16 Februari 2012

Irex Sinjai, Jangan Pulang Sebelum Magrib

Kado khusus buat papa
Setiap saya ke Sinjai, Lappa dan Irex selalu saja menggoda untuk dinikmati. Lappa adalah tempat dimana pelalangan ikan terbesar di Sulsel berada, sementara Irex adalah nama yang awalnya membuat saya tersenyum “ehm” .

Mendengar kata Irex terbayang penggalan iklan, “kado khusus buat mama”. Yah, Irex memang sejenis obat kuat khusus pria, tetapi di Sinjai lain.

Sambil menunggu ikan bakar siap di santap, Irex menjadi minuman pembuka. Hiruk pikuk dan hawa panas pelabuhan malam itu membuat gerah ini terobati dengan dinginnya minuman khas yang diolah dengan cara fermentasi itu. Irex terbuat dari ramuan tape, madu, susu dan kuning telur.

Nampak dari bahannya, minuman yang terdinginkan dalam freezer dan terkemas sederhana dalam botol air kemasan itu, memang bisa untuk mengembalikan stamina kami, setelah seharian di Sinjai menggelar pertemuan kantor. Hari itu, 30 November 2011. Bersama empat orang teman sekerja, saya berkunjung ke kabupaten berlambang kepala kuda putih itu. Di Sinjai, Kuda dimaknai sebagai simbol keperkasaan, ketekunan dan semangat kerja keras.

Jarak Bantaeng kabupaten saya, dengan Sinjai hanya ditempuh maksimal 2 jam. Kalau Anda berangkat dari Makassar dengan kendaraan bermotor, Anda akan menikmati perjalanan menyusuri tepian laut melewati kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Bulukumba. Waktu tempuh kurang lebih 4 jam dengan jarak 195 km.

Beberapa kali saya berkunjung ke daerah yang juga penghasil durian Ottong ini, selalu saja ditawarkan makan ikan di Pelabuhan Lappa, tetapi baru malam itu saya menikmati kelezatan ikan bakar dan nasi kuning santannya serta menyerumput nikmat Irex yang bernama seksi itu. Biasanya, saya hanya mengunjungi Rumah Makan Nikmat yang terletak di pusat kota yang juga menyajikan menu favorit ikan bakar.
Nasi kuning santan, makanan sepadan ikan bakar
Kesan kumuh pastilah mewarnai setiap area pelelangan ikan di Indonesia, termasuk di Sinjai. Suasana ini tidak menjadikan pelabuhan Lappa sepi dengan orang bergaya mentereng untuk datang ke tempat itu, sekadar menikmati ikan bakar di warung yang berjejer di sepanjang pelabuhan. Becek dan bau anyir ikan akan segera terhapus setelah kepulan asap hasil bakaran ikan Baronang, cepak, sunu, katamba’, udang dan cumi-cumi mengepul menggoda selera.

Ada sesuatu yang khas, pelanggan sendiri yang memilih ikan di area pelelangan. Membayarnya, kemudian membawanya ke warung untuk dibakarkan. Nasi dan cobe’-cobe serta irex disiapkan pemilik warung. Anda tahu, harga ikan di Lappa sangat murah. Lima ekor ikan cepak dan baronang seukuran dua sandal jepit, saya beli hanya seharaga Rp. 50.000. Murah, karena di pasar biasanya berharga minimal Rp. 30.000 per ekornya.

Karena saat itu saya di traktir alias makan gratis, uang yang dikeluarkan teman baik saya yang warga Sinjai itu saya taksir hanya sekisaran Rp. 300.000 – Rp. 500.000, kami empat belas orang sudah bisa menikmati menu ikan laut bermacam-macam. Heran juga, kok bisa semurah itu. Selain heran juga senang karena gratis lah yaouw….

Kala itu, Timnas Indonesia Selection juga menjelang laga melawan Tim LA Galaxi. Makan malam itu, juga kami jadikan momentum menunggu tendangan pisang David Beckham. Memang semua warung, termasuk RM Yuli tempat kami makan mengarahkankan remoute tivinya ke pertandingan itu. Pelabuhan Lappa ternyata demam sepak bola.
Siap-siap melahap
Belum mampu terhabiskan semua makanan, kick off babak pertama dimulai, kami pun bergerombol sambil membawa piring masing-masing ke depan tivi. Sial, sebiji cabe rawit tergigit tak sengaja. Huah….!Pedasnya menyengat bukan kepalang, ditambah keringat bercucuran karena nikmat dan hawa panas di sekitar pelabuhan.

Pelalangan Sinjai ternyata tak hanya dikunjungi kapal nelayan lokal dan kapal regular dari pulau-pulau Sembilan. Persinggahan ikan paling ramai di Sulsel itu ternyata juga dikunjungi kapal nelayan dari luar Sinjai seperti Jeneponto, Takalar, Pangkep, Sinjai, Bone dan Bulukumba. Bahkan ada yang dari Sulawesi Barat dan Kalimantan.

Rata-rata kapal yang berlabuh di Pelelangan itu 1172 kapal pertahun menurut data tahun 2000. Sepuluh tahun yang lalu, 11.500 ton ikan terhampar dipelelangan.Tentu saat sekarang ini pasti lebih meningkat, karena pelabuhannya telah diperluas. Memang malam itu, sepanjang pantai, hanya terlihat jejeran kapal para nelayan.

Suasana Malam Pelabuhan Lappa Sinjai
Pelabuhan Lappa yang hanya berjarak sekitar 15 menit dari Ibu kota Sinjai tak pernah sepi. Pukul 16.00 kapal sudah ramai bersandar dan semakin bertambah saat setelah menjelang malam. Puncaknya pada pukul 03.00 dini hari.

“ Jangan pulang sebelum magrib”, kata kawan saya yang orang Sinjai itu saat menahan saya agar tak segera balik ke Bantaeng. Menurutnya, hanya setelah magrib Sinjai bisa dinikmati. Nikmat ikannya, segar dan menggetarkan sajian irexnya. Irex akan menjadi nama yang bakal membuat penasaran bagi yang belum pernah menikmatinya.
Bantaeng, 12 Desember 2011

03 Agustus 2011

Ziarah Ke Makam Belanda




Ritual ziarah ke makam menjelang Ramadhan, sudah tradisi mayoritas muslim di Indonesia. Seperti halnya di kota saya, tiga hari sebelum puasa para peziarah memenuhi makam demi mendoakan para leluhur.
Di antara para peziarah, Ada sekelompok orang yang mungkin berlaku aneh bagi sebagian yang melihatnya. seperti apa kisahnya?
Dua Kuburan Berbentuk Tugu
Sebulan sebelum Ramadhan, saya dan beberapa teman bersepakat untuk berkunjung ke beberapa situs bersejarah. Berkunjung ke situs jadi pilihan, tentu dengan satu maksud ingin menulisnya.
Saya hendak berbagi tentang mengapa Bantaeng sebagai salah satu Kabupaten di Sulsel dijuluki Butta Toa atau Tanah Tua. Tentu ada sejarah yang menguatkannya.

Karena kesibukan masing-masing, jadilah waktu berkunjung kami tepat sehari sebelum Ramadhan. Saat ketika banyak orang berkunjung ke makam kerabat mereka. Sasaran pertama adalah situs kuburan Belanda. Kuburan itu, paling sepi dikunjungi para peziarah. Kenapa sepi? pasti pembaca sudah tahu jawabnya.
Makam itu dikelilingi padatnya pemukiman penduduk. Banyak mata yang melihat kami, sebagian dari mereka pasti heran, karena kami berkunjung diwaktu dan tempat yang tak lazim. Mungkin pula ada yang mengira kami adalah kerabat mendiang yang telah berbaring lebih seabad yang lalu itu.

Tapi kok, ada turunan Belande yang matanya tak hijau, rambutnya tak pirang, badannya tak jangkung, juga hidungnya tak mancung. Sekadar info, saya ini pesek, ikal hampir keriting, langsing untuk tak mengatakan kerempeng tetapi mata ini begitu menggoda. Hati ini tulus ingin berbagi kisah tentang kota kami, bekas afdeling Belanda, zaman VOC.

Peduli amat dengan anggapan orang-orang. Toh, sehari sebelumnya kami pun sudah melaksanakan tradisi nyekar ke makam kerabat. Lagian kegiatan ini mulia menurut kami, yaitu berziarah ke makam Belanda yang kerabatnya jauh di negeri kincir angin. Hanya satu makam yang sering dikunjungi keluarganya, yakni makam G.T.C Bosch. Orang sekitar menyebutnya Tuan Bos.
Gerbang Menuju Makam, Ada Kambing Nyalib Lensa.

Makam yang terdiri puluhan itu, berada di Jl. Pemuda,kelurahan Pallantikang, kecamatan Bantaeng. Posisinya berada di tengah kota. Kenapa di sebut “Pallantikang”, karena di sekitar tempat itu terdapat pohon beringin tua di tengah pekuburan para keluarga karaeng (turunan raja). Pohon beringin itu pertanda, di sanalah bermula kerajaan Bantaeng.
Di bawah pohon beringin itu dulunya, para pangeran dilantik menjadi Raja. Masih terdapat, Pappuniagang, yakni batu tempat dimana posisi calon raja berdiri untuk diberkati sebagai pemegang tahta kekaraengang. Sekitar 50 meter di depan kompleks makam Belanda, juga terdapat Palangirang, yakni batu berlubang tempat para karaeng membasuh diri sebelum dilantik oleh dewan adat (ada’ sampulongrua) yang berfungsi sebagai legislator kala itu.
Kalau Anda bertanya, mengapa makam Belanda berada dekat pelantikan para raja? maka itu pun menjadi pertanyaan saya. Beruntung saya dapat jawaban dari sumber yang tepat, karena saat itu saya serombongan dengan Ibu Nurbaeti teman kerja saya. Karaeng Beti, biasa Ia akrab disapa, adalah cucu Karaeng Bantaeng terakhir, A. Massuwalie Kr. Gassing.

Menurut Kr. Beti, wilayah itu memang kompleks pekuburan di masa lalu. Terdapat empat kelompok makam di area yang sudah dipadati pemukiman warga di sekitarnya itu, semua telah dipagari untuk membedakan status kompleks makam. Di sebelah jalan makam Belanda, terdapat makam keluarga karaeng Bantaeng yang letaknya di sekitar pohon beringin. Di sampingnya terdapat krlompok makam warga biasa, yang pada zaman kerajaan adalah pemakaman para pelayan raja.

Komplek pemakaman yang paling penting, berada di bagian Selatan. Lokasi itu adalah komplek Makam Latenriruwa dan raja-raja Bantaeng. Makam itu, juga disebut taman Purbakala yang memiliki nilai sejarah tinggi. Kompleks pemakaman itu telah dipugar, dan kini terlihat asri dan menjadi salah satu objek wisata budaya yang kami banggakan. Tentang makam itu, ceritranya lebih seru, kali lainlah saya kisahkan.

Kembali ke pemakaman Belanda. Kompleks itu terlihat tidak terpelihara. Beberapa makam, memang masih terdapat nama almarhum, tetapi itu karena keramik tempat namanya diukir terlalu tebal dan kuat untuk dicungkil para vandalism. 

Tangan-tangan jahil, telah merusak beberapa bagian makam. Banyak makam yang sudah tak bernama karena tegelnya pecah atau hilang diambil penjahat kuburan. Beberapa kuburan juga rusak, karena genangan banjir. banjir bandang yang pernah terjadi Bantaeng, 4 tahun lalu, telah merusak beberapa makam. Salah satunya makan tertinggi di tempat itu.

Kompleks itu memang berada di kerendahan, juga terletak di pinggir sungai Calendu. Sebelum dibangunnya Cekdam Balang Sikuyu dua tahun lalu, makam itu selalu tergenangi air luapan saat musim hujan datang.
Karena banyaknya plat nama makam yang raib, saya tak bisa mengindentifikasi yang mana kuburan tertua di sana. Kuburan tertua yang saya lihat saat itu, bertahun 1861.

Di lihat dari tahunnya, para mendiang meninggal saat kota kami dijadikan wilayah administrasi pemerintahan Belanda atau afdeling. Setiap afdeling, terdiri dari beberapa onderafdeling, setingkat Kabupaten.

Asal tahu saja, kota kami yang walaupun kabupaten kedua terkecil di sulsel saat ini, pernah menjadi wilayah setingkat propinsi, sebelum Soekarno-Hatta memproklamirkan dihapusnya penjajahan di muka bumi ini. Karena Belanda, kota kami terdesain seperti kota-kota di Eropa. Sayang, beberapa bangunan Belanda telah hancur, dan perumahan dari segi bentuk dan lokasi, kurang tertata setelahnya.

Makam Belanda itu juga terdapat beberapa bentuk. Ada yang berbentuk datar seperti umumnya, juga ada yang berbentuk tugu. Saya belum memahami, makna dari bentuk itu. Ahli sejarah lebih tahu, karena memang saya hanyalah ahli jalan-jalan. Kuburan tertua yang ada di situ berbentuk tugu.

Ahli klenik juga pernah ingin mengungkapnya dengan rencana syuting progam uka-uka oleh salah satu tivi swasta. Acara tivi yang telah di banned MUI itu, ternyata tidak sempat syuting. Mungkin karena terlalu seram, atau malah tak seram lagi. Saya sendiri merasa tidak seram, karena memang saya hanya mau datang ke kuburan saat siang, itu pun bersama banyak orang.
Kondisi Makam Memprihatinkan
Makan Berbentuk Datar
Sempat pula saya bertanya dalam hati, kapan yah Belanda menjajah Bantaeng? Betulkah Bantaeng dijajah selama tiga abad? Sepertinya kuburan Belanda itu bisa bercerita. Bukan yang ada di dalamnya, tetapi apa yang tertulis dipertanda tahun keramiknya.

Saya belum pernah mendengar cerita tentang siksaan para demang ataupun kerja rodi para meneer. Kalau Jepang, Iya. Kisah Romusha dan kelaparan begitu mengerikan.

Sebenarnya saya bisa menelusuri lebih jauh dengan bertanya kebeberapa saksi sejarah ataupun budayawan. Masih banyak yang berupa penasaran, karena memang sumber referensi sejarah tentang Bantaeng masihlah sangat minim. Masih banyak perlu diungkap, termasuk ditemukannya arca polinesia baru-baru ini. Dari informasi Koran, arca itu termasuk sangat tua dan langka di Indonesia. Selain Arca, juga ditemukan kerangka mongoloid.

Sejarah memang panjang, bisa membosankan kalau saya terlalu banyak cincong. Sebagai “antek-antek” Belanda yang berziarah ke makam itu,  saya hanya berharap semoga yang mengurusi kelestarian situs dan lokasi wisata bisa menjaganya dengan baik.

Akhirnya, Apa pun itu, sangat layak tulisan ini dikritik. Kebenarannya patut diverifikasi. Mohon maaf atas segalah salah dan khilaf.
Penulis Kuburan Mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Ramadhan


Bantaeng, 31 Agustus 2011
Tentang ditemukannya 600 Artefak dan Arca Polinesia baru-baru ini, bisa dibaca di SINI

30 Juni 2011

Rimba Menara Selular dan Iklan Tembok Rumah


Martin Cooper, penemu telepon seluler, telah mengibaratkan dunia seperti dalam genggaman telepon. Jagad raya begitu luas dan memang tidaklah selebar daun kelor, karena itu para ilmuwan mencipta berbagai model perangkat telekomunikasi.

Kini jarak, ruang dan waktu, telah serasa dekat, sempit dan singkat. Kabel fiber optic yang kini sudah melintang panjang di bawah samudera pasifik , telah membuat seluruh manusia di dunia bisa terhubung dengan mudah.

Ponsel, bukan lagi barang langka. Alat komunikasi yang generasi pertamanya ditemukan tahun 1973 ini, bisa dibeli ibarat kacang goreng. Para operator selular juga berlomba menawarkan harga pulsa yang murah, berikut iming-iming hadiah penyerap pulsa yang kadang seperti tipuan menggiurkan bagi pelanggan yang gagap teknologi.

Jikalau Anda berada di udara atau puncak gunung, maka kota terlihat seperti rimba menara selular. Tower yang tingginya jauh mengalahkan tugu kota ataupun monument pahlawan kemerdekaan itu, adalah menara BTS ((Base Transeiver Station) pemancar sinyal, yang kini diusahakan dapat menjangkau desa terpencil sekalipun.

Permenkominfo No. 2 / 2008 tentang Pembangunan dan Penggunaan Menara Bersama, adalah solusi. Mungkin karena visi bisnis yang berbeda, tetap saja menara yang tingginya minimal 42 meter itu malang melintang di berbagai kota.

Jikalau tak ada keinginan bersama untuk menyatukan BTS para operator, maka kelak tower-tower itu bakal berubah seperti jejeran pohon besi tak berdaun.

Jikalau semakin banyak, maka menara yang luasnya se kapling perumahan itu, akan mengganggu estetika kota. Selain estetika, dapat juga merugikan penduduk sekitar, semisal sambaran petir pada menara BTS yang pernah terjadi di Bandung. Kejadian itu ditengarai penyebab rusaknya peralatan elektronik warga sekitar. Bahkan ada warga yang kakinya tersambar petir.

Kasus di atas, seperti yang ditulis Abdul Syakur dari Departemen Electrical Engineering UNDIP, Menurutnya, kehadiran BTS di suatu tempat, akan meningkatkan angka jumlah sambaran petir di tempat tersebut. Sehingga, frekuensi sambaran petir di sekitar menara akan meningkat, dibandingkan sebelum ada tower BTS.

Seorang kenalan yang digunakan tanahnya untuk tower, justru merasa senang karena tanahnya yang terbengkalai dikontrak sepuluh juta pertahun. Mahal juga yah? Karena mahalnya, seorang kawan saya yang bekerja sebagai teknisi tower akhirnya menjawab pertanyaan heran saya, kenapa banyak tower yang berdiri di lokasi pekuburan.

Awalnya, saya berbenak klenik. Mungkin karena sinyal tak terlihat, miriplah dengan sifat setan yang banyak di kuburan. Sempat juga ada kawan yang berguyon, mungkin karena itu, ada operator selular yang menggunakan nama setalindo. Aha, ternyata tanah di pekuburan harganya murah dan juga mungkin gratis, karena pemiliknya sudah berbaring di bawah tower.

Karena perusahaan selular adalah komersil, tentu mereka memakai prinsip ekonomi, biaya sedikit hasil banyak. Setidaknya ada 10 operator selular di Indonesia dengan berbagai produknya. Kesepuluh operator itu telah membuat saya empat kali ganti kartu perdana. Karena kartu itu murah bahkan ada yang gratis. Jangan heran kalau para peselingkuh, teroris, koruptor, dan orang yang banyak utang, gonta-ganti nomor handphone.

Sudah murah, promosi juga semakin gencar. Prinsip ekonomi kembali dijalankan. Rumah-rumah penduduk, tembok pagar dan tembok lainnya di branding jadi iklan. Kalau Anda ke Makassar, cobalah lanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bantaeng, kota saya. Di sepanjang jalan protokol, akan dijumpai banyak reklame selular yang mencolok di dinding rumah-rumah penduduk.

Kenapa di rumah penduduk? Ternyata biayanya murah karena tidak terkena pajak reklame. Iklan di tempat milik pribadi ini berkategori reklame sidebar yang dikecualikan sebagai objek pajak.

Reklame yang sidebar, adalah reklame memberi manfaat atau bermanfaat bagi yang menerima. Manfaatnya apa? Tentu, toko atau rumahnya yang kedapatan iklan akan di cat gratis.

Selain itu, apa lagi? Kerabat saya yang memiliki gerai handphone, mendapat imbalan 10 lembar vocher pulsa seharga Rp. 20.000, setelah dindingnya di branding kuning dan merah mengkilap. Artinya, perusahaan hanya mengeluarkan uang Rp. 200.000 untuk penerima ‘manfaat’, dan perusahaan selular bebas mencat sepuasnya, seluas dinding. Murahkan?

Anda tahu, Negara ini menerapkan tarif pajak reklame sebesar 25% dalam UU Nomor 34 tahun 2000. Tarif ini adalah yang tertinggi kedua setelah pajak hiburan yang sebesar 35%. Karena keingin tahuan, saya yang tidaklah sehebat Gayus Tambunan menghitung pajak ini, mencoba menghitung pajak reklame seperti yang disosialisasikan pemerintah Kota Batam.

Ternyata, untuk billboard seukuran 6×4 meter pada lokasi jalan protokol A, pajaknya bisa mencapai kurang lebih Rp. 60.000.000 pertahunnya. Tidak murah kan? Itu kalau dibandingkan dengan harga 10 lembar vocher 20. Kenapa saya sebut jumlahnya “kurang lebih”, karena biasanya pajak bisa dinegoisasikan, itu kata orang-orang.

Strategi perusahaan menghindari pajak yang mahal, itu wajar. Kata anak gaul, “namanya juga usaha…..”. Agar tidak terkesan sirik tanda tak mampu, saya sekali lagi hanya menyoal estetika. Keindahan kota sepertinya agak terganggu dengan reklame mencolok di rumah-rumah penduduk ini, yang jumlahnya saya yakin akan semakin bertambah.

13080157671379533944

Sekilas pernah saya membaca di Koran, iklan-iklan yang mencolok di jalan protokol bisa mencelakakan pengguna jalan. Tetapi iklan yang dimaksud adalah iklan komersil yang dikenakan bea pajak. Menurut saya, iklan-iklan di rumah penduduk yang bisa tiga kali lebih besar dari ukuran billboard atau sepanjang ukuran pagar sangat berpotensi penyebab kecelakaan.

Terbayang, bagaimana kalau penjual obat, penjual tomat, wortel dan cabe keriting, juga mencat rumah-rumah penduduk untuk iklan murah. Cobalah Anda tidak membayangkannya, karena ada bakal tersenyum geli. Seperti geli dan herannya saya, ketika banyak orang yang bahkan ingin menawarkan rumahnya di cat iklan.

Perkembangan tekhnologi telepon genggam, yang kini sudah semakin canggih dan perusahaan operatornya yang juga semakin bersaing ketat, tentu akan memanjakan konsumen. Mekanisme pasar akan memberi harga murah untuk konsumen. Karena harganya murah, maka biaya oleh perusahaan juga semakin ditekan, semisal mencari tanah untuk tower di pekuburan atau memasang reklame yang sidebar.

Sumbangsih perusahaan selular untuk keindahan kota dan keselamatan warga, saya kira perlu. Perusahaan memiliki tanggunggung jawab sosial, dengan meminimalkan efek negatif promosi komersilnya. Bahkan perusahaan rokok pun banyak beriklan sambil mensponsori acara olahraga, lingkungan dan panjat tebing sebagai bagian dari tanggung jawab sosialnya di bidang kesehatan dan lingkungan (mungkin). Aneh kan?

Salam Kompasiana!

Bantaeng, 12 Juni 2011

Jabatan Baku Dorong dan Pemilu Aneh di Masjid

Jangan pemilih pemimpin yang terlalu mau dan pula pemimpin yang sangat tidak ingin. Pesan bijak ini pantas direnungi, saat ketika banyak orang yang begitu bernafsu memburu jabatan dengan berbagai cara. Tidak hanya memburu, jikalau perlu merebut. Baik dengan cara yang resmi melalui serangkaian lobi, kampanye dan pencitraan, maupun dengan cara membunuh karakter demi menjatuhkan pesaing.

Tidak heran jikalau banyak yang meradang karena kehilangan jabatan, membocorkan skandal mantan bosnya dan sibuk menebar keburukan orang yang mengalahkannya. Jabatan sungguh hal yang menggiurkan, karena di situ ada penghargaan, pengikut dan mungkin banyak uang.

Terlepas dari tingginya libido berkuasa saat ini di rimba manusia,ternyata ada jabatan yang tidak menggiurkan. Jabatan itu terhormat, memiliki pengikut yang banyak, pekerjaannya mulia dan efek jabatannya berlaku sampai setelah kita mati. Tetapi mengapa tak menggiurkan? Saya ingin berbagi cerita.

Setelah ditunda dua kali sebab minimnya peserta malam kemarin, Jum’at 24 Juni 2011 berlangsung rapat pengurus Masjid Nurul Ikhwan di kompleks perumahanku. Rapat itu untuk memilih ketua pengurus Masjid. Rapat yang dilaksanakan usai shalat isya itu, dihadiri sekitar 30 an jama’ah dari lebih 150 orang kepala keluarga yang bermukim di sekitar Masjid.

Dapat dilihat, bahwa animo warga untuk masalah masjid yang peruntukannya akhirat itu sangatlah kecil, malahan rapat sebelumnya yang ditunda hanya dihadiri belasan orang. Setelah undangan disebar, diikuti pengumuman berkali-kali, rapat malam itu sudah dianggap representatif untuk memilih pengurus masjid yang baru.

Singkat cerita, digelarlah pemilihan itu. Sebagai panitia, saya didaulat memimpin sidang. Sebenarnya, saya merasa risih memimpin sidang terhormat itu. Bukan apa-apa, saya terbilang warga baru dan paling muda diantara para tetua masjid. Mau diapa lagi, bahkan menjadi pimpinan rapat pun peserta rapat saling tunjuk. Dalam istilah kami, baku dorong (saling dorong).

Setelah Laporan Pertanggung jawaban pengurus yang diterima dengan ikhlas itu, akhirnya tibalah masa pencalonan. Tiga calon yang diusulkan peserta. Setelah saya menanyai kesiapannya, dua calon menyatakan tidak siap, satunya lagi menyatakan mundur. Ha, deadlock tanpa calon. Saya kebingungan sendiri. Setelah buntu, saya meminta usulan calon lain, ternyata kembali seperti semula. Baku dorong.

Keadaan ini, sama sekali tidak seperti pada Pemilu Legislatif dan Pilpres, dimana orang bahkan saling dorong untuk menjatuhkan pesaing. Di masjid saya, orang baku dorong untuk maju sebagai ketua. Dalam posisi sebagai pimpinan sidang, tentu saya bebas dari pencalonan karena saya sudah menyampaikan kriteria pengurus masjid. Salah satunya, adalah yang dituakan, saya sama sekali tidak ingin dianggap tua. Bebaslah saya.

Pernah saya membaca, bahwa di Korea Selatan sangat sedikit orang yang mau menjadi pemimpin publik. Baginya, jabatan publik adalah beban yang sangat berat. Sangat sulit menemukan calon untuk menjadi lurah, kepala dinas , menteri bahkan anggota DPR seperti di negeri kita yang berjubel masalah ini.

Seperti di Jepang, pejabat di sana merasa malu kalau bersalah dan tidak bisa memenuhi janji. Mereka kesatria menyatakan mundur kalau gagal. Bahkan banyak pejabat yang bunuh diri. Kegagalan adalah rasa malu bagi mereka. di negeri kita? kegagalan justru ajang untuk menguji keampuhan jurus bersilat lidah untuk menangkis, menghindar, berkelit dan balik memukul.

Membandingkan antara pemilihan pengurus di Masjid di kompleks saya dengan budaya kepemimpinan Jepang dan Korea, memang tidaklah setara. Satu yang ingin saya utarakan, bahwa di Indonesia, ternyata masih ada jabatan yang tidak diinginkan, setelah bahkan pemilihan RT pun diperebutkan. Kata tetangga saya, RT itu bagus walau tak bergaji karena bisa mengurus KTP dan menagih pajak.

Kembali ke rapat pengurus Masjid. Karena kebingungan, saya pun mem veto keadaan, dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk kembali menunjuk calon secara musyawarah. Siapa pun yang ditunjuk dianggap representatif dan tidak boleh mundur. Ini demi kemaslahatan dunia dan akhirat, kata saya sedikit bernada ustad.

Pemilihan ulang pun di gelar, tanpa fatwa dari Mahkamah Konstitusi yang juga sudah mulai mempersoalkan suap dan korupsi. Hasil munsyawarah menetapkan dua calon. Calon yang ditetapkan adalah calon yang tidak bersedia tadi. Saya menawarkan pemilihan tertutup atau pemilihan terbuka, ternyata, peserta menginginkan yang terbuka, dengan cara mengangkat tangan, tanda contreng telah dilakukan. Bukan tanda menyerah.

Kenapa mengangkat tangan, biar ketahuan siapa yang memilih calon ini dan itu. Alasannya, dengan ketahuan orang yang memilih, maka pilihannya bisa dia pertanggungjawabkan. Bagi saya inilah demokrasi yang jantan dan jujur, tanpa lobi dan potensi money politik.

Bapak Zamzam, SH yang seorang pengacara, adalah calon pertama. Calon lainnya, Bapak Drs. Muhammad Nurung, seorang guru Madrasah Aliyah. kedua-duanya adalah mantan pengurus periode lalu. Pak Zamzam adalah mantan wakil ketua, dan Pak Nurung Sekretaris. dibukalah sesi pemilihan antara pengacara dan guru ini.

Ternyata, calon pertama memilih calon ke dua, demikian sebaliknya. Masing-masing calon tidak memilih dirinya sendiri. Sesama calon saling menghargai. Adapun peserta, cenderung memilih Bapak pengacara itu untuk menjadi ketua mereka yang baru. Jumlah angkat tangan jamaah, lebih banyak ke sang pengacara. saya sendiri memilih abstain, untuk menjaga netralitas saya sebagai penyelenggara pemilihan. (he he he)

Jikalau pembaca melihat kelihaian pengacara membela koruptor di tivi, pasti menurut Anda tidak ada diantara mereka yang layak jadi ketua Masjid. Jangankan pengacara koruptor, saya pun jengah dengan pengacara perceraian artis. Di Masjid saya lain, pengacaralah yang dipilih jadi ketua Masjid. Tentu, pengacara ini bukanlah seperti yang biasa kita lihat di tivi. Bapak Zamzam SH ini, adalah pengacara local yang terkenal, tetapi juga amanah dalam menjalankan profesinya.

Usai pemilihan ketua, maka dipilihlah pengurus-pengurusnya. Semua yang ditunjuk oleh ketua juga tidak boleh menolak. Terpilihlah saya sebagai wakil sekretaris, tanpa boleh menyatakan siap atau tidak siap. Menjadi sekretaris di masjid, sebenarnya tidak lebih sebagai juru ketik. Karena saya wakil sekretaris, maka saya ini wakil juru ketik. Apapun yang akan diketik, maka saya siap mewakili.

Bantaeng, 25 Juni 2011

Tulisan ini pernah di muat di kompasiana.com

02 Mei 2011

Ramuan Judul Pemikat Tulisan

Tidak perlu membaca seabrek teori agar pembaca terpikat dengan karya tulis Anda. Anda hanya butuh keahlian meramu judul. Bahan ramuan tak harus dicari di rimba belantara atau pada kedalaman samudera, tidak juga pada dukun pelaris. Judul ada pada diri kita, pada benak yang menyimpan sejuta inspirasi. Pada ide yang kadang melintas begitu saja.

Aha! Betapa anggun mahkota Kate Middleton, saat Pangeran William menggandengnya menuju altar pernikahan, berjuta mata tertuju padanya. Iya, Judul adalah mahkota pemikat. Judul adalah kulit pembungkus isi, cadar putih transparan seperti yang dikenakan Kate di gaun pengantinnya. Semua ini hanya ibarat, karena judul bisa dipersepsikan apa saja. Judul pada intinya adalah sesuatu yang mudah diingat, dikenal, juga dikenang pada sesuatu yang pernah dilihat dan baca.

Semua dari kita menyukai sesuatu yang menarik, mengemuka, sederhana, padat dan singkat. Jikalau ingin tulisan Anda dibaca keseluruhan isinya, tentu tidak cukup dengan rangkaian kata yang memikat saja, tetapi juga judul yang menggabarkan isi dan tentu tidak menipu.

Sayang, jikalau pembaca Anda lari, karena judul yang Anda hidangkan sulit dicerna – tak dipahami. Sebaik-baiknya isi tulisan, tak akan dilirik banyak orang jikalau dari judulnya saja sudah membuat kening pembaca berkerut. Ingat, kita sementara tidak membahas judul penelitian ilmiah. Judul yang sementara ingin kita pelajari, adalah judul dari karya tulis bebas.

Anda ingin tahu? Berikut berapa trik yang bukan dari buku teori menulis, tetapi dari pengalaman saya sebagai pewarta warga (citizen journalism). Apa itu pewarta warga? Saya juga belum tahu persis. Citizen journalism adalah istilah yang disematkan pada seseorang yang bukan penulis atau wartawan professional. Saya hanya penulis, yang menulis karena hobby dan ingin berbagi manfaat.

Anda jangan heran, jikalau trik menulis saya kampungan, karena memang saya adalah penulis kampungan. Penulis yang senang menulis tentang kesehajaan kampung. Sesuatu yang alami dan tidak banyak neko-neko.

Eits,….Jangan berhenti membaca, nikmatilah tips ramuan pemikat di bawah ini, jikalau Anda ingin terperosok sebagai penulis kampungan seperti saya.

Menarik dan Aktual

Judul adalah mahkota tulisan. Perlu dibuat semenarik mungkin untuk memancing minat pembaca. Judul yang menarik bagi semua orang adalah barisan kata yang bisa mewakili keingin tahuannya terhadap apa yang disenangi. Anda tahu apa yang disenangi semua orang? sex dan uang.

Sex pasti akan menarik, karena semua manusia membutuhkannya, demikian pula dengan uang atau harta secara umum. Sanrego; Khasiat Perkasa Kuda Jantan , demikian judul yang pernah saya tuliskan. Tulisan ini di kunjungi banyak pembaca saat terposting di kompasiana. Kompasiana adalah salah satu portal kompas.com. Bukan lelaki normal yang tak menginginkan keperkasaan, juga bukan perempuan yang justru bermanja dengan keloyoan. Bukankah demikian?

Ingin Kaya!? Jangan Jadi PNS, adalah judul yang berangkat dari keheranan saya akan berjubelnya pendaftar PNS setiap tahun. Tulisan ini saya posting, saat masa pendaftaran PNS. Selain bernilai aktual, judul ini, juga disenangi karena berkait dengan harta. Semua dari kita menginginkan kekayaan, karena harta inheren dengan kehidupan.

Jujur, sebenarnya saya pernah sedikit menipu dengan judul bombastis; “Citra Mesum, Berganti Geliat Cakar Impor”. Page view tulisan ini melonjak di kompasiana.com, tetapi yang berkomentar sedikit. Kenapa?

Postingan saya di kompasiana itu bergaya reportase. Saya ingin mengabarkan bahwa di Pantai Seruni Bantaeng, ada yang namanya ‘cakar’. Cakar atau Cap Karung tentu tidak akrab di daerah lain, karena hanya diistilahkan di Sulsel. Setiap malam minggu di sepanjang tanggul di Pantai Seruni, hanya dijadikan muda-mudi memadu kasih. Setelah adanya pedagangan pakaian bekas impor ini, citra mesum itu berubah menjadi hiruk tawar-menawar.

Citra Mesum, hanya sedikit saya singgung, karena memang bukan itu poinnya. Walau demikian, tetap saya berusaha memberi kabar, bahwa program pemerintah Bantaeng ini cukup jitu menghindari keremangan Pantai Seruni, menggerakkan ekonomi rakyat, dan yang lebih penting meredam gejolak nafsu dua insan yang dibuai asmara tak bermuhrim.

Mewakili dan Tak Menipu

Jangan terpaku pada keindahan judul, karena bisa jadi itu menipu. Sangat banyak judul-judul di internet yang bombastis tetapi isinya kosong. Setiap kali kita membuka internet, pasti ada pancingan judul bertema sex. Saya menyebutnya judul ‘berlendir’. Judul tentang bagaimana mendapatkan uang dengan mudah juga sangat banyak.

Judul bombastis ini dimaksudkan penulisnya agar blognya banyak pengunjung. Rating pengunjung yang meningkat akan mendatang iklan di sana. Iklan itulah yang akan menjadi sumber penghasilan pemilik blog dengan menjual postingan bertema sex. Ada juga yang sengaja menulis tema sex dengan maksud untuk menggiring pembaca pada tawaran bisnis yang bisa jadi juga menipu. Hati-hati, jika di klik terkadang judul seperti demikian mengandung virus komputer. Judul berlendir, biasa pula sekadar iseng dari penulisnya.

Anda tahu, apa isi dari judul Sanrego Berkhasiat Perkasa Kuda Jantan? Saya hanya ingin mengabarkan bahwa di Sulawesi Selatan ada juga tumbuhan herbal keperkasaan, yang tentu tak kalah hebat dengan pasak bumi atau batu jahannam. Ramuan Sanrego ini hanyalah jamu yang dicipta dan di patenkan oleh Ilmuwan Unhas. Mempromosikan Sanrego, adalah untuk mengenalkan Sulsel, member manfaat penggunanya. Lebih penting lagi saya ingin memberitahu, bahwa saya besar di perkampungan yang bernama Sanrego, yang terletak di Kabupaten Bone.

Judul saya tidak menipu, hanya memancing. Isinya pun bermanfaat, menarik dan unik. Penilaian itu bukan dari saya, tetapi menurut pembaca yang berkomentar di tulisan itu. Judul yang tak mewakili isi, mungkin saja tidak bakal dibaca tuntas oleh pembaca. Reputasi kita sebagai penulis juga akan turun. Maksud penulis adalah untuk tulisannya dibaca. Membuat judul tak berkait isi, hanya akan mengurangi pembaca setia pada tulisan berikutnya.

Singkat Tak Menyiksa

Anda tidak sementara membuat karya Ilmiah, walau isi tulisan anda Ilmiah. Judulnya pun perlu dibuat agar tak menyiksa pembaca. Terkadang baru judul yang dibaca, kepala sudah dibuat pening. Saya ingin mencontohkan satu judul: “Esensi dari Hakikat Fungsi Mahasiswa dalam Ekspektasi Publik

Belum isinya, judulnya saja sulit dicerna. Lalu apa maksud kita menulis. Apakah kita ingin dikatakan hebat dan ilmiah dengan banyaknya serapan bahasa asing? Tentu, maksud menulis adalah untuk menyenangkan pembaca, tidak justru meribetkan pikirannya. Menulis tidak sekadar aktualisasi, tetapi juga buat berbagi manfaat. Kemampuan menyederhanakan dan menjinakkan bahasa adalah penting, agar maksud tersampaikan.

“Kesederhanaan adalah kekuatan”, demikian kata Jack Trout. The Power of Cimplicity, adalah judul bukunya yang sampai hari ini masih saya ingat. judul itu singkat, padat dan menarik. Isi buku itu sebenarnya ‘berat,’ tetapi penulisnya merangkai kalimat dengan lugas. Membaca judulnya saja, kita sudah terpancing menyelami isinya.

Trout, banyak membahas tentang rangkaian kata dalam visi perusahaan atau Negara. Ia banyak menemukan kata-kata rumit dengan arti yang berulang. Kesannya memang ilmiah, tetapi hanya dipahami oleh beberapa kalangan. Gaya jurnalis adalah gaya bahasa awam, informative dan memikat. Ingat, maksud menulis untuk dibaca. Agar terbaca, jinakkanlah bahasa. Buatlah kalimat itu membumi dan dipahami umum.

Judul; Dimana Bermula?

Judul pastilah bermula dari ide yang kita ingin tuliskan. Pertanyaannya, apakah harus membuat judul dulu baru mulai menulis atau nanti setelah tulisan kelar. Bebas! Anda bebas menentukan kapan Anda mulai meramu rangkaian kata untuk judul. Boleh di awal, tengah dan di akhir. Andalah tuan dari tulisan Anda.

Jikalau tulisan adalah patung dan pena alat ukir, maka kata-kata adalah bahannya. Judul adalah Mahkota yang memiliki kekuatan magis untuk memikat pembaca melirik isinya. Mahkota bisa dibuat sebelum keseluruhan patung selesai dipahat. Bisa pula saat kita jedah di pertengahan dan tiba-tiba inspirasi melintas. Pula bisa Anda selesaikan setelah semua tulisan rampung.

Sekali lagi, Anda bebas menentukan judul. Bagaimana dengan saya? Saya terbiasa membuat judul lengkap setelah tulisan saya rampung. Judul awal hanyalah penanda ide untuk memancing saya menagalirkan kata demi kata. Judul yang saya buat di awal, kadang malah membuatku terkungkung. Terbatasi dengan judul yang telah saya buat.

Jikalau di pertengahan – saat saya sementara menulis ispirasi judul itu muncul. Saya berhenti dan menuliskannya, biar tidak terlupa. Inspirasi yang melintas begitu saja, sebenarnya memiliki kekuatan kata karena terbersit dari imajinasi alami kita. Tapi jangan terjebak dan menunggu, biarkan ia muncul begitu saja. Kalaupun tidak muncul, bacalah ulang tulisan Anda yang tak berjudul itu, pasti akan ditemukan judul yang mewakili isi.

Anda ingin membuktikan keampuhan daya pikat judul Anda? Mulailah menulis. Menulis apa? Tentang apa saja. Anda bebas dengan tulisan Anda, bebas yang diikuti tanggung jawab tentunya, ketika tulisan itu diperuntukkan ke public. Bukan judul tanpa isi, karena itu jangan terjebak dengan judul. Judul tidak lebih sebagai pemanis, tetapi kopi pasti akan terasa sangat pahit tanpa gula.

Tulisan saya hanyalah pengalaman, tiada maksud untuk menggurui. Menulis bagi saya hanyalah hobby, sekaligus terapi untuk melepaskan, mencurahkan, sekaligus kadang menghempaskan ide yang menumpuk di benak. Karena hanyalah sebagai hobby, menulis bagi saya tidak jauh dari keinginan untuk memuaskan diri dan pembaca dengan berbagi manfaat bersamanya.

Bantaeng, 2 Mei 2011

Tulisan Terkait

Kearifan Tangga Morowa, Secantik pramugari Makassar Tidak Kasar, Rahasia Perjalanan Dinas legislator , Tulisan kompasianer dikutip Media Lokal, Eremerasa Bersumber Mata Air Pegunungan,Wisata Mistis di Gua Batu Ejayya, Pedas Barobbo Berpadu Hijau Alam Dapoko, Bersama pallu Kaloa Serasa pulang kampung (juara), Berbagi kesan Traumatik, Bank dalam Citra Rentenir Resmi(nominator), Iklan Pemerintah Terbang terbawa Angin, Dengusan Jantan Kuda Prabowo, Janji Lucu Pak Beye, Bantaeng Memancing menteri Menatap Bali, Nama Jawa Bertabur Indah di Makassar, Membuang Penat di Pantai Lambocca, Sensasi Berburu Escolar Di Lepas Pantai Bira, Aku Tak Malu Ibuku Penjual Madu