02 Mei 2011

Ramuan Judul Pemikat Tulisan

Tidak perlu membaca seabrek teori agar pembaca terpikat dengan karya tulis Anda. Anda hanya butuh keahlian meramu judul. Bahan ramuan tak harus dicari di rimba belantara atau pada kedalaman samudera, tidak juga pada dukun pelaris. Judul ada pada diri kita, pada benak yang menyimpan sejuta inspirasi. Pada ide yang kadang melintas begitu saja.

Aha! Betapa anggun mahkota Kate Middleton, saat Pangeran William menggandengnya menuju altar pernikahan, berjuta mata tertuju padanya. Iya, Judul adalah mahkota pemikat. Judul adalah kulit pembungkus isi, cadar putih transparan seperti yang dikenakan Kate di gaun pengantinnya. Semua ini hanya ibarat, karena judul bisa dipersepsikan apa saja. Judul pada intinya adalah sesuatu yang mudah diingat, dikenal, juga dikenang pada sesuatu yang pernah dilihat dan baca.

Semua dari kita menyukai sesuatu yang menarik, mengemuka, sederhana, padat dan singkat. Jikalau ingin tulisan Anda dibaca keseluruhan isinya, tentu tidak cukup dengan rangkaian kata yang memikat saja, tetapi juga judul yang menggabarkan isi dan tentu tidak menipu.

Sayang, jikalau pembaca Anda lari, karena judul yang Anda hidangkan sulit dicerna – tak dipahami. Sebaik-baiknya isi tulisan, tak akan dilirik banyak orang jikalau dari judulnya saja sudah membuat kening pembaca berkerut. Ingat, kita sementara tidak membahas judul penelitian ilmiah. Judul yang sementara ingin kita pelajari, adalah judul dari karya tulis bebas.

Anda ingin tahu? Berikut berapa trik yang bukan dari buku teori menulis, tetapi dari pengalaman saya sebagai pewarta warga (citizen journalism). Apa itu pewarta warga? Saya juga belum tahu persis. Citizen journalism adalah istilah yang disematkan pada seseorang yang bukan penulis atau wartawan professional. Saya hanya penulis, yang menulis karena hobby dan ingin berbagi manfaat.

Anda jangan heran, jikalau trik menulis saya kampungan, karena memang saya adalah penulis kampungan. Penulis yang senang menulis tentang kesehajaan kampung. Sesuatu yang alami dan tidak banyak neko-neko.

Eits,….Jangan berhenti membaca, nikmatilah tips ramuan pemikat di bawah ini, jikalau Anda ingin terperosok sebagai penulis kampungan seperti saya.

Menarik dan Aktual

Judul adalah mahkota tulisan. Perlu dibuat semenarik mungkin untuk memancing minat pembaca. Judul yang menarik bagi semua orang adalah barisan kata yang bisa mewakili keingin tahuannya terhadap apa yang disenangi. Anda tahu apa yang disenangi semua orang? sex dan uang.

Sex pasti akan menarik, karena semua manusia membutuhkannya, demikian pula dengan uang atau harta secara umum. Sanrego; Khasiat Perkasa Kuda Jantan , demikian judul yang pernah saya tuliskan. Tulisan ini di kunjungi banyak pembaca saat terposting di kompasiana. Kompasiana adalah salah satu portal kompas.com. Bukan lelaki normal yang tak menginginkan keperkasaan, juga bukan perempuan yang justru bermanja dengan keloyoan. Bukankah demikian?

Ingin Kaya!? Jangan Jadi PNS, adalah judul yang berangkat dari keheranan saya akan berjubelnya pendaftar PNS setiap tahun. Tulisan ini saya posting, saat masa pendaftaran PNS. Selain bernilai aktual, judul ini, juga disenangi karena berkait dengan harta. Semua dari kita menginginkan kekayaan, karena harta inheren dengan kehidupan.

Jujur, sebenarnya saya pernah sedikit menipu dengan judul bombastis; “Citra Mesum, Berganti Geliat Cakar Impor”. Page view tulisan ini melonjak di kompasiana.com, tetapi yang berkomentar sedikit. Kenapa?

Postingan saya di kompasiana itu bergaya reportase. Saya ingin mengabarkan bahwa di Pantai Seruni Bantaeng, ada yang namanya ‘cakar’. Cakar atau Cap Karung tentu tidak akrab di daerah lain, karena hanya diistilahkan di Sulsel. Setiap malam minggu di sepanjang tanggul di Pantai Seruni, hanya dijadikan muda-mudi memadu kasih. Setelah adanya pedagangan pakaian bekas impor ini, citra mesum itu berubah menjadi hiruk tawar-menawar.

Citra Mesum, hanya sedikit saya singgung, karena memang bukan itu poinnya. Walau demikian, tetap saya berusaha memberi kabar, bahwa program pemerintah Bantaeng ini cukup jitu menghindari keremangan Pantai Seruni, menggerakkan ekonomi rakyat, dan yang lebih penting meredam gejolak nafsu dua insan yang dibuai asmara tak bermuhrim.

Mewakili dan Tak Menipu

Jangan terpaku pada keindahan judul, karena bisa jadi itu menipu. Sangat banyak judul-judul di internet yang bombastis tetapi isinya kosong. Setiap kali kita membuka internet, pasti ada pancingan judul bertema sex. Saya menyebutnya judul ‘berlendir’. Judul tentang bagaimana mendapatkan uang dengan mudah juga sangat banyak.

Judul bombastis ini dimaksudkan penulisnya agar blognya banyak pengunjung. Rating pengunjung yang meningkat akan mendatang iklan di sana. Iklan itulah yang akan menjadi sumber penghasilan pemilik blog dengan menjual postingan bertema sex. Ada juga yang sengaja menulis tema sex dengan maksud untuk menggiring pembaca pada tawaran bisnis yang bisa jadi juga menipu. Hati-hati, jika di klik terkadang judul seperti demikian mengandung virus komputer. Judul berlendir, biasa pula sekadar iseng dari penulisnya.

Anda tahu, apa isi dari judul Sanrego Berkhasiat Perkasa Kuda Jantan? Saya hanya ingin mengabarkan bahwa di Sulawesi Selatan ada juga tumbuhan herbal keperkasaan, yang tentu tak kalah hebat dengan pasak bumi atau batu jahannam. Ramuan Sanrego ini hanyalah jamu yang dicipta dan di patenkan oleh Ilmuwan Unhas. Mempromosikan Sanrego, adalah untuk mengenalkan Sulsel, member manfaat penggunanya. Lebih penting lagi saya ingin memberitahu, bahwa saya besar di perkampungan yang bernama Sanrego, yang terletak di Kabupaten Bone.

Judul saya tidak menipu, hanya memancing. Isinya pun bermanfaat, menarik dan unik. Penilaian itu bukan dari saya, tetapi menurut pembaca yang berkomentar di tulisan itu. Judul yang tak mewakili isi, mungkin saja tidak bakal dibaca tuntas oleh pembaca. Reputasi kita sebagai penulis juga akan turun. Maksud penulis adalah untuk tulisannya dibaca. Membuat judul tak berkait isi, hanya akan mengurangi pembaca setia pada tulisan berikutnya.

Singkat Tak Menyiksa

Anda tidak sementara membuat karya Ilmiah, walau isi tulisan anda Ilmiah. Judulnya pun perlu dibuat agar tak menyiksa pembaca. Terkadang baru judul yang dibaca, kepala sudah dibuat pening. Saya ingin mencontohkan satu judul: “Esensi dari Hakikat Fungsi Mahasiswa dalam Ekspektasi Publik

Belum isinya, judulnya saja sulit dicerna. Lalu apa maksud kita menulis. Apakah kita ingin dikatakan hebat dan ilmiah dengan banyaknya serapan bahasa asing? Tentu, maksud menulis adalah untuk menyenangkan pembaca, tidak justru meribetkan pikirannya. Menulis tidak sekadar aktualisasi, tetapi juga buat berbagi manfaat. Kemampuan menyederhanakan dan menjinakkan bahasa adalah penting, agar maksud tersampaikan.

“Kesederhanaan adalah kekuatan”, demikian kata Jack Trout. The Power of Cimplicity, adalah judul bukunya yang sampai hari ini masih saya ingat. judul itu singkat, padat dan menarik. Isi buku itu sebenarnya ‘berat,’ tetapi penulisnya merangkai kalimat dengan lugas. Membaca judulnya saja, kita sudah terpancing menyelami isinya.

Trout, banyak membahas tentang rangkaian kata dalam visi perusahaan atau Negara. Ia banyak menemukan kata-kata rumit dengan arti yang berulang. Kesannya memang ilmiah, tetapi hanya dipahami oleh beberapa kalangan. Gaya jurnalis adalah gaya bahasa awam, informative dan memikat. Ingat, maksud menulis untuk dibaca. Agar terbaca, jinakkanlah bahasa. Buatlah kalimat itu membumi dan dipahami umum.

Judul; Dimana Bermula?

Judul pastilah bermula dari ide yang kita ingin tuliskan. Pertanyaannya, apakah harus membuat judul dulu baru mulai menulis atau nanti setelah tulisan kelar. Bebas! Anda bebas menentukan kapan Anda mulai meramu rangkaian kata untuk judul. Boleh di awal, tengah dan di akhir. Andalah tuan dari tulisan Anda.

Jikalau tulisan adalah patung dan pena alat ukir, maka kata-kata adalah bahannya. Judul adalah Mahkota yang memiliki kekuatan magis untuk memikat pembaca melirik isinya. Mahkota bisa dibuat sebelum keseluruhan patung selesai dipahat. Bisa pula saat kita jedah di pertengahan dan tiba-tiba inspirasi melintas. Pula bisa Anda selesaikan setelah semua tulisan rampung.

Sekali lagi, Anda bebas menentukan judul. Bagaimana dengan saya? Saya terbiasa membuat judul lengkap setelah tulisan saya rampung. Judul awal hanyalah penanda ide untuk memancing saya menagalirkan kata demi kata. Judul yang saya buat di awal, kadang malah membuatku terkungkung. Terbatasi dengan judul yang telah saya buat.

Jikalau di pertengahan – saat saya sementara menulis ispirasi judul itu muncul. Saya berhenti dan menuliskannya, biar tidak terlupa. Inspirasi yang melintas begitu saja, sebenarnya memiliki kekuatan kata karena terbersit dari imajinasi alami kita. Tapi jangan terjebak dan menunggu, biarkan ia muncul begitu saja. Kalaupun tidak muncul, bacalah ulang tulisan Anda yang tak berjudul itu, pasti akan ditemukan judul yang mewakili isi.

Anda ingin membuktikan keampuhan daya pikat judul Anda? Mulailah menulis. Menulis apa? Tentang apa saja. Anda bebas dengan tulisan Anda, bebas yang diikuti tanggung jawab tentunya, ketika tulisan itu diperuntukkan ke public. Bukan judul tanpa isi, karena itu jangan terjebak dengan judul. Judul tidak lebih sebagai pemanis, tetapi kopi pasti akan terasa sangat pahit tanpa gula.

Tulisan saya hanyalah pengalaman, tiada maksud untuk menggurui. Menulis bagi saya hanyalah hobby, sekaligus terapi untuk melepaskan, mencurahkan, sekaligus kadang menghempaskan ide yang menumpuk di benak. Karena hanyalah sebagai hobby, menulis bagi saya tidak jauh dari keinginan untuk memuaskan diri dan pembaca dengan berbagi manfaat bersamanya.

Bantaeng, 2 Mei 2011

Tulisan Terkait

Kearifan Tangga Morowa, Secantik pramugari Makassar Tidak Kasar, Rahasia Perjalanan Dinas legislator , Tulisan kompasianer dikutip Media Lokal, Eremerasa Bersumber Mata Air Pegunungan,Wisata Mistis di Gua Batu Ejayya, Pedas Barobbo Berpadu Hijau Alam Dapoko, Bersama pallu Kaloa Serasa pulang kampung (juara), Berbagi kesan Traumatik, Bank dalam Citra Rentenir Resmi(nominator), Iklan Pemerintah Terbang terbawa Angin, Dengusan Jantan Kuda Prabowo, Janji Lucu Pak Beye, Bantaeng Memancing menteri Menatap Bali, Nama Jawa Bertabur Indah di Makassar, Membuang Penat di Pantai Lambocca, Sensasi Berburu Escolar Di Lepas Pantai Bira, Aku Tak Malu Ibuku Penjual Madu

01 Mei 2011

Diskusi Jurnalistik Menyambut Hardiknas di Baling-Baling

Menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Warkop Baling-Baling menggelar Diklat Jurnalistik Pemuda mulai dari tanggal 1-2 Mei 2011. Inisiator acara, Ir. Arfan Doktrin, menjadikan kegiatan yang rencananya berlangsung selama dua malam ini, sebagai media bagi anak muda Bantaeng untuk berkreasi lewat tulisan.

Kegiatan ini, bagian dari sumbangsih kita terhadap Bantaeng. Saya berharap diklat ini bisa menghasilkan penulis atau wartawan yang dapat mencitrakan Bantaeng. Jikalau bisa, setelah acara ini kita buat buletin khusus yang wartawannya adalah peserta diklat,” kata Arfan dalam sambutan pembukanya.

Andi Harianto yang bertindak sebagai moderator, menjelaskan keterkaitan antara Hardiknas, jurnalistik dan Pemuda. Menurutnya, Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan adalah penulis dan wartawan yang hebat. Ki Hajar telah menulis di berbagai media saat Ia masih berusia sangat muda.

Tulisan-tulisan Ki Hajar, telah terbit pada enam media dizaman Hindia Belanda. Umur beliau ketika itu 24 tahun. Lewat tulisan, Ia berjuang memajukan pendidikan pribumi. Hardiknas, jurnalistik dan Pemuda adalah sesuatu yang berkait,” ungkap Harianto, menjelaskan momentum acara ini.

Diklat yang dirancang dalam bentuk diskusi ringan ini, dihadiri 23 peserta yang diundang secara terbuka melalui facebook. Eka Nugraha, adalah salah satu fasilitator yang pada malam itu (1/5) memaparkan kaidah dasar jurnalistik. Eka yang juga wartawan Harian Fajar, Biro Bantaeng, banyak mengulas tentang pengalamannya sebagai reporter.

Dalam paparannya, Eka menjelaskan pentingnya 1 S (savety), selain 5W + 1 H yang menjadi prinsip penulisan berita. Menurutnya, syarat savety atau amannya berita bergantung pada terhindarnya opini wartawan dalam liputannya, juga pada sumber berita yang berimbang Opini dalam penulisan berita harus dihindari, karena wartawan hanya menuliskan apa yang dilihatnya berdasarkan sumber yang terkait dengan berita. Konfirmasi ke sumber sangat perlu dilakukan,” jelas eka.

Selain berkenaan dengan prinsip dasar menulis berita, Eka juga menjelaskan bagaimana membuat kepala berita, membuat judul yang menarik, aktual dan bernilai berita. Eka banyak memberi contoh berita yang pernah Ia tulis, salah satu di antaranya tentang kasus penculikan dan pemerkosaan anak yang lagi marak di Bantaeng. Pelaku Diduga Memakai Ilmu Hitam, adalah judul yang pernah ditulisnya di Harian Fajar.

Menurut Eka, berita itu mengambil sudut pandang pada pelaku yang diduga memakai Ilmu hitam. Tulisan itu membuat opini masyarakat berubah dan tidak hanya terpaku pada kinerja polisi yang belum mampu mengungkap pelakunya. “Wartawan adalah penentu opini masyarakat, makanya wartawan harus membuat berita yang benar,” ungkap Eka menyinggung sisi lain penculikan anak di Bantaeng.

Peserta diklat cukup antusias. Acara yang berlangsung mulai pukul 20.00 s.d 23.00 WITA ini, melahirkan banyak pertanyaan dan diskusi. Muhammad Anwar, salah satu peserta menyinggung prilaku wartawan yang citranya buruk. “Wartawan itu ditakuti, buktinya banyak pejabat yang bersembunyi ketika ada wartawan”, singgung Anwar melihat maraknya fenomena wartawan “bodreks” yang ditengarai biasa hanya memeras sumbernya.

Peserta lainnya, mempertanyakan bagaimana tips menulis yang baik. “Saya terkadang hanya mampu menulis satu paragraph, tetapi setelah itu buntu, bagaimana cara agar kita bisa menulis dengan lancar,” Tanya Asri, yang dalam perkenalannya ingin menjadikan menulis sebagai hobbi baru.

Pertanyaan ini dijawab Eka dengan menceritakan pengalaman menulisnya. Eka yang tidak pernah mengecap pendidikanilmu komunikasi ini mampu menulis berlembar-lembar setiap hari. Selain Eka, Harianto sebagai moderator dan Syahrul Bayan, Mantan Kabag Humas Bantaeng sebagai salah satu inisiator kegiatan, juga berbagi pengalaman menulis dalam diskusi itu. Harianto sebagai moderator menginformasikan, bahwa trik menulis, akan dibahas medalam pada materi malam berikutnya (2/5).

Di akhir acara, Arfan Doktrin sebagai inisiator dan juga pemilik Warkop Baling-Baling ini, mengusulkan agar setiap peserta membuat berita tentang acara diklat itu sebagai bahan latihan. Peserta juga menyepakati di buatnya Group Facebook “Bantaeng Menulis” sebagai wadah memposting tulisan, juga media saling berbagi informasi tentang tips-tips menulis.