05 April 2010

MARK E. ZUCKERBERG PENCIPTA FACEBOOK DI KEJAR ANJING

Mark E. Zuckerberg Pencipta Facebook, seorang anak muda berumur 25 tahun, jenius dan sangat kaya. Kekayaannya saat ini bahkan mengalahkan bintang infotaiment dunia Oprah Winfred. Kini kita semua telah memanfaatkannya untuk berbagi cerita, gagasan dan perasaan. Saat ini saya ingin berterima kasih buat anak muda luar biasa itu karena telah membuat dunia ini tidak selebar daun kelor.

Memberi manfaat kepada sesama tak hanya berbuah amalan jaria’h, tetapi pula menggali sumber potensi kekayaan yang melimpah ruah. Hobbi. Yah, Mark hanya menjadikan kesenangannya mengutak-atik computer menjadi mata pencaharian. Demikian halnya para pelukis, sastrawan, Penulis, pembicara, pemain bola, sutradara, actor, aktris, dan semua pekerja kreatif lainnya bekerja karena hanya menjalani hobbinya. Duh, betapa kesenangan, dikerjakan dengan rasa bahagia, menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. Aku tersudut, terjewer oleh khayalku sendiri. Betapa kemarin, beberapa tahun yang lalu, aku terjerambab dalam diam menghina duniaku, yang aku tuduh biang kerok kemiskinan.

Aku menyalahkan pemerintah, musim yang tak mendukung, orang-orang sekitarku dan bahkan lingkungan dalam diriku aku vonis sebagai biang kegagalan. Sebuah vonis yang hanya mengeruk sisa-sisa kepercayaan dalam diri, dan menyisahkan pengasingan yang sepi menyakitkan. KESENANGAN yang jikalau kemudian diparipurnakan menjadi KEBAHAGIAAN, sesungguhnya sesuatu yang muda. Melakukannya saja sudah menghasilkan kelapangan. Belum lagi, jikalau sesuatu yang potensial itu di gerakkan menjadi sesuatu yang kinetik dengan olahan-olahan manajerial yang apik. Maka yakin, energinya akan mendorong jiwa kreatif kita untuk terus berkarya, hanya karena alasan ingin menyenangkan orang lain, sebagai bahagian dari kesenangan diri sendiri.

Kesenangan Mark E. Zuckerberg dengan hobbinya mengutak-atik program komputer berbuah kebahagiaan yang sempurna, karena tujuan awalnya untuk berbagi cerita secara online dengan para mahasiswa dan dosen di kampusnya. Facebook kemudian tercipta luar biasa ini, berangkat dari keinginan seorang Mark yang ingin membagi bahagianya dengan orang lain. Kesenangan sesungguhnya bagi dirinya adalah ketika orang lain senang dengan karyanya. Itulah kebahagiaan karena berbagi. Sama halnya memberi uang dengan ikhlas dan diberi uang yang memang sangat dibutuhkannya. Dimana letak kebahagiaan yang sesungguhnya ? apakah pemberinya yang diucap terima kasih dari penerima ataukah yang menerima uang itu ? bagi saya kebahagiaan akan lebih besar sang dermawan. Bedanya, Mark E. Zuckerberg menerima tambahan penghasilan yang sangat besar, sementara si Dermawan harus kekurangan uangnya. Persamaannya, semua memulai bahagianya karena ingin menyenangkan orang lain.

Kini kita sampai pada sebuah pertanyaan, seperti apakah sesungguhnya kesuksesan yang berbuah BAHAGIA itu ? apakah bahagia hanya bisa diraih, justru dengan membagikannya ? Teringat aku dengan sebuah cerita tentang perbedaan DIKEJAR ANJING dan MENGEJAR AJING. Dikejar dan mengejar, sama membutuhkan energy yang besar. Dikejar seiring dengan ketakutan akan gigitan anjing dan mengejar seiring dengan kemarahan ingin menimpuk anjing itu dengan batu tepat di kepalanya.

Saya membayangkan seorang gadis gemulai, jalannya melenggak lenggok, pinggulnya naik turun aduhai, harus melejit kencang bak rudal yang tak sengaja ditembakkan, ketika si Boy Anjing tetangga mengejarnya dengan gonggongan yang sangat bernafsu. Rambutnya yang tergerai, harus meruncing ke belakang, mata manisnya membelalak mirip ikan Mas Koki, nafasnya tersenggal dan gerakan larinya beberapa kali lebih kencang dari biasanya. Hilanglah sudah lenggak-lenggoknya. Singkatnya, Si Gadis hanya berfokus pada ketinggian yang bisa dipanjat ataupun ruang yang bisa ditutup rapat. Ia terfokus pada sesuatu, dan hanya berharap keberhasilan – keberhasilan terbebas dari gigitan si Boy, yang mungkin belum tentu menggigitnya jikalau harus terjatuh. Iya, jikalau terjantuh, mungkin saja anjing mengira jatuhnya si gadis adalah sebuah manuver untuk mengambil bongkahan batu dan melempar balik kepadanya. Aikh…..

Nah, bagaimana jikalau justru Anjing yang terkejar karena melibas ayam jantan kesayangan anda ?, sekuat apapun Anda mengejar, disertai sumpah serapah dan lemparan batu yang bertubi-tubi, Anda akan masih lebih terfokus dengan Ayam malang yang sudah wafat itu. Fokus akan terpecah, anjing tetap berlalu seolah menang, dan ayam tetap terkulai tewas, karena kepalanya sudah ada di perut anjing sialan itu. Fokus, adalah konsistensi akan sesuatu yang akan dituju. Begitulah, kira-kira.

Energi yang dibutuhkan jikalau dikejar anjing tentu lebih banyak jikalau mengejar anjing, tetapi kepuasannya berbeda. Walau ancaman gigitan anjing menghantui ketakutan kita dan memcu adrenalin yang demikian besar, tetapi selamat dari kejaran itu akan membuat rasa bahagia yang tak terkira, walaupun peluh belum kering dan nafas nafas masih ngos-ngos-an. Mengejar anjing, sebenarnya hanya karena dorongan melampiaskan dendam. Selain keberhasilannya tidak nyata, juga walaupun anjing terkejar dan terbunuh, tak berbuah kehidupan kembali pada Ayam itu. belum lagi jikalau ternyata anjing itu adalah salah satu binatang kesayangan kita. Dua pembunuhan yang pasti menyisahkan penyesalan setelahnya.

Kesuksesan yang berbuah kebahagiaan dalam analogi dikejar dan mengejar anjing ini, adalah kebahagian jenis yang lain. KEBAHAGIAAN hadir karena perjuangan terbebas dari ketakutan, ancaman, tekanan dan waktu yang memburu. Semua potensi dimanfaatkan, bukan karena ingin, tapi karena keharusan untuk tidak mengatakan keterpaksaan melakukannya. Saya tidak ingin mengatakan, bahwa kita harus menunggu dikejar anjing agar bisa sukses, tetapi kita harus menciptakan sesuatu yang ‘harus’ dan sesuatu yang ‘terpaksa’ pada benak ini untuk mencapainya.

Pilihannya ada pada diri kita masing-masing. Apakah kita memiliki potensi kreatif yang bisa dikembangkan dan memberi manfaat kepada orang lain untuk dikembangkan dalam mencapai sukses, ataukah benak dan hati kita harus dipicu bahwa keadaan kita saat ini belum tepat dan sesuatu harus dikejar karena sesuatu keharusan, yang jikalau tidak tercapai keadaannya akan lebih buruk dari saat ini kita berada.

Bantaeng, 5 April 2010

08 Maret 2010

MUSRENBANG; MENIMBANG APAKAH SELARAS DENGAN APBD *)

Oleh: Andi Irwandi Natsir

Kuingat betul hari itu, kabut masih terasa begitu membuai rasa malas ini untuk segera berbenah. Hawa dingin yang sangat, setelah sebelumnya gerimis membasahi lembut lembah desaku membawaku ingin terus berkhayal sambil tiduran dengan selimut hangat itu. Tidak, aku harus segera mempersiapkan acara. Sejuta usul telah aku siapkan untuk dipertimbangkan dalam musyawarah para tokoh masyarakat kantor desa. Hari itu jadwal MUSRENBANG Desa MattirowaliE, Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone.

Musyawarah Perencanaan Pembangunan, yang kemudian disingkat dengan Musrenbang sebagai kewajiban tahunan mengawali proses pembangunan sangatlah penting menurutku. Sebagai kepala desa ketika itu, saya sudah membekali diri dengan beberapa bacaan, hasil rapat tingkat Kecamatan dan diskusi-diskusi kecil tentang apa dan bagaimana pembangunan itu berproses secara partisipatif melalui Musrenbang. Sungguh ini hadiah terbaik bagi warga desa karena reformasi telah mengamanahkan pembangunan yang responsive, akuntabilitatif dan tentunya partisipatif. Musrenbang adalah sarana untuk menggali kebutuhan aspiratif masyarakat untuk mengentaskan diri dan desanya menuju kesejahteraan. Intinya Musrenbang, telah membangkitkan adrenalin saya untuk menghamburkan segala ide yang terpendam selama ini.

Singkatnya, proses musyawarah waktu itu telah berlangsung alot. Walau usul lebih banyak didominasi oleh diri saya sendiri, setidaknya usulku sudah merupakan telaah realitas dari sesuatu yang aku lihat, rasakan dan konsultasikan dengan tokoh masyarakat selama ini. Wajar, Desa terpencil, dengan tingkat pendidikan yang rendah di desaku telah membuat keluh lidah warganya untuk berbahasa, tetapi tidak berarti menumpulkan tajamnya nurani mereka untuk merasakan sesuatu yang mereka butuhkan. Bahasa mereka singkat, menohok, khas dan lugu. Bagiku itulah yang dibutuhkan. Sebuah bahasa yang jujur, tanpa sedikitpun kepentingan bernuansa elite.

Musrenbang yang dalam perspektif perencanaan merupakan forum lintas sektoral untuk merancang apa yang akan dijalankan pada pembangunan tahun berikutnya, yang tentunya searah dengan visi Kabuputen Bone. Visi kabupaten Bone agar “TERWUJUDNYA MASYARAKAT KABUPATEN BONE YANG MAJU, MANDIRI, DEMOKRATIS DAN BERADAB”, diharapkan tercapai dalam proses musyawarah ini, yang senada dengan salah satu misinya yakni Mendorong dan mengembangkan kehidupan dan mekanisme politik daerah yang sehat didukung partisipasi aktif seluruh masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat.

Kekhawatiran mulai muncul, betulkah kewajiban tahunan berupa Musrenban ini tidak akan sia-sia karena pelaksanaan nya dalam realisasi APBD bias dari pelaksanaan Musrenbang. Pengalaman selama ini, dalam APBD hanya memuat maksimal 30% anggaran Pembangunan sisahnya adalah anggaran rutin. Dapatkah sejumlah 333 desa dan 39 Kelurahan di Kabupaten Bone, dengan jumlah penduduk sebesar 963.524 jiwa mampu dipenuhi harapannya dalam APBD 2010 nanti ? tidakkah semua ini akan menjadi hanya sekedar bagian ‘pemanis’ dari Musrenbang tersebut untuk sekedar membuktikan ke publik bahwa semua proses ini sudah semaksimal mungkin dilakukan secara demokratis

Musrenbang, di desaku sekitar 4 (empat) tahun yang lalu kemudian membuktikannya. Terasa usulan yang berjubel dengan skala prioritas yang telah ditentukan pada akhirnya bias. Prioritas pembangunan infrastruktur jalan, sarana kesehatan dan air bersih sebagai sebuah prioritas belum sepenuhnya terpenuhi. Saya yakin di desa lain pun malahan lebih parah, karena adapun fasilitas jalan, panel surya untuk listrik, sarana pipanisasasi air bersih secara swadaya yang akhirnya terpenuhi, tidak karena hasil dari Musrembang, tetapi merupakan langkah perjuangan personal kepala desa untuk mendesakkan agar hal ini terwujud, itupun tidak kesemuanya karena hasil APBD kabupaten Bone. Bagaimana dengan kepala desa lainnya yang tidak mampu dan memiliki jaringan untuk berjuang sendiri untuk desanya ? tentu akan kesulitan dan hanya terus menyimpan harapan, yang entah kapan itu akan mewujud.

Marah dan kecewa pada satu hal yang sama dan berulang-ulang, bagiku adalah sesuatu yang bodoh, tetapi perjuangan paling kecil untuk itu dengan hanya sekedar memahami tidak harus membuat kita memaknai kesabaran menanti dengan diam tak melakukan apa-apa. Setidaknya, saya mulai memahaminya sesuatu yang bernama Musrenbang itu sesungguhnya sangat penting karena para pemangku kepentingan (stakeholders) telah dilibatkan dalam prosesnya. Bahkan hal ini sudah diatur dengan sangat mendetail dalam UU Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Masalahnya adalah, saat setelah dirumskan menjadi APBD yang disahkan oleh DPRD usulan-usulan itu kerap tidak lagi sesuai dengan apa yang diperdebatkan dilapangan. Mungkin hal ini disebabkan karena elite pengambil kebijakan berkolabarasi dengan berbagai kepentingan yang muncul sehingga mengalahkan aspirasi yang jauh jauh hari telah disampaikan.

Maulana Mukhlis, Mahasiswa Pasca Sarjana MIP Unila dalam satu artikelnya yang saya research di google memberikan jawaban atas segalah pertanyaan ini, tentang mengapa tidak semua aspirasi masyarakat dalam proses pra maupun pasca musremban banyak yang tidak diakomodir setelah menjadi dokumen APBD. Hal ini kemudian dijawab dengan keterbatasan anggaran, maka zero, yakni terjadi perencanaan versus penganggaran. Dalam konteks ini, diskursus tentang makna Musrenbang pele diketengahkan yakni bagaimana membangun singkronisasi politik perencanaan dengan politik penganggaran.

Lemahnya fungsi BAPPEDA dalam hal ini, lanjut Maulana Mukhlis ada pada konteks penyelarasan program dan ketersediaan anggaran, sehingga penetapan prioritas dan alokasi menjadi sesuatu yang tidak bisa disepakati dan dihasilkan dalam Musrenbang. Karena kepastian prioritas dan penyepakatan anggaran itu tidak selesai di Musrenbang, maka agenda pasca Musrenbang yang nota bene tidak bisa dipantau oleh banyak orang menjadi forum yang lebih menentukan, dan sarat dengan kepentingan. Selain itu, fungsi penganggaran sekarang ini sesuai UU Nomor 25/2004, bukan lagi kewenangan BAPPEDA, melainkan kewenangan bagian/biro/dinas pengelolaan keuangan sehingga sinergisitas antara perencanaan dan penganggaran tidak bisa dijamin.

Nah, masalahnya kini berlahan mulai terkuak. Solusinya sebenarnya sederhana, yakni ada pada kemauan politik untuk betul-betul menjadikan forum Musrenbang itu sebagai landasan, tidak kemudian terkaburkan bahkan hilang karena kepentingan ‘proyek’ elit. Selain itu penting, bagaimana membuat proses partisipatif dalam Musrenbang di tingkat masyarakat sesuai alur kebutuhan tidak sekedar keinginan-keinginan. Penting juga untuk memfasilitasi masyarakat bagaimana seharusnya membangun prioritas sesuai indikator-indikator tertentu. Adapun berkenaan dengan regulasi tentang peran BAPPEDA akan menjadi solutif jikalau bagian/biro dan dinas sebagai pengelola keuangan disinergikan dalam kerangka perencanaan besar hasil Musrenbang.

Kurangnya infrastruktur pedesaan sesuai standar pelayanan minimum memerlukan program-program terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat, pertumbuhan ekonomi daerah dan pembangunan infrastruktur dasar guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah dalam penyusunan APBD sesuai dengan Permen Nomor 32 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah Tahun anggaran 2009. Walau hal ini adalah pedoman APBD untuk tahun 2009, setidaknya terharap masih relevan dengan program penyusunan APBD tahun 2010 di Kabupaten Bone.

Tulisan ini hanyalah sekedar oleh-oleh seorang mantan Kepala Desa berupa ‘segelas madu’ dari pegunungan Bontocani untuk dirinya, pemerintah dan kawan-kawan nya para legislator Kabupaten Bone. Bontocani adalah penghasil madu alami terbaik di Kabupaten Bone yang belum disentuh pengelolaan professional dari pemerintah maupun swasta. Hal ini juga, belum pernah sedikitpun di bahas dalam APBD untuk pengembangannya, mungkin hal ini bukanlah prioritas, tetapi dalam misi kabupaten bone point (2) Nampak jelas kata: “Penguatan daya saing dan peningkatan kualitas produk unggulan daerah untuk mengurangi ketergantungan dalam upaya pembangunan daerah”. Semogalah, mudah-mudahan catatan ini adalah madu sebagai obat, dan sengatan lebah nya dianggap sebagai kritik yang membangun. Kerjasama terstruktur para lebah penghasil madu sungguh keajaiban yang luar biasa yang dicontohkan Allah, bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.

MattirowaliE, 1 Desember 2009

*) Tulisan ini adalah sebuah catatan mengawali proses pembahasan APBD di DPRD kabupaten Bone, satu yang penting. Kritik ini 90% adalah kritik buat saya

**) Penulis adalah mantan Kepala Desa MattirowaliE Kecamatan Bontocani.

.

06 Oktober 2009

KAMI RINDU BAPAK KAMI YANG ORDE BARU

“Karena ada hati yang tertambat,dan karena manusia memiliki identitas maka Mudik itu perlu” (Status di dinding FB ku tertanggal 13 September 2009, sehari sebelum mudik)

Dari sebuah kota kecil dan indah tempatku kini bekerja sebagai abdi Negara, kutempuh Kurang lebih 200 Kilometer menuju tambatan hati tempat kelahiranku di kampung Lita. Se sampai di rumah, Bunda yang aku panggil Ummi menyambutku dengan sumringah. Nampak betul wajah demikian bahagia terpancar di mukanya, yang walau sudah terlihat ada keriput masih nampak jelas goresan-goresan kecantikannya di 30 tahun yang lalu.

Kini umurnya 54 Tahun, namun beliau masih kuat tiap hari mengurus ayam dan itik peliharaannya. Beliau juga rutin datang berjamaah di Masjid kampung kami disetiap azan memanggilnya, serta men tadarrus mushab Al Qur’anya yang pada Pemilu tahun 1999 lalu, ada Calon Legislaif yang menghadiahkannya.

Kujabat tangannya, kucium dan tak sabar aku cepat membuka kantongan baju lebaran buatnya yang aku beli di Jakarta dua bulan lalu. Iya, aku membelinya di Jakarta, karena itu walau kualitas dan harganya sama dengan pakaian di Pasar Butung-rasanya pasti menjadi berbeda ketika itu dibeli di Jakarta, karena ada sebab kenapa anak Bunda membeli di Jakarta serta ada cerita yang membanggakan, minimal bagi Bunda dan orang-orang di kampung yang berdecak kagum akan cerita asal muasal baju itu. Bagiku pun demikian, aku bangga telah mampu membelikan beliau baju, setelah puluhan tahun tak terhitung pakaian yang Bunda belikan dan Beliau tak pernah membanggakannya. Aku harus memberinya sekarang, aku tidak mau menunggu, telah lama baju ini kusimpan dan aku harus memberinya langsung setelah kucium tangannya, yang karena Doa’nya anaknya yang goblok ini telah dianggap sukses dalam ukuran orang-orang yang sudah memakan gaji negara. “Nak, bukan karena harganya, tetapi ini adalah tanda bahwa anakku telah berhasil”, kata Bunda ketika aku berbasa-basi berkenaan dengan harga baju hadiahku yang tidak mahal dan tak sebanding dengan apa yang belia pernah berikan padaku itu.

Sukses bagi mereka, tetapi bagiku tak lebih sebagai buah doa yang tak lepas dipanjatkan di shalat tahujjud Bunda kami yang bersahaja. Aku rindu, sungguh sangat rindu. Melihatnya, terasa aku memiliki identitas. Identitas anak kampung yang lahir tidak karena bantuan perawat kesehatan. Tumbuh besar tidak karena susu ‘sapi’ formula, tetapi beras dari sawah kami sendiri dan dedaunan sayur yang dipetik di halaman rumah panggung kami. Bahkan, maaf sepupuku kusaksikan dikhitam dengan sangat sadis dengan pisau cahile bambu yang diraut tajam oleh puang guru, yang seandainya aku tidak melarikan diri dan bersembunyi hingga magrib saat itu, aku pun akan mengalami hal yang sama. Seandainya di saat sekarang aku masih bocah dan dia juga akan melakukannya padaku, tentu akan kulaporkan ke komisi Hak Azasi Manusia. Bukan apa-apa, dua minggu orang tersiksa berjalan ngangkang dan pastinya begitu menderita karenanya.

***

Ummi masih saja sederhana. Hidupnya, beliau jalani sendiri dengan damai. Duka karena berpulangnya seorang kepala desa sebelas tahun yang lalu, ayah dari kami tujuh bersaudara dari dua Ibu yang mulia. Ibu yang mencintai kami layaknya anak yang lahir dari dua ibu tapi satu rahim yang sama. Kerinduan akan hadirnya sosok penuh wibawa, keras khas Orde Baru dan bijaksana saat menyelesaikan sengketa tanah, perceraian dan penentuan jadwal turun menanam dan pesta panen kembali menyayat kerinduan hati kami disaat lebaran menjelang. Biasanya beliaulah yang di panggil Petta Desa, memberi sambutan di Masjid sebelum khutbah Id dibacakan Puang Guru, anak yang menggantikan Puang Guru sebelumnya yang penah bernafsu mengkhitamku itu. Khutbahnya dalam bahasa lontara Bugis. Saya tahu betul ketika khutbah lebaran akan dibacakan, saya dan mungkin jamaah yang lain pasti akan bergumam dalam hati “pasti salah tanggal”. Gumam yang sudah mendekati keluhan itu beralasan, soalnya apa yang dibacakan khatib tidak pernah berubah isinya dari Kakek, ke Bapak dan kini ke anaknya, turun-temurun. Hanya tanggalnya saja yang berubah dan terkadang itupun salah.

Payah, tapi kami tidak mau protes karena Bapak yang adalah kepala desa disegani itu selalu saja mempercayai Puang Guru yang tidak inovatif itu, seluruh warga desa tidak ada yang berani protes termasuk saya. Nanti setelah beliau meninggal, barulah ada perubahan setelah Kakak tertua kami, sarjana Ilmu Pemerintahan menggantikan Ayah menjadi Kepala Desa. Kakak waktu itu tidak mau jadi Kepala Desa. Apa daya, tradisi turun temuran yang nepotism di era reformasi itu masih berlaku mutlak di desa kami. Pemilihan Kepala Desa sebagai amanat UU No 23 tahun 1999 tentang pemerintahan Daerah kemudian digelar dengan rival tanding yang dipaksakan. Hasil pemilihan, hanya menyisahkan 7 suara yang memilih pesaingnya. Anehnya lagi, pesaingnya justru minta maaf mengapa suaranya bisa sebanyak itu. Yah, sekali lagi inilah demokrasi ala desaku yang juga kini menjadi identitasku. Nasib Puang Guru pun berubah. Beliau lengser dari podium pada lebaran-lebaran selanjutnya. Beruntung beliau, karena indah alunan suaranya dalam melafalzkan ayat-ayat Suci, menjadikan beliau tidak ada yang percaya diri menggantikannya sebagai Imam. Adapun yang menjadi kahatib sudah berganti-ganti karena sudah beberapa anak muda kampung kami telah disekolahkan dan beberapa diantaranya telah mengecap dunia pesantren, setelah sekian tahun lamanya hanya saya dan kakak saya yang menikmati bangku kuliah dan hanya adik saya dan salah seorang anak pedagang yang mampu bersekolah di tingkat SLTA. Jangan Tanya, berapa PNS di kampung kami. Sampai saat ini tidak ada sama sekali.

***

Kini, desa kami telah berubah banyak. Puluhan tahun lalu, warga desa yang hanya menikmati penerangan di malam hari dengan pelita minyak kemiri atau minyak tanah yang membuat hidung kami menghitam karena jelaganya, kini telah berganti bohlan lampu neon dari pembangkit listrik tenaga surya. Genset juga sudah ada sebagai penopang penguat daya yang dikelola masyarakat secara swadaya. Gosip Ibu-ibu tidak lagi hanya persoalan pendapatan anak-anak mereka sebagai TKI di Malaysia dan Arab Saudi tetapi sudah beralih pada alur cerita sinetron Cinta Fitri dan Isabella. Muda-mudi tak kalah serunya, ia sudah mampu memprediksi siapa pemenang KDI dan AFI. Bahkan berusaha mendukung idolanya dengan sms dengan singnal yang timbul tenggelam. Maklum, kampung kami yang terletak di daerah lembah dari pegunungan yang mengapitnya tidak memungkinkan peralatan komunikasi berfungsi baik untung ada anten penguat signal yang diadakan oleh adik saya yang lulusan STM itu. Kini dia berprofesi sebagai pedagang hasil Bumi Kemiri, kacang tanah dan beras. Termasuk makelar pengadaan antene, karena kehendak untuk TKI di Jepang tak kesampaian.

Air yang pada musim kemarau harus ditempuh mendaki 4 kilometer untuk menuju sember air di kaki gunung kini telah diganti dengan pipanisasi air bersih. Jalanan sudah pengerasan dan tidak lagi berlubang-lubang di musim kemarau dan berlumpur di musim hujan . Sewaktu masih SMA, jikalau liburan dan musim hujan tiba, terkadang aku harus menunggu di pinggiran sungai yang membatasi kampung kami dengan kampung sebelah selama dua hari. Derasnya air sungai tidak memungkinkan saya untuk bisa menyeberang. Kini jembatan sudah terbangun. Irigasi untuk mengaliri sawah-sawah juga sementara dibangun. Tak terasa itu hanya dimulai 6 tahun lalu, dan kini sudah dinikmati. Mungkin itulah bedanya Kepala Desa Orde Baru yang berpikiran ortodoks seperti Bapak saya dan Kepala Desa Reformasi yang masih muda seperti kakak saya. Kakak saya berumur 27 tahun ketika menjabat sebagai kepala desa.

***

Berbagai perubahan telah terjadi, yang tidak berubah hanyalah hasil dari mekanisme pemilihan Kepala Desa. Setelah Kakak terpilih sebagai Legislator Kabupaten dengan suara terbanyak di Partainya. Pemilihan kembali digelar sebelum Pemilu Legislatif 2009 lalu dilaksanakan. Karena tidak ada yang mau jadi kepala desa, terpaksa Istri dari kakak saya bertarung dengan mantan kepala desa yang juga suaminya. Aneh, dan ternyata hasilnya dimenangkan oleh istrinya. Sang Suami hanya mendapatkan 11 suara. Persis sama dengan angka pada urutan nomor Calegnya. Sekali lagi ini bukan sesuatu yang direkayasa dari kami, tapi rakyatlah yang memodifikasinya. Sungguh demokrasi di desa kami kacau buaanget.

Semua berubah, namun Ummi masih tetap bersahaja. Tidak berubah. Anggota DPRD baginya mungkin hanya dianggapnya sebagai pekerjaan biasa. Yah, mirip-miriplah PNS. PNS juga tidak beliau banggakan. Sebenarnya Ummi kami dulunya adalah seorang PNS Guru Agama yang harus mengundurkan diri sebelum bertugas karena diminta Etta untuk mundur dan memilih mengiikutinya sebagai Kepala Desa dan mendidik anak-anaknya yang nakal. Ummi malahan menganjurkan kami untuk berdagang saja supaya bisa membawanya ke tanah suci. Soalnya pedagang di desa kami adalah yang memonopoli status haji, dan beliau sampai saat ini belum mampu kami hadirkan untuk memenuhi panggilan Allah untuk berhaji. Salaamu Alaika Ya Rasul, Rindu kami berziarah ke Makam mu, Tetapi bahkan Ibu tua yang pemberiannya tak pernah ingin berbalas, belum mampu kami penuhi kerinduannya. Semoga Allah menyatukan potensi kami, dan air zam-zam dapat kami nikmati langsung dari tangan Bunda yang di dada sanubari kami bersaudara, terpahat abadi kemuliaan namanya.

Catatan ini adalah realita yang sedikit di bungkus dengan kesan hiperbola, hanya untuk menggabarkan santai, cinta sang Bunda, kesan disaat mudik, demokrasi yang kacau dan sisi perubahan di sebuah desa kecil di daratan tertinggi Kabupaten Bone. Desa yang terletak di daerah perbatasan kabupaten Gowa, Maros dan Sinjai. Terpencil, bergunung dan sangat dingin. Itulah kampung kami, tempat kami sekeluarga bersenda gurau di saat mudik. Maka benarlah bahwa Surga itu ada di telapak kaki Ibu, Energi untuk berubah lebih penting dari perubahan itu sendiri dan Demokrasi itu tidaklah berlaku universal

AKU TAK MALU IBU KU PENJUAL MADU

Bunda menelponku, beliau menelpon anaknya untuk menyapa dan memberi tahuku bahwa Ia akan ke kota untuk menemui Bibiku, yang adalah saudara tertua Ibuku. Dari seberang sana, kampungku yang berjarak sekitar 200 km dari rantau kota kecilku saat ini, kudengar suara bersahajanya yang selalu aku rindu disetiap saat, setiap hari, usai kupanjatkan doa buatnya di sujud terakhirku , di shalat magrib ku.

Nak, bagaimana kabarmu. Saya akan menemui Puang Ros mu di Palattae”, ujar Bunda di balik telepon selularnya yang seharga tiga ratus ribu itu, beliau beli bulan lalu dari gaji pensiun jandanya. Saya hanya membalas singkat dan mengatakan kabarku, cukup dengan mengucapkan hamdalah, pertanda kabarku baik dan tak perlu dikhawatirkan oleh beliau.

saya mau membawakan madu buat Puang Ros mu, sekarang musim madu, saya membelinya seharga Rp. 40.000 per botol dan rencana akan kujual Rp. 50.000” ujarnya menambahkan. Aku mendengar saja penjelasannya yang begitu bersemangat, dan sesekali kutimpali dengan perbincangan-perbincangan ringan. Dalam hatiku ada sesuatu yang miris, sedih tetapi sangat bangga. Bunda yang kini sudah janda dan cukup tua, memiliki tiga putra yang sudah mampu membantunya setiap saat beliau memintanya, memiliki gaji pensiun janda dari almarhum Ayahku yang cukup buat dirinya sendiri, bahkan Beliau telah melahirkan diriku yang sekarang digaji oleh Negara setara eselon II sebagai pejabat Negara kontrakan (baca adhock), Kakakku yang tertua adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat dan adikku adalah pedagang hasil bumi yang terbilang sukses di kampung. Belum lagi menantunya adalah Kepala Desa, yang tentu adalah numbere uno di desaku.

Beliau tetap saja seperti dulu. Tetap mandiri dan tidak ingin bergantung kepada siapapun, termasuk kepada anak kandung yang telah ia besarkan dengan susah payah dengan kondisinya saat itu yang sangat tidak cukup. Kini setelah anak-anaknya berkecukupan, tetap saja beliau tidak pernah berhenti berjuang. Saat musim madu tiba seperti di kemarau saat ini, beliau mengumpulkan madu dari para petani untuk dijualnya. Ketika musim panen, aku dan saudaraku yang lain tak mampu menghalanginya ketika beliau turun ke sawahnya tetangga untuk turut memanen dengan harapan mendapat upah yang tak seberapa, saat masa bertanam tiba, itiknya sudah bertelur banyak dan beliau menjualnya di pasar. Demikian pula beliau tidak pernah berhenti pada saat hari pasar untuk menjual gula merahnya di desa tetangga. Beliau berjalan kaki usai menjalankan shalat subuh sejauh 4 kilometer dari desaku.

Ummi, ini untuk siapa. Mintalah kepada kami kalo Ummi membutuhkan uang belanja” kataku suatu ketika. Air mataku berlinang saat itu, ketika kulihat bundaku pulang dari pasar dengan peluh yang mengucur dari rambutnya yang sudah mulai beruban. Sama sekali tak kulihat wajah lelah di mukanya. Beliau hanya tersenyum kemudian menjawab dengan sederhana.

Saya senang kalau ada yang saya kerja, walau untungnya tipis saya bisa membeli barang yang saya butuhkan”.

Kalau anakku mau memberiku uang saya pun bahagia, karena itu berbeda dengan untungku menjual gula merah dan madu

Sungguh, akupun tidak tahu itu semua untuk siapa. Beliau tidak ingin dilarang, Ummi panggilanku kepadanya, pernah mengatakan bahwa aktifitasnya kini tak lebih sebagai hiburan, karena katanya kami semua anak-anaknya sudah mampu dan tak lagi perlu beliau biayai. Dulu beliau berdagang untuk sekolah kami, untuk dapur yang harus selalu mengepul dan untuk harga diri bahwa meminta itu adalah mentalitas pengemis yang memalukan.

Sedapatnya kalian memberi jikalau nanti sudah mampu berusaha, sangat memalukan orang yang meminta-minta pada orang lain. Biarpun itu adalah keluarganya sendiri. Belum lagi jikalau harus berutang. Memalukan !” Itu kata pamungkasnya setiap saat beliau menasehati kami yang goblok ini tentang keharusan berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. Ternyata kini, prinsipnya tentang berdiri di atas kaki sendiri masih beliau pegang teguh. Bukan beliau tidak berharap bantuan dari anak-anaknya, beliau bahkan sangat bahagia ketika sebahagian gaji pertamaku kuserahkan padanya. Ketika kuberikan saat itu, beliau hanya tersenyum kemudian diam. Aku tahu ada yang ingin diungkapkan, tapi Emmi tak mampu. Beliau kemudian masuk kamar, sejenak kemudian beliau keluar dan nampak betul Emmi barusan menyeka air matanya. Air mata haru bahagia, anaknya kini sudah mampu memberinya uang setelah hampir lebih dari 20 tahun Ia membiayainya dari gaji PNS ayahku dan tambahan laba jualan darinya.

Bunda, sungguh mulia hatimu. Wajar jikalau setiap hari kami anak-anakmu merindukanmu. Tulus Do’a mu, dan ikhlas ikhtiarmu kini menjadikan kami sesuatu yang mungkin diharapkan oleh banyak Ibu sepertimu. Engkau tidak pernah menampakkan kebanggaan kasat mata terhadap kami, Bundapun hanya meminta jikalau untuk sekolahnya si Bungsu di SLTA yang sangat nakal itu membutuhkan tambahan biaya. Hidup sederhana dan bekerja keras, ternyata masih Bunda tampakkan. Bahkan ketika saat ini harusnya beliau tak bekerja lagi. Ada makna yang tersirat bagi kami, bahwa Bunda kami yang sangat bersahaja ini, tak ingin menyia-nyiakan waktunya sedetikpun tanpa sesuatu yang bermanfaat. Beliau ingin mengajarkan, bahwa usia bukan alasan untuk berhenti karena kematian adalah penutup segalanya.

Walau Engkau pernah mengajarkan bahwa janganlah meminta kepada Allah agar umurmu di perpanjang, karena itu berarti kau tidak bersyukur dan takut mati, saya ingin mengabaikan nasehatmu ini Bunda. Aku sangat ingin melihat bunda Hidup terus sepanjang diri ini masih dikaruniai nafas oleh Sang Khalik. Yang Allah, panjangkan umur Ibu ku yang mencintaiku dan memberi tanpa berharap terbalas, kasihani beliau, curahkan lah rahmatmu agar surga di telapak kakinya untuk kami anak-anaknya beliau dapatkan ketika ia menghadap di keharibaan Mu.

Ummi, aku pesan 10 botol madu dan 30 biji gula merah, datanglah ke rumahku, ongkos transport saya tanggung, termasuk biaya pembuatan gigi palsu ta. he…he….” Aku menutup pembicaraan dengan salam, setelah sebelumnya aku memintanya menjaga kesehatan. Aku berpikir setelah nya, untuk apa madu dan gula merah sebanyak itu, akh yang penting aku berusaha menyenangkannya.

Sudah mi Pale dih Nak, walaikum musalam…….”. tinggallah saya merenung di kantorku, setelah berbincang sejenak dengan beliau siang itu. Ya Allah, berilah semua anak di dunia ini seperti kesejahaan, cinta dan kemadirian yang dimiliki Ibuku. Jadikan mereka berbangga dengan ibu yang membaluti kesehariannya dengan cinta tak berbatas terhadap anak-anak yang dilahirkannya. Hukumlah mereka yang tak menghargai Ibunya. Hukuman yang sekeras-kerasnya. Ibu, tak ada bahasa yang mampu mewakili rasa hormat dan cintaku buatmu.

Bantaeng, 5 Oktober 2008

Catatan ini, adalah cerita seseorang yang demikian mencintai Ibunya dan selalu menjemput hikmah dari kejadian-kejadian kecil. Menceritakan sesuatu yang baik, memang tidak perlu menampilkan keburukannya. Biarkan yang baik-baik itu tampil sebagai wasilah bagi yang membacanya agar lebih baik. Belum terlambat, kita mencinta Ibu kita. Lebi Cepa’ Lebi Bae’. jikapun beliau telah tiada Doa dan mencintai orang-orang terdekat semasa hidupnya adalah sesuatu yang diajarkan Rasulullah untuk berbakti kepada orang tua, bahkan ketika beliapun telah berpulang.