yang baik. Itu di kampung, sekarang gas elpiji 3 kg sudah bisa menyainginya. Sayang mudah meledak. Bisa berubah, mendadak jadi bom hijau. Pallu Kaloa yang berbahan ikan kakap, kelapa ½ butir, daun salam, biji pala, sereh, biji cengkeh dan bawang goreng ini, berbumbu khusus yang mebedakan rasanya dengan masakan ikan khas lainnya di Makassar. Semisal Pallu Mara, Pallu Kacci atau Pallu Basa.

Rahasia bumbunya, ada pada buah kluwak. Sama halnya dengan masakan Pindang Tetel, yang ada di kecamatan Kedungwuni, daerah Pekalongan. Makanan khas tersebut semacam rawon namun menggunakan ‘kluwak’ dengan tetelan daging (bukan tetelan pindang ikan) ditambah dengan sambal manis dan disajikan dengan krupuk ‘usek’ yang diremas. Lain di Pekalongan lain di Makassar. Pindang Tetel hanya saya rasakan nikmatnya melalui info Wikipedia, sementara Pallu Kaloa telah membuat rasaku mengawan kembali ke kampung, dimana pohon kluwak banyak tumbuh disana.

Pohon kluwak, dalam bahasa Bugis kami sebut sebagai aju pangi. Buahnya memiliki kulit yang keras membatu, ketika buah menjadi tua. Dulu, saya sering diminta nenek menanamnya di bawah tangga kayu rumah panggung kami. Setelah menunggu waktu 40 hari, baru digali kembali. Buahnya di bakar, kemudian dipecah, di campur dengan daun bawang, cabe, lalu di tumis. Jadilah sambel yang enak, mirip terasi. Sangat nikmat disepadankan dengan nasi santan.

Kluwak yang menjadi bumbu Pallu Kaloa bukanlah, buah yang tua, tetapi irisan buah yang muda. Buah kluwak ini kemudian ditumbuk halus sebagai bumbu utama. Satu porsi pallu kaloa, yang berisi belahan kepala ikan kakap, hanya seharga Rp. 20.000. Tumisan bawang, taburan gorengan kelapa, berpadu nikmat dengan aroma pala, lengkuas dan biji cengkeh.

Sedikit rahasia, walau masakan di warung ini enaknya bukan kepalang, tetapi tetap lebih nikmat masakan nenek saya di kampung. Mungkin karena psikologi Human Touch. Sentuhan manusiawi nenek saya ketika menghidangkan masakan ini telah memanjakan kami, para cucunya. Ikan di kampung sangat jarang, sehingga masakan ini hanya dapat kami nikmati saat kakek menerima gajian pesiunannya, dan singgah di pasar membeli ikan atau daging sapi. Pallu kaloa juga bisa berbahan utama daging sapi.

Ludes saya menghabiskannya. Sisa kepala ikan yang tak mampu dihabiskan istri dan putri bungsuku pun, saya embat. Ehe, semakin mengabsahkan saja diriku ini balala (sedikit rakus). Tak apalah. Kata kakek, jangan sisahkan makanan walau itu hanya sebiji nasi. Makanan adalah kehidupan, menyia-nyiakannya sama saja kita tak menghargai hidup ini. Sombong.

Tamasya kecilku bersama keluarga, minus putri sulungku karena lagi semesteran, telah menjadi kesan pulang kampung, walau tanah kelahiranku di Kabupaten Bone, masih sejauh 190 kilometer dari kota Makassar. Sebenarnya, tamasya itu hanya saya manfaatkan untuk menyenangkan keluarga. Tujuan utamaku sebenarnya, adalah menghadiri pertemuan kantor dan sekaligus mengikuti acara pembukaan Musyawarah Provinsi, di salah satu organisasi pemuda, dimana saya menjadi presidiumnya.

Semua adalah ‘sekaligus’, aji mumpung positif. Mumpung kendaraan lagi lowong, mumpung saya ke Makassar, mumpung ada pallu kaloa yang sudah sangat jarang saya nikmati. Tamasya mendadak bersama keluarga di sela kesibukan pekerjaan adalah nikmat tersendiri. Anak-anak merasa diperhatikan. Romantisme ‘berpacaran’ dengan mantan kekasihku, yang kini menjadi ibu dua putriku, terasa begitu lengket kayak perangko, harga 5000.

Bantaeng, 19 Desember 2010

Tulisan ini juga dimuat di kompasiana, meraih tulisan tervaforit untuk lomba My Holiday

05 Desember 2010

Bantaeng Memancing Menteri; Menatap Bali

Aco datang tergesa. Tanpa salam, Ia menghambur masuk rumah . Saya yang lagi bobo siang usai Jumatan, terperanjat. Ada apa?. “Kak, ada lokasi baru. Semua sudah berangkat, mereka menunggu disana. Cepat ki!”. Seolah Tak bersalah, Aco sobatku itu malah mendesak. Sialan!

Aha, Hayoo!. Dua minggu ini, memang saya tidak memancing. Joran pancing yang menggantung di pundak Aco, membuat hilang gusar ini. Joran itu seolah genit menggoyangkan alis, mengajakku berbenah, meminta digandeng mesra, pantai adalah tujuan kerinduanku. Tak perlu cuci muka. Sigap, saya bergerak menuju arah Barat Daya, kota mungilku. Lokasinya berada dekat perbatasan Kabupaten Banteng-Jeneponto.

Mattoanging, nama perkampungan nelayan itu. Seperti namanya, sesejuk angin, semilirnya.Mattoanging, bisa diartikan daerah terbuka, dimana angin bebas berhembus. DaengJama’adalah nelayan yang akan kami sewa perahunya. Kami menuju rumahnya yang beratap seng berkarat dan berdinding gamacca (jalinan bambu). Terlihat bolong sana-sini. Tentang rumah para nelayan yang kumuh, biasalah kita temukan di seluruh nusantara. Saya jadi heran, kalau Anda heran.

Kini lagi musim, menteri beriklan di tivi. Fadel Muhammad Menteri Kelautan itu, jadi bintang iklan. Bersolek tampan menganjurkan makan ikan. Pak Menteri benar, Ikan memang mengandung omega 3, suplemen penting kecerdasan. Tapi tolong dong, pencari ikan itu juga diperhatikan Pak Menteri. Sedari lahir, Daeng Jama’ sudah hidup dari ayahnya yang nelayan. Kok rumahnya masih seperti itu? Setahu saya, ikan-ikan bergizi itu banyak diekspor ke Jepang. Harganya mahal. Apalagi ikan kerapu, yang hidup dibebatuan karang. Di sini, nama local kerapu, disebut jawa-jawa.

Loh, Kok saya merajut ke Menteri!?. Merajutpun, saya sangsi tulisan ini dibaca olehnya. Beliau sudah sangat sibuk mengurus laut dan perusahaan bonafidnya. Akh, Kelaut aje…., berlima saya menaiki perahu yang lumayan layak. Mesinnya sih sudah jadul, tetapi Daeng Jama’, terlihat cukup ahli menguasai mesin bututnya. Ribet juga, starter mesinnya, harus putar. Dua kali putaran bertenaga, mesinpun menderu. Druuuukhmmmmm……kami melijit. Topi caping militer kawan tentaraku, hampir saja berenang. Pak Bur, namanya. Tegap badannya. Hitam legam.

Peduli setan dengan menteri dan topi tentara. Saya hanya sibuk jepret kiri kanan. Kamera telepon genggam, adalah alat jepretku. Hasilnya liat sendiri,pasti kualitasnya jeblok. Maklum 2.0 megapixel, harganya pun cuman Rp. 315.000. Duh, saya sangat kepingin punya kameracanon(kapan yah?). Dengan kamera HP Sony Ericson S312, saya mengabadikan suasana laut, darat, langit, pelabuhan, perahu, ikan, pancing, juga para bocah yang riang mandi telanjang.

Kamera tidak keren inipun mengabadikan gunung Lompo Battang di ketinggian sana, terlihat tertutup kabut. Untung saja gunung ini bukan termasuk gunung api aktif. Seandainya iya, mungkin saya ada bakat jadi kuncen. Saya kagum dengan almarhum Mbah Marijan yang pemberani itu. Gugur dalam kesetiaan, dipeluk lahar merapi, kekasihnya. Menurut peneliti, Bantaeng bukan jalur patahan gempa. Bebas tsunami, setidaknya 50 tahun ke depan. Komplitlah kotaku ini, layak dikembangkan menjadi wisata baru yang minim resiko alam. Semoga Tuhan tetap melindunginya.

Laut Bantaeng, adalah jalur pelayaran internasional. Kapal kargo banyak terlihat di lepas pantai saat badai datang. Bersandar berlindung dari hantaman gelombang Selat Makassar. Dulu, Belanda membangun Pelabuhan Kayu di Mattoanging ini. Sekarang, Pemkab sementara membangun pelabuhan permanen untuk menghubungkan Bantaeng dengan Pulau Selayar, juga penghubung pelayaran wisata Bantaeng-Bali. Nah, ini yang luar biasa. Bali memang lebih dekat dari Bantaeng, daripada harus ke Pelabuhan Makassar.

Pariwisata Bali akan dipadukan dengan pariwisata maritime dan wisata agro Bantaeng. Itulah visi hebat bupati kami. Namanya DR. Nurdin Abdullah. Meraih gelar master di Jepang. Yakin deh, jikalau visi Pak Bupati baik ini tercapai. Kotaku akan jadi destinasi wisata baru di kawasan selatan Makassar. Semoga bukan janji.

Kita ingin jadikan Bantaeng sebagai salah satu pusat pertumbuhan di Sulsel. Mengurangi beban Makassar karena beberapa tahun ke depan, Makassar semakin tak bisa bergerak,” jelas Pak Bupati. Jangan melongo. Bukanlah saya yang mewawancarai beliau, saya hanya membacanya diberita upeks online.

Karena keasyikan celoteh ngelantur. Mancingnya jadi lupa dikisahkan. Singkat saja yah, biar bualannya tidak panjang. Hanya sekitar 15 menit, saya sudah sampai ke lokasi pemancingan. Sangat dekat dari pantai. Hanya sekitar 500 meter. Pelabuhan Mattoanging tampak jelas. Raungan motor balapan liar anak muda di tepi pantai pun terdengar riuh. Anak muda itu, lagingetes jalan aspal yang baru dibangun untuk akses ke pelabuhan. Bantaeng lagi menggenjot infrastruktur, menyangga fasilitas pelabuhan.

Joran beraksi. Hanya sepersekian menit, ikan kanera pun tertipu. Kanera, nama ikan pastinya. Hidup diantara terumbu karang yang masih perawan. Bahasa Indonesianya tidak tahu saya. Apalagi latinnya. Malas saya mencari tahu.

Strike demi strike terjadi. Bermacam-macam ikan bebatuan karang sudah menggelepar di perahu. Ada sekecil daun mangga, tetapi pula ada selebar sandal jepit. Bermacam-macam, beraneka jenis, bercampur aduk rasa riang ini. Adrenalin pun terpicu, saatjuku (ikan) sunu merampas buas udang segar umpan saya. Ikan lapar itu tidak berhasil mencuri, dia tersangkut kail. Tertipulah kau ikan!.

Memancing di bebatuan karang, perlu keahlian khusus. Orang baru hanya akan sibuk memasang mata kail. Seperti Ippang kawanku, kailnya tersangkut melulu. Karang itu tajam. Mudah memutus picura (senar). Sebagai orang yang berpengalaman (sombong nih…), saya hanya dua kali putus senar. Mau strateginya? Datang saja ke kotaku. Pamali menjelaskannya di sini. Boro-boro menjelaskan. Ikan Bakar sudah menunggu untuk disantap, setelah semalaman ngumpet di kulkas.

Jagalah laut, lestarikan terumbu karang. Pedulilah pada nelayan, jangan hanya menikmati gizi ikan untuk kecerdasan Pak Menteri. Boleh diekspor untuk devisa, tetapi nelayan juga perlu dimakmurkan. Pukat harimau dilarang, apalagi pake racun, ngebom terumbu karang itu perbuatan penjahat. Camkan itu!

Tolong jangan beri rating ‘aktual’ karena saya memancingnya hari Jum’at, dua hari yang lalu.Ceritanya basi, tetapi ikannya masih segar.


Bantaeng, 5 Desember 2010

Tulisan ini telah dipublikasikan di SINI (kompasiana.com)

Sungguh! Saya Bingung tentukan judul dan kategori tulisan. Mohon Koreksinya.

Salam Pemancing

Gambar di atas, dikolaborasi dengan foto milik Anila Bonthaink. Biar gambarnya keren.

Berikut bincang pemancing. Kutiliskan kukabarkan kekayaan laut Nusantara:

Berburu Escolar di Lepas Pantai Bira // Nama Jawa Bertabur Indah di Makassar // Pemancing Muara Mengabarkan Cuaca // Potret Nelayan dari Sosok Daeng Gassing // Fugu Fish; Mewah di Jepang //memancing di Ujung Katinting ada Boaz di sana//